Mujahid adalah orang yang berjuang dijalan Allah
Teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut. Pertanyaan apakah Amrozi dkk adalah orang-orang Mujahid ataukah Teroris?.. masih saja tersisa walaupun mereka telah menjalani eksekusi hukuman Mati, Dini hari tadi, 9 Nopember 2008 jam 00.15 (Innaa lillaahi wa innaa illaaihi roji’un)
Berkenan dengan pertanyaan yang masih “menggantung” tersebut ada istilah istilah yang berkaitan yaitu :
Pahlawan adalah orang yang berjasa pada negara dan bangsa
Musuh adalah orang yang melakukan tindakan-tindakan yang bertujuan untuk melawan bahkan menghhancurkan keberadaan sebuah negara atau bangsa.
Kenapa saya sampaikan ini adalah kata-kata yang berkaitan? Yah.. karena kedua kata tersebut apakah mujahid ataukah teroris sering digabungkan dengan tujuan agar dapat menjadi “pahlawan” ataupun akhirnya dianggap sebagai “musuh”
Kembali lagi bagaimana seorang disebutkan Pahlawan? Dan Bagaimana seseorang akan di”cap” sebagai musuh bangsa.? Ini adalah suatu hal yang sangat subyektif. Tergantung dari sisi mana kita berada.
Seorang Soekarno…, Seorang Panglima Diponegoro, seorang Cut Nyak Dien dan lain-lainnya yang telah benar-benar mendapatkan penghargaan dan gelar sebagai pahlawan bangsa bagi bangsa Indonesia ini, masihkan akan mendapatkan gelar yang sama ataukah malah gelar sebaliknya jika dilihat dari sisi sang penjajah… bangsa Belanda.. yang saat itu menjajah negara Indonesia ini? Yah.. begitulah.. tidak ada satupun kebenaran yang mutlak benar.. jika kita masih berada dalam kepentingan kita sebagai manusia, sebagai bangsa, sebagai negarawan.. dsbnya.
Waktu saya kecil, almarhum ayah.. selalu bicara.. dan menyuruh saya untuk melihat apapun dari berbagai macam sudut, sebelum membuat sebuah kesimpulan. Dan tidak pernah memandang rendah… asal muasal kebenaran muncul. Bahkan beliau juga selalu menyarankan untuk mau mengadaptasi kebenaran jika memang kebenaran tersebut adalah kebenaran yang HAQ, (yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al Hadist) tanpa sekalipun mempertimbangkan asal kebenaran.
Contoh sederhana adalah.. jika suatu ketika.. kita membuang sampah tidak pada tempatnya, dan diingatkan oleh anak yang masih balita…, tidak sepantasnya jika kita tersinggung dan berargumentasi yang bertujuan memojokkan sang anak.
Contohnya lagi : Tukang Koran Langganan saya… selalu berusaha mengembalikan uang pembayaran koran.. walaupun hanya Rp 100,- saja. Sungguh ini sebuah contoh kejujuran dan rasa penghargaan terhadap diri sendiri yang demikian kuat, yang selalu saya coba teladani. Sungguh berbeda dengan kebanyakan toko dan pasar swalayan.. yang seringkali.. “meniadakan” kembalian yang bernilai rupiah kecil, padahal jika kita coba kalkulasi.. dalam hitungan hari, dalam hitungan bulan, dalam hitungan tahun, berapa banyak “uang tak bernilai” yang mereka kumpulkan? (Suatu program pengumpulan pembulatan pembayaran… di sebuah toko swalayan,.. dan akan digunakan dalam rangka dana amal dalam waktu yang relatif singkat, terkumpul sejumlah uang yang totalnya mencapai pulahan milyard… subhanallah)
Jika saya gabungkan semua apa yang saya tahu dengan keberadaan Amrozi CS… Pada psinsipnya…tetap sama, yaitu jika kita mengganggapnya sebagai Mujahid.. sisi mana dalam diri kita, sebagai manusia yang bicara dan menyampaikan pesan bahwa mereka adalah mujahid?. Jika kita bicara bahwa dia adalah teroris… hmm sama.. dari sisi mana kita melihat apa yang dilakukannya. Dengan demikian terus-terang saya lebih suka bicara Wallahu Alam… (Hanya Allah yang Tahu semua kebenaran ini)
Yang terpenting.. adalah bagaimana saya melihat ini sebagai sebuah kejadian yang harus saya coba telaah dengan sebaik-baiknya… melihat sisi baik yang dapat saya ambil dan adaptasi kemudian membuang sisi lain yang sekiranya.. (menurut saya) tidak memberikan sisi positif. Dan dalam membuat sebuah keputusan…. kembali lagi… kita harus tetap berpegangan pada apa yang HAQ.. yaitu Al-Qur’an dan Assunah.
Menurut saya sisi positifnya adalah… begitu yakin dan bersemangatnya mereka atas apa yang dilakukan adalah berdasarkan “KEYAKINAN MUTLAK akan KEBENARAN dalam ISLAM” Hmm yang jujur.. belum dapat saya lakukan… saya masih banyak menimbang.. “Apa kata Orang”.. saya masih sering mempertanyakan.. jika ada bagian-bagian dari Al-Qur’an dan Al Hadist yang tidak sesuai dengan pertimbangan akal saya sebagai manusia… (Ya Allah ampunilah saya…) Sayapun.. kurang Keukeuh… jika melakukan apa yang menjadi keharusan dan apa yang menjadi larangan bagi saya, sebagai umat Islam… (Ya Allah… begitu rendahnya aku dengan kadar keyakinanku…)
Sisi negatifnya.. (maafkan aku ya Allah yang telah lancang berani menilai hambaMU).. saya kurang setuju dengan sikap yang (menurut saya) kurang santun.., bicara dengan nada yang begitu keras.. dengan tutur bahasa yang tajam… (Huff saya juga sering melakukan hal yang sama ya Allah… maafkan aku ya Allah) Ketika menyampaikan kebenaran itu.. Sehingga (mungkin) akhirnya.. apa-apa yang niatan baik untuk disampaikan tidak dapat disampaikan dengan baik..(kesannya Arogan.. dan begitu percaya diri bahwa.. semua yang dikerjakan benar belaka.. tanpa memperhitungkan beban batin para korban yang mendengarnya) bahkan menimbulkan antipati. Padahal dalam Islam… Akhlaqtul Kharimah adalah yang terpenting… bukankah.. Nabi Muhammad saw pernah mengatakan; “Beliau diutus untuk memperbaiki Akhlaq manusia”
Nabi Muhammad dengan Akhlaqnya yang sangat muliapun.. pergi berperang… dengan sikapnya yang sangat menghargai orangpun.., tetap membela kebenaran Islam.. Tetapi.. Nabi Muhammad sanggup meletakkan dirinya.. sebagai seorang Pahlawan, seorang Mujahid sekaligus sebagai seorang musuh yang sangat disegani dan dihormati bahkan disayangi oleh musuh-musuhnya… Subhanallah….
Bahkan Hingga kini… setelah ratusan tahun beliau tiada.. nama beliau tetap berada diperingkat teratas dari 100 orang yang sangat berpengaruh terhadap dunia… (Semoga segala kebaikan, Kasih sayang dan Rahmat Allah tercurah pada junjungan kita, Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabatnya.. Amin Ya Rabbil Alamin)
Sungguh Hanya Nabi Muhammad saw lah.. kita meneladani sikap seorang Mujahid Sejati… Insya Allah… Allahu Akbar…






Wallahu Alam… kebenaran semata hanya milik Allah… Al Malik
Wallahu Alam… Hanya Allah yang Tahu.. segala yang ada dilangit dan dibumi..
Wallahu Alam,.. Segalanya Kebenaran Hanya bersumber pada Allah semata… Manusia penuh salah.. dan tidak mengetahui apapun
Amin… Semoga Allah… menijabah.. keinginanmu sahabat
Amin… Hanya DIA yang tahu semua yang ada di langit dan di bumi.. tidak ada satupun yang mampu menyembunyikan apa yang sudah jadi kehendakNYA… Dan Hanya KepadaNYA kita berserah serta berharap. Amin
Hanya Allah pemegang semua keadilan… manusia sangat terbatas untuk hitungan adil ataupun dzholim..
Amin.. Laa haula walaa quwata illaa billah..Berilah kekuatan pada semua yang ditinggalkan…
Thx untuk infonya….
Wallahu Alam… pandangan dan pendengaran manusia bisa menipu.. Kebenaran di atas kebenaran, Kebenaran yang Haq hanya milik Allah… tak kan sanggup kita manusia menandingiNYA…
Hmmm beritanya memang begitu… benar atau salah… Wallahu Alam,..
Wallahu Alam.. Hanya kepada Allah kita berserah diri… Allah yang mengetahui apapun yang tersembunyi..
wallahu a’lam
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, menjelaskan tentang hukum perkataan
“fulan syahid”, dalam kitabnya Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia
Majmu Fatawa, Bab Aqidah.
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : “Apa hukum perkataan,
‘fulan Syahid ?’.
Jawaban.
Jawaban atas hal itu adalah bahwa seseorang dikatakan syahid itu dengan dua
sisi yaitu :
Pertama.
Hendaknya terikat dengan suatu sifat, seperti : Dikatakan bahwa setiap orang
yang dibunuh fisabillah adalah syahid, orang yang dibunuh karena membela
hartanya adalah syahid, orang yang mati karena penyakit thaun adalah syahid
dan yang semacamnya. Ini adalah boleh sebagai mana yang terdapat dalam nash,
dan karena kamu menyaksikan dengan apa yang dikhabarkan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang kami maksud boleh adalah tidak dilarang.
Jika menyaksikan hal itu, maka wajiblah membenarkan khabar Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kedua.
Menentukan syahid bagi seseorang, seperti kamu mengatakan kepada seseorang,
dengan menta’yin bahwa dia syahid. Ini tidak boleh kecuali yang disaksikan
oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau umat sepakat atas
kesyahidannya. Al-Bukhari dalam menerangkan hal ini ia berkata : Bab. Tidak
Boleh Mengatakan Si Fulan Syahid. Ia berkata dalam Al-Fath Juz 6 halaman.
90, yaitu tidak memvonis syahid kecuali ada wahyu. Seakan dia mengisyaratkan
hadits Umar, bahwa beliau berkhutbah. “Dalam peperangan, kalian mengatakan
bahwa si fulan syahid, dan si fulan telah mati syahid. Mudah-mudahan
perjalanannya tenang. Ketahuilah, janganlah kalian berkata demikian, akan
tetapi katakanlah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
: Barangsiapa mati di jalan Allah atau terbunuh maka ia syahid”. Ini adalah
hadits hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Sa’id bin Manshur dan lainnya
dari jalur Muhammad bin Sirrin dan Abi Al-A’jafa’ dari Umar.
Karena persaksian terhadap suatu hal yang tidak bisa kecuali dengan ilmu,
sedang syarat orang menjadi mati syahid adalah karena ia berperang untuk
meninggikan kalimat Allah yang tinggi. Ini adalah niat batin yang tidak ada
jalan untuk mengetahuinya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda sebagai isyarat akan hal itu.
“Artinya : Perumpamaan seorang mujahid di jalan Allah, dan Allah lebih tahu
siapa yang berjihad di jalan-Nya….” [Bukhari : 2787]
Dan sabda beliau.
“Artinya : Demi Dzat diriku berada ditangan-Nya tidaklah seseorang terluka
di jalan Allah kecuali datang dihari kiamat sedang lukanya mengalir darah,
warnanya warna darah dan baunya bau Misk” [Hadits Riwayat Bukhari : 2803]
Akan tetapi orang yang secara dhahirnya baik, maka kami berharap dia syahid.
Kami tidak bersaksi atas syahidnya dia dan juga tidak berburuk sangka
kepadanya. Raja’ (berharap) itu satu posisi di antara dua posisi (bersaksi
dan buruk sangka), akan tetapi kita memperlakukannya di dunia dengan
hukum-hukum syahid, jika ia terbunuh dalam jihad fi sabilillah. Ia dikubur
dengan darah di bajunya tanpa menshalatinya. Dan untuk syuhada’ yang lain,
dimandikan, dikafani dan dishalati.
Karena, kalau kita bersaksi atas orang tertentu bahwa ia mati syahid
keonsekwensinya adalah kita bersaksi bahwa ia masuk surga. Mereka tidak
bersaksi atas seseorang dengan surga kecuali dengan sifat atau seseorang
yang disaksikan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sebagian yang
lain berpendapat bahwa boleh kita bersaksi atas syahidnya seseorang yang
umat sepakat memujinya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah termasuk
yang berpendapat seperti ini.
Dengan ini, maka menjadi jelas bahwa kita tidak boleh bersaksi atas orang
tertentu bahwa ia mati syahid kecuali dengan nash atau kesepakatan. Akan
tetapi bila dhahirnya baik maka kita berharap demikian sebagaimana
keterangan diatas, dan cukuplah nasihat tentang ini, sedangkan ilmunya ada
di sisi Sang Pencipta.
[Majmu Fatawa, Bab Akidah, hal. 208-210 Pustaka Arafah]
Mungkin yang bilang Mereka Mujahid adalah mereka yang tidak dapat memaknai dengan arti Jihad
Jihad.. adalah.. sebuah inti nafas.. yang harus kita laksanakan jika ingin meraih hidup yang khusnul khotimah… Jihad bukan hanya peperangan.. mendidik anak agar menjadi manusia sholehah/ sholeh, bekerja dengan ladasan keimanan dan keislaman.. bahkantermasuk “nge-blog” ini… inipun sebuah jihad.. jika kita berjuang habis-habisan membawa dan mempertahankan keimanan disini… So… semangat..lah.. mari terus berjihad
Yah.. Wallahu Alam…
Wallahu Alam.. Kebenaran hanya milik Allah
Ehmmm ehmmmm…. Tarik napas dong sahabat… yang paaannnjjjaaaannnng. Semua orang perlu waktu dan proses untuk dapat mencapai sebuah “titik” dalam hidup.. Mungkin benar, ketika sahabat kita Mercury.. bilang begitu,.. karena pada saat ia bicara sisi pandangnya memang menghasilkan sebuah pemahaman yang demikian… si Mas.. pun punya hasil pandangan yang berbeda dari hasil pengamatan sisi yang lain… (padahal insya Allah “persoalannya” sama kan????)
Let sit and talk… bicara bersama.. itu nikmat… insya Allah akan ada jalan keluar yang baik untuk bersama OK??? Sungguh berbahagialah orang-orang yang mencintai, menyayangi, saling mengingatkan karena Allah….
Wah.. emang gitu ya mas…????
Mas… memang.. anda hebat… saya senang membaca komentar anda ini… curahan hatiku ketika membacanya ada di “LISTEN to ME” semoga menjadikan kita semua makin “bercahaya”…
Btw.. Thx
Sahabat… saya paham isi komentar anda.. Jika boleh saya meminta untuk “keadilan”.. maukah anda membaca “surat dari seorang wanita bernama fatimah” dan memberi komentar disana… ??? Semoga dengan demikian anda akan menyadari bahwa keadaan tersebut (tidak persis sama memang… tapi “nyerinya” kurang lebih sama) dirasakan juga oleh umat muslim Indonesia di Poso, di aceh dan di kalimantan… beberapa waktu yang silam… Terima kasih untuk kebaikan hatimu
Sahabatku…. I’ll write a posting about it… (insya Allah) btw.. thx for your good comment here… Jazakallahu khairan katsiran
Wahai sahabat-sahabatku semua… yang telah membuka blog ini…,Bismillahirrahmanirrahiim.. saya hanya ingin mengutip sebuah ayat untuk menanggapi isi komentar ini
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS 49 : 6
Sungguh Allah akan bersama kita… jika kita benar-benar menjaga diri dari api neraka… Insya Allah…
Sahabat… sungguh baik budimu… memberikan komentar diatas… Jazakallahu khairan katsiran… (Allah akan menghitung setiap kebaikanmu dan membalasnya dengan berlipat ganda)
Yah… memang blog ini sebuah forum yang terbuka… siapa saja dapat memberikan komentar disini..
Sama.. seperti isi dunia yang sungguh bervariasi isinya… Semoga siapapun yang berniat tidak baik.. mudah-mudahan… akan segera dibukakan pintu hidayah olehNYA… DIA Yang Memiliki Alam Semesta, DIA Yang Mengatur segala kejadian didunia ini… Mudah-mudahan setelah itu… keImanan mereka justru akan sangat-sangat baik… (Kalau Allah Ijinkan pasti dapat berlipat kali lebih baik dari KeImananku…) Yah.. saya yakin.. Insya Allah.. ini adalah Jalan yang diberikanNYA untuk mereka… juga untuk kita untuk dapat beramal sholeh… mengajak kekebaikan dan menjauhi kemungkaran… Amin Ya Rabbil Alamin… Sungguh Hanya Kepada Allah kita berlindung dan bergantung….
My Imam… How nice of you…
Apa yang telah abang tuliskan… benar adanya… semoga dapat menjadi tambahan ilmu dan sarana menghindarkan dari kesesatan….
Jazakallahu khairan katsiran….
Setiap manusia tidak akan dimintai pertanggungjawaban diluar apa yang diketahuinya…
Apapun… yang jadi penafsiran kita… sungguh.. semua itu sebaiknya hanya bersandar pada Allah yang mengetahui segala apa yang ada di dunia maupun diluar itu… bukan pendapat pribadi…
Wallahu alam…
Thx.. sudah mampir…
Wa’alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh..
Sesungguhnya sebagai manusia, saya lebih banyak melakukan kesalahan daripada kebenaran.. rasanya belum tepat komentar anda pada saya,… dan ucapan Jazakallahu khairan katsiran dari lubuk hatiu yang paling dalamn karena saya sungguh merasa bersyukur anda mengingatkan saya untuk selalu dan tetap selalu berjuang dan menjadikan kesantunan sebagai bagian dari hidup keseharian… Semoga demikian juga dengan anda semuanuya… sahabat-sahabat yang sempat hadir disini.
Allah beserta kita hamba-hambaNYA yang selalu mau berusaha dan berjuang. Amin
Pertama yang saya minta pada anda adalah… sebagai orang yang mengaku “lebih baik” dari kaum Islam.. yang anda katakan sudah rusak… semestinya anda bicara disini dengan bahasa yang jauh jauh lebih baik dan bersopan-santun dari yang sudah kami.., kaum Islam lakukan dalam blog ini.
Kedua.. sebaiknya.. anda juga memilah dengan baik (karena anda adalah orang yang mengaku lebih baik) dalam menuliskan sebuah golongan. Karena jika anda tulis sesuai apa yang ada dikomentar anda… tuduhan yang anda lontarkan… akan terimbas pada seluruh kaum muslim dalam maupun luar negeri Indonesia… dan.. sekali lagi ini akan berat hukumnya karena akan berhubungan dengan pencemaran nama baik… tuduhan yang tidak terbukti dan banyak hal lain yang akan diajukan dalam sebuah persidangan jika memang apa yang anda tuliskan akan diajukan dalam persidangan.
Ketiga… saya jelas sangat memandang rendah orang-orang yang tidak berani mencantumkan identitasnya disini.
Keempat… sebaiknya… anda fikirkan baik-baik apa yang saya sampaikan ini.