Autistik + Masa Depan

June 6, 2009 by: yanti

Banyak orang tua/ pemerhati Anak Autistik mempunyai kekhawatiran akan masa depan anak-anak ini. Sebagaimana orang tua atau pemerhati dari anak-anak berkebutuhan khusus.. lainnya..

Dalam banyak pertemuan.. apakah itu seminar, training,.. terapi dsbnya.. perhatian akan masa depan ABKpun menjadi perbincangan yang cukup serius… Hmmm banyak orang tua yang rela melakukan berbagai macam hal yang.. agar ABK mampu mempersiapkan diri dengan baik.  Misalnya saja.. mengikuti kursus yang akan menunjang kemampuan akademik, berbagai macam terapi untuk meningkatkan kemampuan tubuh, mencari minat dan bakat anak.. dengan mengikuti test test yang seringkali tak murah harganya

Hal yang sering terlupakan adalah..

Mandiri yang hakiki… Mandiri yang mempertimbangkan pada menjaga diri dan kehormatan..

Jika kita mau.. melihat sekeliling… akan tampak bahwa banyak orang-orang hebat disekeliling.. apakah ia politikus, scientist, tekhnokrat.. dsb.. tetapi tak dapat menjaga diri dan kehormatannya secara maksimal.. mereka melakukan hal-hal yang membuat orang memandang rendah dirinya… contohnya… hmm belum lama berselang.. dalam pendaftaran dari calon pejabat tertinggi  negara..dalam rangka pendafataran “PLPRES” ada seorang calon.. yang tak dapat menjaga sikapnya.. dengan bermuka masam kepada calon-calon yang lain…, dan menunjukkan sikap tak simpati ketika harus berinteraksi. Oalaa memang ini  kelihatannya sepele .. tapi dampaknya bisa sangat luar biasa pada ajang pemilihan yang akan diikutinya.. banyak orang akan meragukan kemampuannya dalam melaksanakan jabatannya, jika hanya untuk mengelola… diri saja ia tidak kompeten. (Walah… kok jadi terpeleset kepembicaraan lain ya… maaf)

Hmmm

Latar belakang saya menulis ini adalah :

1. Dalam sebuah diskusi dengan ibu Dyah Puspita saya disadarkan.. untuk memperkuat sisi Aini yang lain.. kalimat “Biarpun kami ABK, kami juga punya kehormatan”..

2.Ditambah dengan pernyataan dari pak Ciptono.. ,”Hanya 10% dari 300 anak didiknya yang ABK yang mampu melakukan gebrakan berkiprah menonjol dimasyarakat” (contohnya ananda Kharisma). Oya jumlah anak didik di SLB nya 300 an anak.

3. Dan..satu lagi.. pernyataan dari Mr Adam dalam Training bahwa.. ABK sebagai “Normal People with Slow learner” tidak akan mungking sembuh 100%.., tetapi dapat ditingkatkan kemampuannya, sedemikian hingga dapat bersikap mendekati manusia pada umumnya..

4. Ah ya.. satu lagi.. sekitar 2 tahunan yang lalu.. saya sempat membaca.. di sebuah berita.. seorang kepala sekolah yang bertindak tidak senonoh pada murid-murid perempuannya.., yang kebetulan ABK semua.

(uhhh  Hati ini jadi miris…dan seperti dihantam.. cukup keras)

Oh.. nanti dulu… jika saya menuliskan ini, bukan berarti saya putus asa..(waktu mendengarnya memang terasa sakit) yah.. wajar dong.. jika sekali-kali ter”pelanting” dengan kenyataan di dunia nyata.. .. tetapi (insya Allah)  saya tetap punya keyakinan dan semangat yang tinggi.. saya yakin.. Aini, dengan melihat kemajuan yang sudah ia capai sampai saat ini…, akan mampu melewati segala rintangan yang ada.. (insya Allah). Yah…Saya sampaikan ini.. agar kita semua sadar.. sebagaimana.. kesadaran tinggi yang muncul ketika saya bicara dgn ibu Ita (Dyah Puspita).. bahwa sebagai slow learner.. dan ABK, Aini tak dapat melakukan “learning by seeing”.. mereka harus dibimbing.. harus diarahkan.. harus diajarkan.. harus diingatkan.. dan harus dijaga.. dengan sangat intensif (yang dikenal dengan istilah.. “pelatihan berulang dan berkesimanbungan”) sampai pada sebuah titik.. dimana.. Aini telah mengadaptasi setiap pendidikan yang ia terima dalam hidupnya sehari-hari. Yup… otomatis.. berjalan.. gitu looo

Jika dalam perjalanan waktu terjadi sebuah kondisi.. yang menyebabkan.. situasi normal.. mengalami.. perubahan rutinitas.. program pendidikan berulang dan berkesinambungan kembali harus diulangi… (misalnya harus pindah rumah)

Jadi…

Kembali pada kemandirian ABK.., mengingat apa yang harus dilalui mereka… hal-hal yang “sederhana” bagi orang kebanyakan..sesuatu yang (hmmmm) keeecccillll… bagi ABK.. tidak demikian.. Misalnya saja.. untuk mandi.. harus rinci dan runtun pengajarannya.. dari apa yang harus dilakukan sebelum masuk kamar mandi.. (bawa handuk, doa masuk kamar mandi misalnya) apa yang didalam kamar mandi.. (mana yang harus disabun, dibilas.. disiram dsbnya) hingga keluar kamar mandi.. (membersihkan kaki, doa keluar kamar mandi dsbnya) lengkap dengan apa saja yang harus dan tak boleh dilakukan.. (Duuuhhh… kebayang kan…) terlewat satu langkah saja, artinya.. langkah itu tidak akan pernah ia lakukan. (Ups….)

Nah… dalam keseharian.. kegiatan ini.. (sejenis dengan mandi)  buaaanyaaak sekali. Ada makan, minum, cuci baju, masak, setrika, belanja, bepergian, bertamu, situasi sedang sakit dsb)

Jika ABK sudah sibuk dengan belajar membaca, menulis dan berhitung.. atau les-les yang lain.. dan program ini tak dimasukkan..mereka tidak akan pernah bisa mengurus dirinya sendiri. Gak Lucu kan.. jika sudah dewasa, sudah bekerja.. tapi mereka tak mampu berpakaian.. tak mampu mengelola penghasilan mereka… Lalu.. bagaimana jika mereka berumah tangga…???

Saya teringat pada Miyuki Inoue She’s Special Needs too. (saya bikin resensi bukunya disini loo, udah baca belum??? he he he.. seru jangan ketinggalan ) Tapi.. ia mampu benar-benar mandiri.. mengurus diri sendiri.. mengurus ibundanya ketika sakit.. dan sekaligus punya kemampuan untuk menjadi penulis yang handal..

Yah.. sebenarnya.. ini sekaligus menjawab pertanyaan.. seorang peserta di Seminar yang diadakan oleh Mandiga.. tentang “Apakah ABK akan dapat menikah??”.. Menurut saya, tentu saja mereka bisa.. dan ini adalah hak mereka sebagaimana manusia yang lainnya. Wajib mereka dapatkan.. jika mereka memang membutuhkannya. Masalahnya.. perkawinan seperti apa yang akan mereka lalui…??? Itu yang penting… (hmmmm)

Khusus untuk ABK perempuan…, saya diingatkan oleh ibu Ita bahwa  para orang tua/ pendidik harus lebih dan lebih lagi serius.. kenapa?? masa belajar mereka untuk pemahaman terhadap diri lebih singkat.. , dibandingkan dengan ABK laki-laki. Di jaman sekarang ini.. Anak-anak perempuan sudah mengalami menstruasi diumur 9 tahunan..  Disaat itu, sebaiknya mereka sudah punya pemahaman cukup tentang siapa yang menjadi muhrim, siapa yang bukan muhrim.. apa itu aurat dan rasa malu.. bagaimana cara bergaul yang benar.. dsbnya.. Yah.. ini berkaitan dengan menjaga diri dan kehormatan. (Jazakillah ibu.. Jazakillah…untuk waktumu berdsikusi dengan kami dan mengingatkan kami tentang hal ini) Diluar sana.. terlalu banyak orang jahat dan hanya sedikit orang baik.. yang akan menjadi bagian dari dunia ABK.. (kita harus melihat kenyataan ini dengan lebih arif)

Para sahabat.. ini tulisan yang sersan looo (serius tapi santai)… iya.. jangan jadikan ini sebuah informasi yang “menakutkan”.. ini hanya sebuah informasi yang “biasa” saja… Biasa.. karena apa yang saya tulis memang benar adanya.. dan kita semua harus selalu “melek” terhadap semua kemungkinan.. sedang bagaimana menyikapinya… hmmm santai saja.. santai dalam artian.. gak usah terburu-buru harus begini dan begitu.. (jadinya “kalap mode” di on lagi deee) kita buat saja jadwal-jadwal kurikulum.. seperti kurikulum sekolahan.. Hanya materinya… materi yang sehari-hari.. (banyak orang menyebutnya dengan “bina diri”) Untuk target pencapain jelas.. harus mengacu pada kemapuan ABK melakuan kegiatan tersebut. Lalu..kapan tercapainya.??. hmm, yang ini sebaiknya  kita serahkan bulat-bulat pada Allah swt… Sama persis.. seperti target dan rencana pendidikan umumnya pada anak-anak.. “Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik bagi mereka.. “

Yuk… tetap semangat.. mengukir masa depan para ABK.. setahap demi setahap… Insya Allah…

Related Posts with Thumbnails

Leave a Reply

CommentLuv Enabled