Bersama “si Khan”
February 26, 2010 by: yanti
Hari ini, si abang ulang tahun ke 13.
Rame-rame.. kita ber-7 menghabiskan waktu dengan nonton “My Name is Khan”. Padahal.. awalnya.. ketika tahu, film ini, film India, saya yang bukan penggemar film India, maleeessss banget. Ah.. jadi terpengaruh ketika ketemu mamanya Fais, yang cerita dengan penuh semangat, betapa hebatnya film ini. Katanya, “mbak.. saya berasa jadi mamanya khan deh…” Oh ya beliau juga berpesan “Buat yang suka “sensitif”.. nonton film ini, mesti bawa saputangan atau tisue yang banyaaaak” Waaa.. jadi penasaran kan???
Ide ceritanya sih sederhana, tepat seperti apa yang ditulis, bercerita tentang orang kebanyakan dari kalangan kebanyakan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi cara mengangkatnya dan memilih topik-topiknya yang luar biasa. Tidak ada topik hangat yang tak terungkap.Topik tentang Autistic,topik tentang ras, topik tentang Islam sebagai minoritas, topik tentang teroris, topik tentang hak warganegara.. bahkan tentang topik lingkungan hidup (jangan nyalakan HP di taman, karena tawon-tawon bisa mati, adalah kalimat yang Khan sampaikan sambil lalu ketika lari pagi mengelilingi danau) waaaahhh banyak. Sangat mengena dan maaanisss penyampaiannya.
Tokoh utamanya, Khan adalah penyandang “Asperger Disorder” (Istilah Asperger Disorder, pertama kali diketemukan oleh Hans Asperger, yang meneliti tentang autistic. Kata ini digunakan untuk menjelaskan tentang penyandang autistic yang mengalami kesulitan dalam perilaku sehari-hari, bergaul dengan lingkungan serta berkomunikasi, tetapi mereka berintelektual normal dan mampu mengembangkan pemahaman tentang bahasa. Sebenarnya ini adalah level ter”normal” dari begitu banyak spektrum autism). Ia imigran Amerika yang berasal dari India, beragama Islam dan punya semangat hidup yang cukup kuat. Ditempa kehidupan sejak awal kehidupan. Menjadikan ia manusia yang jujur, berhati mulia, pengasih pada sesama, pantang menyerah, apalagi jika hanya mengharap dan meminta belas kasih orang lain, tetap teguh pada apa yang diyakininya, walaupun untuk itu ia mempertaruhkan nyawa.
Untukku, kesan yang mendalam saya dapatkan dari seorang khan adalah : He’s Great.
Hal lain yang mengena dihatiku… dibalik kehebatan seorang Khan, ada seorang ibu. Ibu yang mencintai anaknya dengan tulus, penuh cinta. Yang mengajarkan kebenaran dengan adil. Tak ada hawa kebencian disana. Tak ada nafsu didalamnya. Membekali sang anak “Manusia hanya berbeda, ketika ia membawa sifat buruk atau sifat baik”. Ibu yang dengan jeli mengawasi perkembangan anaknya. Ibu yang mau mencarikan pendidikan terbaik untuk anaknya… Jika seorang Khan saja, mampu dicetak oleh ibu biasa, mestinya anak-anak dengan “standrat normal” akan jauh lebih hebat…
Kesan yang lain, film ini, cukup membuatku merasa puas. Kepuasan yang kucari ketika saya menonton “Ayat-ayat Cinta” 2 tahun yang lalu. Film yang akan berani bercerita banyak tentang Islam. Iya.. mas Hanung..sudah “meredam”nya ketika memindahkan cerita Novel kedalam film layar lebar. Lain dengan “My Name is Khan”, sang Sutradara, berani “mempertontonkan” kebenaran prinsip-prinsip Islam. Bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih (Ketika Khan marah besar pada seorang dokter yang sedang berceramah untuk mengobarkan amarah muslimin di dalam masjid) . Bahwa dalam Islam Jihad tidak identik dengan teroris (my name is Khan and I am not terorist). Bahwa Islam tetap akan kuat mempertahankan apa yang harus dipertahankan walaupun untuk itu ada konsekwensi pahit (dengan tetap sholat dimanapun, tak peduli saat itu yang ketahuan muslim akan mendapat perlakuan negatif). Bahwa Islam kuat memegang janji (dengan tidak putus asa menemui presiden hanya karena telah berjanji pada istrinya.. hal yang mustahil untuk orang normal) Bahwa Islam tak ada pembeda (menolong seorang anak kecil dan kota kecil yang terkena bencana alam). Bahwa Islam juga identik dengan cinta negara (dengan melapor FBI ketika ada hal yang mengancam negara). Bahwa dalam Islam kerja keras serta tangan diatas lebih utama (walaupun seorang autistic.. Khan tetap bekerja dan juga bersedekah) dsb-dsbnya. Salut untuk Karan Johar. Akhirnya… ada juga yang berani mengangkat prinsip-prinsip Islami di dunia entertaiment. Subhanallah
Hmmmm….intinya, terlalu banyak hal yang harus saya pelajari dari seorang Khan, the Autistic man, the Asperger’s disorder… The inspairing man
Dan saya makin yakin.., Allah memang tak main-main ketika memberikan lebih banyak generasi penerus yang berkebutuhan khusus akhir-akhir ini (thn 2009 data statistik dalam sebuah situs telah mencantumkan angka 1 dari 99 kelahiran, hanya dari autistik saja) Nyata, kita memang butuh mereka. Kita harus belajar banyak dari mereka. Kemurnian mereka, dan pemahaman sederhana sangatlah hebat, mampu merubah banyak hal.



















































I really don’t understand why anyone would disagree with that. I think that sounds like it is something to look a lot more closely at. I feel sometimes alot of individuals can be fairly narrow minded when it comes that. Well thats all for now, look forward to a lot more post and information.. Talk to you guys later. “As in life, Chill for greatest results”
The person which has put up offers done seems to end up an excellent hard employee. The post by discloses how much he’s worked to create this. Awesome post. Many thanks very much.