Disiplin- Materi Training Hari ke 3

July 30, 2009 by: yanti

Setelah “berhutang” terlalu lama, alhamdulillah.. saya sempat juga menuliskan pelajaran di hari ke tiga training.
Ini adalah kelanjutan ketika saya mengikuti Pelatihan Program Dasar Perawatan dan Pendidikan selama 6,5 hari di IPB Dermaga Bogor, tanggal 21 s/d 27 mei 2009. Semoga biarpun telat banget… masih bisa bermanfaat

Hari ke 3..
Yang menjadi fokus hari ini adalah bagaimana mendisplinkan seorang anak berkebutuhan khusus. Sedemikian hingga anak-anak dapat mengikuti peraturan dan menjalankan program pembelajaran.

Hmmm…

Program untuk hari ini adalah sebuah program yang sangat penting dan mendasar. Ya.. tidak akan dapat berlangsung dengan baik, proses belajar dan mengajar jika tidak ada kedisiplinan didalamnya. Masalahnya.. ini berhubungan dengan anak-anak berkebutuhan khusus.. Sudah jadi rahasia umum.. anak-anak ini terutama yang penyandang autis dan hyperaktif.. sulit berkomunikasi dan melaksanakan perintah. Laaa padahal yang namanya disiplin, didalamnya ada pemahaman dan pelaksanaan petunjuk dengan baik…

Hoo hooo

Pesan Mr Adam.. Jangan menyerah…

Teorinya adalah sbb :
1. Pembiasaan
Dengan adanya pembiasaan, anak-anak akan terbiasa.
Ketika anak sudah terbiasa.. segala sesuatunya akan mengalir dan dilaksanakan dengan sendirinya.
Jika suatu ketika sang anak tidak mendapatkan, ia akan berusaha mencari dan melakukan persis sama.. dengan demikian kedisiplinan akan tercapai.

2. Membuat batasan atas pembiasaan.
Ada batasan pada setiap apa yang kita lakukan sepanjang hidup ini. Batasan yang masih boleh dilanggar, karena dengan pelanggaran ini, anak-anak justru akan mendapatkan kebaikan dan keuntungan
Ada juga batasan yang sama sekali tidak boleh dilanggar, yang dapat mengakibatkan cedera, baik cedera diri sendiri atau mencederai prang lain

3. Menjaga konsistensi dari kedua prinsip diatas.
Dalam menjaga konsitensi diatas, dapat digunakan alat bantu sederhana yang membuat anak-anak ini paham. Misalnya reward atau punishment (hadiah atau hukuman). Dimana jenis hukuman dan hadiahnya akan disesuaikan dengan pemahaman anak. Semakin terbatas pemahamannya, sebaiknya hukuman atau hadiahnya semakin sederhana, nyata dan segera dapat dinikmati. Misalnya saja, mengijin atau melarangkannya bermain dengan benda-benda yang paling disukainya.

Okk… praktek yuuk.

Membuat anak duduk ditempat duduknya

I. Membuat pembiasaan.
1. Sediakan tempat duduk dan meja yang sesuai untuk anak-anak, baik besarnya, ketinggiannya, maupun kenyamanannya.
2. Sediakan benda-benda yang menarik untuknya. Untuk anda sendiri siapkan sebuah pengukur waktu, bisa jam tangan, jam meja atau stopwatch, usahakan benda ini jauh dari jangkauan anak tersebut.
3. Ajak anak untuk duduk disitu..
4. Temani anak dengan duduk disebelahnya.
5. Jika anak belum mau duduk.., upayakan ia mau melihat benda-benda yang ada dimeja. Tarik perhatiannya. Biarkan ia sedikit demi sedikit mendekati meja, kecilkan sedikit demi sedikit radius jangkauannya dari meja, sedemikian hingga pada suatu waktu tertentu ia duduk di kursi.
6. Berilah penghargaan setiap kemajuan yang dikerjakannya hingga ia mau duduk dan merasa dihargai atas usahanya.

II. Membuat Batasan
1. Pertama sekali kita harus memahami bahwa, tujuan dari “Membuat anak duduk ditempat duduk”, tidaklah hanya berhenti di sini saja, tetapi harus dipahami langkah ini adalah langkah awal dari proses belajar anak. Belajar mengikuti rutinitas sekolahan (jika nantinya ia akan melangkah kesana). Belajar sikap dan tubuh yang benar untuk duduk. Belajar untuk mengendalikan diri. Belajar untuk mempunyai fokus. dsbnya.
Oleh karena itu kita tidak boleh terlalu terburu-buru ingin anak segera patuh.. mau duduk disaat kita minta ia untuk duduk. Berikan anak-anak keleluasaan untuk beradaptasi.
Misalnya saja. Sebelum ia bisa duduk.. biarkan saja ia bermain-main dilantai sekeliling kursi… jika ia hanya bisa duduk tenang 1 menit, jangan paksa ia untuk duduk 5 menit. Ya..buatlah target yang mengikuti perkembangan anak… Kemudian dari target itu, buat catatan kemajuan yang dicapainya seperti berikut ini

duduk1

Dapat dilihat dari catatan tabel diatas, anak diajarkan untuk memahami dan mematuhi perintah dengan batasan hukuman/punishment (tidak diperbolehkan memainkan mainan ketika dilempar dan tidak diijinkan memegang ketika hanya memandang dari kejauhan) dengan batasan hadiah/reward, dengan diijinkan bermain mobilan.. lama bermainnya tergantung pada berapa jauh kerjasama melaksanakan perintah yang dilakukannya.

Dari tabel itu juga nantinya dapat diambil kesimpulan mainan apa yang paling disukainya, misalnya mobilan besar, warna menyolok, bersuara, bergerak menggunakan baterai dsbnya.. Ini akan bermanfaat untuk memancing kerjasamanya di level level pembelajaran berikutnya.

III. Menjaga konsistensi.
Ah tentunya… teori diatas tidaklah semudah itu ketika diterapkan. Ada saatnya anak bosan dengan mobilannya.. atau ada benda/suara yang lebih menariknya menjauhi meja, atau kita sendiri sebagai pembimbing (bisa orang tua/ bisa terapis) yang merasa jenuh.. ketika situasi stagnant..
Ya.. memang ini adalah sebuah tantangan…
Sebaiknya jika situasi ini terjadi (terlalu lambat/ stagnant atau malah menjadi kekacauan) segera lakukan evaluasi.. Analisa dan buat langkah-langkah yang baru.. untuk mencari kemungkinan mendapatkan terobosan baru mengajarkan duduk pada anak.

Peringatan :
1. Jangan membuat target terlalu tinggi pada anak.
Lebih baik buat target-target kecil, yang merupakan bagian dari pencapaian target besar.
2. Jangan menakut-nakuti anak.. dengan sesuatu yang tidak ia pahami atau dengan sesuatu yang membuatnya akan merasa tak berharga
3. Jangan melakukan tindakan fisik. (khusus tentang ini, saya membuat sebuah ulasan di “Menarik Tangan Anak“)
4. Jangan memaksa anak melakukan hal-hal yang terlalu sulit
5. Hati-hati ketika melakukan kontak fisik, saat anak memberontak karena dapat mencederai anak
6. Hindarkan terlalu banyak berbicara yang tidak perlu, karena akan membuat anak menjadi bias.. pada target yang akan diambilnya.

Yang terbaik sebenarnya.. terus dan terus membimbing anak untuk melakukan hal ini.. dengan konsitensi yang terjaga. Baik itu waktu, tempat, lamanya proses mengajar, situasi, cara, jenis hukuman, jenis hadiah dsb.Yuupp… memang modalnya mesti super duper saaabbaaaarrrrr.

(Heee… iya. ternyata juga.. faktor kegagalan terbesar dari keberhasilan pendisiplinan ini adalah… “orang tua”… hu… hu… hu….

(Mr Adam.. komplin berat tentang ini.., karena dibuktikan.. ke 5 anak tersebut, dibawa jalan-jalan oleh pak Johan (sendiri an loo.. tanpa tenanga pendamping lain) sangat tertib dan kooperatif.. eehhh gitu dibalik-in ke orang tua.. pada betingkah lagi…)

Kriterianya adalah orang tua yang gak sabaran, orang tua yang gak tegaan, orang tua yang gak mau repot, orang tua yang gak mau disalahin, orang tua yang gak punya passion, orang tua yang gak mau menerima anak apa adanya… hu hu hu… masih banyak lagi tuuh.. kriteria orang tua yang tak mendukung. hu… hu… hu…… semoga kita tidak termasuk diantaranya yaaaa.. Amien)

Kami mengikuti Training ini selama hampir 7 hari.. hari pertama. sulit sekali “menduduk”kan anak-anak dikursi belajar mereka.., tetapi di hari terakhir.. ketika penutupan.. Subhanallah.. hampir semua dari ke 5 anak-anak ini (Aini, Hasan, Bintang, Mahmud, Farhan) secara sukarela.. begitu memasuki ruangan training, langsung menuju ke meja belajar masing-masing. Ya.. ini menganggumkan. Bukti bahwa teori pendisiplinan diatas bukan hanya sebuah teori kosong.

Ini juga yang terjadi disekolah (“SD Islam Al Marjan”) Aini sekarang.., para pendidik disana, melaksanakan teori pendisiplinan yang sama, dengan yang diajarkan di Training….

Hmmm…ini sangat berbeda dengan teori yang pernah Aini dapatkan disebuah tempat terapi.. mereka memaksa aini untuk patuh, dengan “mengurung anak” menggunakan meja yang dibagian siswa di lubangi 1/2 lingkaran.. sehingga dapat diletakkan menempel dinding, membuat siswa tidak punya pilihan lain untuk duduk, walaupun mereka marah, mengamuk, menangis dsbnya. Saya berharap teori yang dipraktekkan ditempat-tempat terapi, seperti ini dapat diganti dengan teori yang diatas.

Ah.. satu hal lagi… khusus untuk anak-anak penyadang autism.., mereka yang telah lulus pendidikan kedisiplinan, biasanya justru lebih tertib, teraturĀ  dan bertanggungjawab atas sebuah tindakan, dibandingkan dengan anak-anak kebanyakan. Jadi… jangan putus asa… dan terus terus mau mencoba.. diakhir nanti.. kita semua (anak berkebutuhan khusus tersebutm orang tuam terapis bahkan masyarakat yang terlibat dengan sang anak akan merasakan manfaatnya… insya Allah)

Related Posts with Thumbnails

Comments

One Response to “Disiplin- Materi Training Hari ke 3”

Leave a Reply