“Etika Hidup” (Materi Training Hari ke 5)

May 27, 2009 by: yanti

Ada sebuah kisah yang memilukan tentang etika hidup.

Dalam sebuah kisah yang dimuat di Surat Kabar Hongkong (Mr Adam) menunjukkan pada kami, potongan surat kabar tersebut yang sudah mulai menguning, tentang seorang anak perempuan berumur 9 tahun yang tinggal di Hongkong.

Anak perempuan tersebut, mempunyai “kelambatan dalam berfikir”. ..

Hari ini ditahun 1985.. Sang anak perempuan “terlepas” dari pengawasan orang tua.., ia berjalan.. disepanjang jalan.. naik ke dalam bis kota yang berjalan… berputar-putar… tidak ada satupun orang yang peduli dengan keberadaannya.. semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Sampai disebuah apartemen berlanatai 50.., sang anak turun.. dan masuk ke dalam apartemen tersebut.. menekan tombol lift… ikut naik dan berhenti di lantai ke 26. Saat keluar lift.. ia melihat seorang nenek dengan cucunya.., bayi laki-laki yang baru berumur beberapa bulan… secara alamiah… sang anak perempuan memeluk bayi laki-laki tersebut.. mengendongnya (seperti halnya anak perempuan yang sedang bermain dengan boneka) . Sang nenek.. sangat senang melihat perbuatan gadis kecil.. menganggapnya sangat berbudi dan menyayangi cucunya. Sang nenek menjadi lengah.. tanpa sepengetahuannya.. gadis kecil ini berjalan ke arah jendela.. dengan masih menggendong bayi kecil… sampai didepan jendela… ia menjatuhkan bayi tersebut.. ke luar jendela !!!!!!!

Wo…………..

Kami hanya diam termangu-mangu mendengarnya…

Dan tak bisa menjawab ketika Mr Adam bertanya… “Apakah sang gadis kecil bersalah?”…

Yang terjadi  memang si gadis kecil.. ditahan oleh polisi.. dibawa ke dalam penjara.. dan melalui persidangan dinyatakan bersalah dengan dasar Hukum Inggris (saat itu Hongkong masih menjadi bagian dari negara Inggris). Masyarakat.. menyalahkan para penegak hukum yang telah membiarkan sang gadis kecil.. ada disekita lingkungan mereka, membahayakan kehidupan mereka. (sayangnya tak diceritakan.. apa yang terjadi dengan sang ayah/ ibu kandung gadis kecil tersebut)

24 tahun kemudian… sekarang ini ditahun 2009.. sang gadis kecil.. tak lagi dapat diketahui keberadaannya… hilang lenyap.. segala data dan tanda-tanda hidupnya…

Kisah yang lain…

* Kisah tentang ABK yang dikenai sangsi hukum.. ketika ia “menjamah” lawan jenisnya… Sebagaimana kita ketahui.. secara umum.. ABK sering tidak dapat mengontrol dirinya.. ketika menginginkan sesuatu… yang dapat berarti makanan, barang.. bahkan jika ia tertarik pada lawan jenis.. (biasanya ABK pria yang lebih agresif) mereka cenderung untuk segera melakukan tindakan yang dapat memenuhi keinginan mereka.

* Kisah tentang… seorang ayah.. yang memiliki seorang anak perempuan ABK… Entah karena sebab apa.., hari itu.. sang istri lari… dengan seorang pemuda… dan tidak pernah kembali.. ibu ini meninggalkan sang putri… sendirian dirumah.. karena sang ayah belum pulang dari bekerja. Ayah yang pulang kerja.. menemui rumahnya gelap gulita.. karena tidak ada yang menyalakan lampu… tidak ada makanan.. karena tidak ada yang memasak.. dan tak ada istrinya didalam rumah… Ketika lampu telah menyala… ia melihat sang putri sedang duduk disudut ruangan.. duduk dalam genangan darah… (rupanya sang putri sedang menerima menstruasi pertamanya).. Sang ayah yang tidak paham akan menstruasi putrinya menjadi panik… ia berfikir..putrinya terluka parah.. Dalam keadaan terpukul karena istrinya “lari” dan anak gadisnya “terluka”.. ia shock berat… memutuskan untuk menggantung diri didepan putrinya… Hingga 2 hari kemudian.. sang gadis kecil yang tidak pernah  di beritahu tentang apa itu kematian.. diketemukan oleh para tetangga.. masih dalam keadaan duduk.. sambil memandangi ayahnya.. yang telah kaku tergantung… dan masih juga dalam genangan darah menstruasinya

Ooooohhhh kami semua yang hadir.. makin tak mampu bicara banyak… kami terkejut luar biasa…

Saya mulai berfikiran… betapa banyak cerita-cerita tragis seperti itu yang ada disekitar kita.. yang tak pernah diangkat dan dijadikan pelajaran untuk memperbaiki cara pendidikan bagi para ABK.. Orang lebih mudah memaklumi ketika seorang ABK terlihat canggung… Orang juga lebih mudah untuk bersimpati… Tapi berapa banyak yang ingin menjadi bagian dari proses pendidikan mereka???? Yah.. mungkin saja mereka baru tersadar.. pentingnya menjadi bagian dari pendidikan itu, ketika.. ada sebuah masalah serius yang terjadi disana.. seperti halnya gadis kecil dari Hongkong tersebut… (masyarakat kita.. masyarakat Indonesia memang senang menunggu dibanding mengambil inisiatif.. ya???)

Ok… cukup dengan cerita tragis.. yang penting kata Mr Adam dan Mrs Ching.. “WHAT we doo now???”

Pertama… dan paling utama.. selalu beri kesempatan ABK untuk belajar mandiri…

Beri kesempatan mereka untuk menjadi dirinya.. dengan membuka kesempatan mengenal lingkungan luas.. saat itu mereka akan belajar.. bagaimana membawa diri dengan lebih baik  (hick.. hick… untuk orang tua ini pasti bukan hal yang teramat mudah.. melihat sang anak.. tersaruk-saruk.. “kejedot kiri kanan”.. dengan perlakuan masyarakat umum) Tapi.. harus.. dan harus… (Ya Allah… beri aku kekuatan untuk dapat melakukan hal ini…) Cukup awasi dari jarak pandang tertentu.. agar dapat segera membantu jika membahayakan dirinya… (di-palak- preman mungkin).. dan makin memperjauh jarak “penjagaan” ketika sang ABK makin mampu  dan mampu… (oooo alaaaa… berat ya….)

Kedua… Mengenalkan identitas dirinya…

Seringkali ABK sulit menjawab.. ketika ditanya.. siapa namamu? dimana rumahmu? berapa umurmu? Siapa nama ayahmu? siapa nama ibumu?.. dimana sekolahmu?.. dsbnya… Ya.. ini tentang pertanyaan sosial.. Sesuatu yang sangat membantu.. ketika ABK terpisah jauh dri pengawasan atau membutuhkan pertolongan tertentu..

Ada sebagian orang.. yang menggunakan banyak metode untuk mengatasi kesulitan memberika pengetahuan tentang pertanyaan sosial ini… misalnya saja..

* Dengan menempelkan/ mengalungkan identitas diri.. pada tubuh ABK

* Memasang Tatoo.. yang berisikan informasi tersebut

* Yang terbaru… Ibu Oya.. memberikan informasi.. bahwa di Yayasan tempatnya bekerja, telah dibuat semacam lebel kain.. dari bahan yang lembut untuk dijahitkan pada baju ABK.. (yang membutuhkan dapat menghubungi beliau)

Yang terpenting berikutnya adalah “Mengajarkan Etika”

Sangat penting Etika ini… ABK sebaiknya selalu diberi pengarahan tentang apa yang sebaiknya boleh dan apa yang sebaiknya tidak boleh dilakukan.. misalnya..

- Boleh menerima pemberian.. jika pemberian itu dari orang yang telah ia kenal dengan baik.. dan tidak berupa hal-hal yang membahayakan kesehatannya.. (misalnya… makanan yang dipantangnya)

- Tidak boleh menyentuh setiap orang yang ditemuinya.. Kadang kala.. ABK punya kebiasaan mengenali sesutau (termasuk orang) melalui indera penciumannya… (ehmmm bau tiap orang berbeda kali ya…) Akan sangat tidak beretika.. jika ia mencium setiap orang yang ditemuinya… dijalanan…

-dstnya

Demikianlah… jika kita belajar tentang etika (moral..) kita juga harus mempertimbangkan akibat dari tindakannya jika tidak beretika (bermoral).. agar tidak timbul issue (persoalan-persoalan) sosial akibat tindakan dari ABK. Dan juga harus mempertimbangkan bahwa dalam mengajarkan segala etika tersebut.. kita harus mengikut sertakan pemahaman kita tentang :

* Hak ABK untuk hidup

* Hak ABK untuk mendapat arti dan berarti dalam kehidupan

* Hak ABK untuk mendapat pendidikan

* Hak ABK untuk bekerja

* Hak ABK untuk menikah dan menjadi orang tua

* Hak ABK untuk mendapat perlindungan hukum

* Hak ABK untuk mendapat warisan.

Tanpa memperhatikan hak-hak tersebut.. dan masih saja menempatkan ABK dalam posisi yang lemah (sulit mendapatkan hak-haknya)… bagaimana mungking seorang ABK.. dapat dinilai telah berhasil menerapkan Etika hidup???

LOOOO???

Ya…. tidak adil..a  jikABK harus mengasah kepekaannya bagaimana beradaptasi dengan lingkungan.. tetapi ia tidak juga mendapat kesempatan untuk diberlakukan setara dengan manusia-manusia lain pada umumnya… Ini akan berpengaruh juga pada pemahaman sang ABK tentang “APA YANG DISEBUT GOOD” dan “APA YANG DISEBUT BAD”

Definsi GOOD menurut Mr Adam adalah : “To full fill, perfectly or imperfectly, the reason which object extention”

Sedang BAD adalah :“Not to full fill, perfect or imperfectly, the reason which object extention”

Memang benar pada akhirnya.. keputusan tentang apa yang disebut baik dan benar.. akan kembali lagi pada 3 hal, yaitu :  Kebudayaan, Kepercayaan dan Tradisi…

Ketika ABK diajarkan untuk memahami etika “bagaimana bergaul dengan lawan jenis yang benar”.. ada sebagian kebudayaan dan daerah.. yang mendukung “Sex pranikah”.. ada sebagian lagi yang sangat ketat menjaga batasan pergaulan antar lawan jenis, karena disamping adanya kebudayaan dan tradisi.. daerah yang satu ini.. cukup memiliki keyakinan kuat terhadap agama yang mereka anut. Jadi kembali lagi.. jika kita berbicara kepada masyarakat umum.. 3 aspek diatas sangat perlu diperhatikan.

dari training hari ke 6

Related Posts with Thumbnails

Trackbacks

Leave a Reply