Guru
February 6, 2010 by: yantiDiam-diam.. saya mencoba menghitung… jumlah guru dalam hidupku…
Guru yang benar-benar mendidikku dalam sebuah lembaga pendidikan.
Mulai dari Taman Kanak-Kanak.. hingga segala macam pendidikan non formal yang saya ikuti hingga kini…
Luar biasa… banyaaak sekali.
Saya tidak bisa menyebutkan nama-nama beliau ini semuanya.. ada beberapa yang seolah “terselip”… namanya tak dapat saya ingat… duuuhhh. Sebaliknya beberapa guru.. demikian melekat dalam ingatanku.. mereka ini yang mampu menggores dalam, tidak hanya dari keilmuan, tapi hingga jauh.. kedalam hati.. ikut menjadi bagian dari proses pembentukan kepribadianku, bahkan tak hingga kini.. Kata-kata yang mereka ucapkan, sikap mereka yang dapat membuatku tergerak untuk menirukan atau mengadaptasikan dalam kepribadianku juga karya-karya mereka.. yang selalu mengalir.. membuat saya ingin terus memperbaiki diri.
Hidupku memang penuh dinamika.. ada saat dimana.. prestasi pendidikanku demikian gemilang.. ada saat dimana.. sangat sulit untukku meraih nilai “asal lulus”. Mereka-mereka inilah.. yang dengan demikian sabar.. melakukan banyak pendekatan padaku.. mengajakku bicara dari hati ke hati.. memberiku motivasi untuk bangkit dan meluangkan waktu untuk menerangkan kembali pelajaran yang sangat sulit kupahami. (jazakumullahu wahai ibu bapak guru)
Selalu ada guru-guru yang peuh dedikasi.. yang berusaha untuk “memandaikan” murid-muridnya secara utuh.. diantara guru-guru yang “sekedarnya”, yang merasa profesinya adalah “salah kamar” atau bahkan yang meletakkan dunia pendidikan sejajar dengan dunia bisnis.. Yang tak pernah meng”orang”kan murid-muridnya…
Mereka ini, para pahlawan tanpa tanda jasa, memang tidak banyak jumlahnya… tetapi mereka terus dan terus berjuang… mencetak tunas bangsa
Miris jika profesi keguruanpun seringkali dilecehkan.. guru sebagai “Obyek Lelucon” seperti yang terlihat dalam “Guruku-Selebritisku”, yang ditayangkan dalam salah satu stasiun televisi.. Duuhh saya merasa sakit hati.. melihatnya.. “Kok gak pantas…, ya”
Bayangkan…
Tanpa guru.. kita tak kan pernah seperti sekarang
Tanpa guru… bangsa ini tak kan berjalan hingga sejauh ini.
Tanpa guru.. masa depan yang selalu diangankan.. hanya tinggal anggan-anggan belaka..
Lalu..
Apa salahnya.. jika kita.. memberikan “perhatian” lebih
Melakukan penghitungan ulang.. atas..imbalan memenuhi kebutuhan mereka dalam kehidupan
Apa salahnya jika kita mencoba menghargai guru…
Apa salahnya juga.. jika para guru.. tetap terus berjuang dalam keterbatasan.. (sebelum ada “perubahan kebijaksanaan” pemerintah) Tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk tak bekarya maksimal.
Pasti akan indah.. jika dua sisi saling berusaha memberi dan merendahkan diri…
Berikhlas.. dengan selalu berpijak pada kepasrahan dan keridho-an Allah..
Pasti…
Akan makin banyak guru berhati mulia.. bersemangat baja..
Akan makin banyak juga murid-murid digjaya.. yang mampu bersaing dan berjuang atas nama bangsa dikancah internasional.
Bangsa ini butuh dirimu… guru





