Hari-hari Pernikahan

February 21, 2010 by: yanti

hari-hari-pernikahanGending “Kebogiro” telah usai ditabuh..
Harum melati mulai memudar..

Tapi cinta yang telah dikukuhkan.. masih terasa hangat..
Bersatu dalam kerlingan manja dan senyuman pada sang pujaan hati.

Sepasang insan siap untuk berlayar.. mengarungi lautan kehidupan yang sesungguhnya.

Sayangnya tak semua perahu yang berlayar beruntung.. selalu berada dalam lautan tenang, sinar matahari cerah, angin semilir. Ada saat dimana gelombang tinggi datang. Ada saatnya angin kencang mengacaukan arah tujuan. Ada saatnya.. badai menghempas. Membuat perahu terombang ambing dan terancam untuk karam. Perahu tetap akan terus dapat berlayar, jika semua awaknya mampu bersama, berjuang mempertahankan.

Demikian halnya dengan hari-hari dalam pernikahan. Ada pasang surutnya.. saat ujian keuangan, saat sakit mendera.. saat kehilangan apa-apa yang disayangi. Dan Insya Allah kehidupan pernikahan menjadi tetap indah, ketika semua orang, saling berbagi tugas, saling memberikan semangat, mau bekerja keras untuk mempertahankan pernikahan.

Islam.. dengan kebesarannya, membimbing keluarga-keluarga Islami mempunyai arah dan tujuan yang jelas. Memberikan arahan kepada para suami akan tugas dan kewajibannya. Juga kepada para istri dan anak-anak. Bahkan kepada seluruh keluarga besar.

Sayangnya.. pada prakteknya, hal ini sering disalah gunakan. Kalimat-kalimat yang berisikan doktrinasi dan kesewenang-wenangan yang lebih diutamakan. Bukan contoh berbudi dari Sang Idola, Nabi Muhammad saw.

Banyak para bapak yang sibuk mengutarakan “keutamaannya” sebagai seorang suami, menuntut akan haknya. Lupa bahwa Nabi Muhammad saw, biarpun beristrikan 11 orang, masih mau menjahit alas kakinya sendiri, tak marah dan memilih puasa, ketika tak ada makanan dirumah, ikut memerah susu kambing bagi keluarganya, paling sayang pada cucu-cucunya, rela berlama-lama sujud hanya karena sang cucu ada diatas pundaknya.

Berapa banyak kaum bapak, yang enggan membantu pekerjaan rumah? Dekat pada cucu dan anaknya?..

Disisi lain, banyak perempuan, yang sibuk mengejar “emansipasi”. Tak mau melakukan kewajiban utama, mendidik dan menjaga anak-anak serta rumah tangga) dengan dalih banyak hal lain yang harus diraih. Yang prestasi diri lah.. yang eksistensi diri.. yang karir apapun namanya.. semuanya hanya menjauhkan perempuan dari kesibukannya, menciptakan rumah yang nyaman untuk seluruh anggota keluarga.

Kembali lagi, jika berkaca pada rumah tangga Nabi Muhammad saw, rumah tangga Islami, sesungguhnya merupakan sebuah wadah yang luar biasa. Semua orang yang terlibat dalam rumah tangga ini, diharuskan untuk terus belajar, mengembangkan diri semaksimal mungkin. Semua orang yang terlibat didalamnya mempunyai hak-hak dan kewajiban yang harus dijaga dan diperjuangkan. Semua orang yang terlibat didalamnya harus mempunyai kepekaan dan keinginan untuk membantu serta membahagiakan satu dan lainnya. Kebiasaan untuk bermusyawarah dikembangkan, dengan tetap menghargai sang bapak sebagai penentu keputusan, dengan selalu menerima kritikan maupun saran dari setiap anggota.

Indaaaahhhh… sekali.

Memang bukan hal yang mudah untuk memujudkan. Jika kita mau terus dan terus belajar.. saling mengingatkan.. Insya Allah tercapai.

Semoga kita menjadikan dapat menjadi rumah tangga Nabi Muhammad saw, sebagai contoh utama kita. Menjadikan rumah sebagai surga. Bagi suami, bagi istri juga anak-anak dan seluruh keluarga besar.

Perahupun akan berlabuh suatu hari nanti.. setelah melewati hari-hari pernikahan, di pelabuhan terakhir.. tempat kehidupan baru akan dimulai kembali.. kehidupan akhirat.. yang penuh keabadian.. Amin..

Related Posts with Thumbnails

Comments

One Response to “Hari-hari Pernikahan”
  1. purna says:

    Subhanallah…
    sangat menyentuh…
    .-= purna´s last blog ..Sekelumit tentang Puasa Muharram (Tasu’a dan ‘Asyura) =-.

Trackbacks

Leave a Reply