Hari ke 2 Training

May 22, 2009 by: yanti

Hari ini.. memasuki hari kedua dari Training , Wisma Amarilis IPB Dermaga Bogor

Alhamdulillah.. Aini masih kooperatif (doakan.. akan terus demikian ya sahabat.. agar ilmu yang kami dapat maksimal)

Materi Hari Ke 2

Pembicara hari ini Mr Adam Gudalefsky dan Mrs Ching Madduma.

Dan judul pembicaraan yang dipilih adalah : “EDUCATIONAL PROGRAM FOR NORMAL PEOPLE WHO HAPPEN TO BE “SLOW” INTELECTUALLY”

Menilik dari judul tersebut, kami para peserta diarahkan untuk berfokus hanya pada orang/ anak yang memiliki kelambanan karena kemampuan intelektualnya dibawah rata-rata. Tidak yang memiliki “persoalan” ketidak sempurnaan anggota tubuh. Tetapi dapat juga diterapkan pada anak dengan kemampuan intelektual sempurna. Lalu.. . kedua beliau ini memberikan penekanan yang sama.. “RUMAH ADALAH TEMPAT BELAJAR TERBAIK” Hmmm….. Sangat “klik” denganku… (untuk prinsipnya)

Pertama berbicara dan memperkenalkan dirinya, beliau berdua ini dengan sangat jelas menyampaikan bahwa mereka sangat serius dalam niatnya membagi ilmu.. (dibuktikan pada langkah selanjutnya, beliau dengan sangat tegas dalam menentukan target…, mengarahkan peserta, dan langsung melakukan tindakan nyata (bantuan dan pengarahan) ketika kami para peserta yang membawa anak.. mengalami kerepotan (maklum lah… situasi baru, wajah baru, peraturan baru dsbnya.. yang punya potensi besar membuat anak-anak ini menjadi gelisah) Ah.. ya..satu lagi point plus plusnya..mereka  sangat ramah dan menyenangkan (sebagai sumber informasi pendukung) ini terbukti, ketika saya (alhamdulillah) diberi kesempatan untuk berkonsultasi tentang Aini dimalam harinya… Kami ber-lima (Mr Adam, Mrs Ching, saya, aini dan pak Johan, beliau bagian dari penyelenggara) berbicara dengan sangat akrab..

Kembali ke materi training, menurut mereka berdua (yang diberikan dalam “kuliah singkat” secara bergantian + praktek langsung ke anak-anak peserta) yang bertanggungjawab dan terlibat dalam mendidik anak-anak ini, sebaiknya diurutkan berdasarkan andil terbesar. Yaitu :

1. Ordinary People.. (orang tua pada umumnya (tidak harus memiliki kemampuan khusus untuk menangani ABK) dan para relawan

2. Teaching (para pengajar pada umunya, tidak harus guru, bisa saja.. tetangga, Om, tante, dsbnya)

3. Para Specialis.. (termasuk didalamnya para Terapis, Pedagog, Psikolog dsb)

4. Para Profesional..(mereka yang punya cukup keahlian dan dedikasi)

Tapi kenyatanya.. yang terjadi adalah sebaliknya.. tingkat ketergantungan ABK justru terbanyak (ini yang beredar di masyarakat pada umumnya) pada nomer 4. Ahhh… Ini dibuktikan dengan banyak orang tua yang lebih percaya menyerahkan anak-anaknya ditangan para profesional daripada ditangani sendiri. Alasannya… bisa bermacam-macam, tidak sempat mengurus karena harus mencari nafkah, tidak sanggup menghadapi anak-anak sendiri, tidak mengetahui cara penangannya yang tepat dsbnya.

Apa yang terjadi??? Biaya meningkat pesat.. pengetahuan dan kesadaran orang tua tentang pentingnya bertanggungjawab pada masa depan anak-anak sendiri, dengan tangan mereka sendiri, tidak meningkat, sebaliknya ketergantungan pada para profesional makin meningkat.. (padahal kadangkala.. apa yang mereka ketahui dan berikan tidaklah lebih banyak dari yang kita tahu sebagai orang tua berikan dari rumah, demikian kata Mr Adam).. . Yah.. lebih banyak kerugiannya dari keuntungan (Wowwww)

Yang lebih mengejutkan lagi.., berdua.. para beliau ini, berkomentar.., bahwa sejak kedatangan terakhir mereka ke Indonesia, sekitar 17 tahun yang lalu (mereka selalu berpindah dari satu negara ke negara lain) Indonesia tidak banyak berubah, dalam sisi kependidikannya (Pak Mentri… bagaimana ini???). OOO…o banyak gedung sekolah baru,.. tetapi “isinya” tetap sama.. (tidak melihat keaneka ragaman kemampuan anak untuk diasah sebagai sebuah TALENTA, tetapi membuat sebuah “pola pendidikan tertentu” dengan “standrat tertentu” dan hasil akhir yang “ditentukan”) Dan ini sangat-sangat merugikan ABK, mereka tidak mendapat pendidikan yang sesuai.

Oya menurut beliau, golongan yang termasuk dalam ABK adalah :

A. Mereka yang memiliki “Mental Illness”
Penanganannya lebih ditekankan pada “pertolongan medis”, kadangkala dengan operasi, “shock therapy”, dan obat-obatan. Seringkali mereka dapat disembuhkan.


B. Mereka yang termasuk dalam “Mental Retardation”

Ini yang kerap dikatakan “mengalami keterlambatan”. (Slow intelectualy). Penanganannya bergantung pada pendidikan saja. Oleh karena itu, peranan orang tua, guru, keluarga (mereka yang dikategorikan dalam “teaching group” sangatlah dibutuhkan. Dan sayangnya kelompok ini tidak pernah dapat disembuhkan 100%.( Kabar menggembirakannya adalah  mereka dapat ditingkatkan kemampuannya, yang bergantung  menjadi mandiri, yang mandiri dapat berarti dan memberi pada yang lain)

Memang seharusnya ya… sebelum penangana terhadap ABK dilaksanakan, dilakukan pengamatan dan pemeriksaan terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalahan, seperti yang banyak terjadi diluar sana. (Anak-anak Autistik seringkali mendapatkan obat-obat penenang agar dapat mengendalikan diri, bukan melakukan pengajaran “bagaimana mengkontrol diri sendiri”, akibatnya selain mereka makin mengalami kemunduran, anak-anak ini menjadi bagian dari kelompok para “pecandu” karena ketergantungan mereka pada obat-obatan). (hick hick,… sedih ya…)

Diluar 2 kelompok yang telah disebutkan diatas, masih ada sebuah kelompok lain, yaitu kelompok-kelompok masyarakat yang bertujuan untuk pelayanan sosial (NGO = Non Goverment Organitation”) yang diharapkan punya andil besar dalam membantu. Bantuannya yang diharapkan adalah : Pertama perjuangan mereka membuat “suara didengar”. Suara yang berisikan ABK mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagaimana warganegara yang lain. (Yah.. diantaranya untuk mendapatkan pengajaran). Bukan “dikeluarkan dari” lingkaran pendidikan. (terbukti banyak ABK yang tidak mampu hadir dikelas-kelas umum). Kedua mereka yang bergabung dalam NGO diharapkan dapat melakukan tindakan-tindakan nyata dalam memfasilitasi kebutuhan ABK. (Sayang ini.. kembali berbenturan dengan kendala sarana/ peralatan.. Yah.. Ujung-ujungnya UANG).

Yang menyedihkan seringkali para NGO (yang sesungguhnya, dimasukkan dalam kelompok untuk “diharapkan ikut membantu”) ikut “bermain” dengan memasukkan unsur politik. Menggunakan isu ABK untuk mencapai kepentingan mereka sendiri. (Wah.. ini pas ya.. mau PilPres nih…. )

Akhirnya.. para ABK seringkali lebih nampak berperan sebagai “mengemis”. (duuuhhh sedihnya) dari menuntut haknya. Tidak banyak orang/ organisasi yang memberikan banyak perhatian pada mereka.  (Saya jadi termenung.. “sudah melakukan apa saja ya.. saya selama ini?”)

So.. masuk dalam tahapan “pelatihan”. Seharian.. kami para peserta diajarkan untuk melakukan :

1. Jurnal pagi + olahraga kecil
Langkah pertama.. pendamping (bisa orang tua, terapis, guru dsbnya) berdiri berhadapan dengan ABK.. mengucapkan salam (bisa dengan bahasa dan cara kebiasaan yang ada, misalnya untuk kita kaum muslim dengan Assalammualaykum warrahmatullaahi wabarakaatuh). Langkah kedua, pendamping melakukan pemeriksaan pada kondisi anak, sehat/ demam (dengan meraba kening), bersih (sudah mandi/ belum), kotoran dibelakang telinga, kuku-kuku, gigi.. kemudian pelukan hangat dan bisikan semangat untuk “berjuang” hari ini.
Untuk Olahraga kecil.. kami melakukan gerakan kecil pada kaki (menekuk, menendang, melompat, lari ditempat dsb) tangan (rentangkan ke atas, ke bawah, ke samping, ke depan, berputar dsb) kepala, menggeleng, menengadah, menunduk, menoleh dsb) Baru setelah itu kami melakukan berbaris rapi ke bangku

2. Kelas Berhitung Ahh.. sederhana.. dimulai dengan menghitung anggota tubuh yang berjumlah 1, plus memegangnya.. (ha ha ha.. anak-anak sangat bersemangat) dilanjutkan pada anggota tubuh yang berjumlah 2 (kami berhenti pada angka 2). Kemudian meraba “bentukan 1 dan 2″ yang dibuat dari kertas bertekstur.. setelah itu baru masuk ke menghitung gambar benda, mencari benda yang berjumlah sama dengan angka tertentu, dsbnya..

3. Kelas Kebersihan (Toilet Training) Pengenalan pertama.. anak-anak diajarkan untuk “mengenali” bentuk “sanitary” yang digunakan sehari-hari dirumah. Apakah kloset jongkok, kloset duduk, jamban dsbnya (lengkap dengan alat pembersihnya, apakah menggunakan shower, gayung dsb). Dengan menunjukkan gambar-gambar tentang hal ini dipapan.
Setelah itu beliau mengarahkan anak-anak untuk menjawab “runtunan” kegiatan ketika ke kamar mandi, dari masuk ke kamar mandi, membuka celana, melepaskan celana, menggantungkan hingga keluar kembali dalam keadaan sudah bersih. Setelah itu ia meminta para pendamping anak, untuk mengawasi dan membimbing ABk masing-masing di kamar mandi yang telah disediakan.

4. Kelas Olahraga dan permainan
Ah.. ya.. kami bermain bola…

5. Kelas Suara atau Komunikasi
(dilewatkan karena terbatasnya waktu)

6. Kelas Cuci Tangan
Mrs Ching.. datang dengan membawa sebuah sabun, handuk tangan dan air.. satu demi satu dari para ABK diminta memegang bentuk, merasakan tekstur dan efeknya pada kulit, mencium aroma. Setelah itu beliau menjelaskan kegunaan dari masing-masing benda. Dan… ha ha ha.. waktunya cuci tangan… berhamburan anak-anak ini menuju washtafel.. ha ha ha..

7. Kelas Makan Saatnya makan… kembali dari mencuci tangan, ABK diminta untuk membuat barisan di depan meja makan.. mencoba teratur, mengambil makanan dan minuman di meja, mengucapkan terima kasih pada Mr Adam yang membagikan, berjalan perlahan menuju tempat duduk, bersabar hingga semua teman berkumpul, berdoa bersama, makan bersama, berbagi, menutup dengan doa, mengembalikan alat-alat makan ketempatnya dan membuang sisanya ke dalam tempat sampah. Ahh… So sweet…

8. Kelas Sikat Gigi
Kembali duduk para ABK diperkenalkan pada peralatan untuk menyikat gigi.. dan pelajaran untuk menyikat gigi pun seirama dengan pelajaran mencuci tangan… ABK?? antusias..

9. Kelas Multysensory Disini semua panca indera di coba untuk dibangkitkan rasanya.. dengan sentuhan, dengan beraneka rasa, dengan beraneka warna dengan beraneka teksture benda, dengan berbagai jenis suara, dsb.. Ya… semuanya dicoba (Ha ha ha kami tertawa geli melihat ekspresi Aini mencoba lada dan kembali tertawa ketika Aini minta tambahan gula yang dicobanya.. ha ha ha)

10. Kelas Cuci Tangan setelah makan
ABK mulai paham.. ketika mereka diminta untuk mencuci tangan.. segera menuju washtafel.

11. Kelas Kata
(dilewatkan karena terbatasnya waktu)

12. Kelas Membersihkan
(dilewatkan lagi)

13. Kelas menyanyi dan menari) (sayang kembali tidak dilaksanakan karena terbatasnya waktu

14. Kelas anak-anak pulang

ABK berbaris dengan tertib.. didepan para pendamping.. kembali pemeriksaan akan suhu tubuh (dengan meraba kening) ah. ya.. untuk kelas pulang ada penambahan.. jika para pendamping yang bukan orang tuanya, merasakan anak-anak ini tak sesehat biasanya, para pendamping diharapkan untuk menghubungi orang tua dan menyampaikan keadaan ini, agar sang anak segera tertangani dengan baik. Berlanjut ke pemeriksaan anggota tubuh dan peralatan (jika membawa). Terakhir.. memberikan penghargaan atas apa yang telah mereka lakukan dan berharap mereka akan melakukannya lebih baik di esok hari

Hmmm… ini hal yang luar biasa..

Seringkali kita (para orangtua) mengabaikan hal-hal demikian (termasuk untuk anak-anak normal). Menganggap anak-anak ini akan “bisa dengan berjalannya waktu”. Atau seringkali merasa tindakan-tindakan diatas tidak teramat penting. (Berbeda dengan sekolah atau kursus yang mendapat perhatian luar biasa, ketika sedang berjalan maupun disaat menunggu hasil ujian).  Padahal hal-hal yang diajarkan diatas adalah bagian dari “Kemampuan Bertahan  Hidup = Life skill”. Banyak aspek yang akan berkaitan disana, dari kesehatan, kebiasaan teratur, kontrol diri, “Manner”, hingga rasa syukur kepada Allah. Coba bayangkan jika mereka tak mampu melakukan aktifitas “Toilet Training” hingga dewasa.. Wowww… (sepertinya ditempat-tempat umum, masih sering kita jumpai para dewasa yang tidak melakukan Toilet Training dengan baik, terbukti.. ketika masuk ke KM umum…  ada kejadian yang bikin kita  waaaaaaa!!!!! atau “hueeek.. hueeek”)

Dan sekali lagi (diingatkan oleh kedua narasumber diatas) para “Slow Intelectually”  haruslah mendapat pengajaran untuk dapat  melakukannya, bimbingan untuk konsisten, pujian/ penghargaan agar mereka mempunyai kebanggaan dan percaya diri, sehingga mereka bersemangat dan mau melakukan lagi sebaik-baiknya  (Tidak akan pernah bisa dengan teori “akan bisa dengan berjalannya waktu”)

Yang luar biasa lagi.. Kelas-kelas diatas.. cukup membuka wawasan.. “mengajarkan itu mudah dan menyenangkan”.. Mudah karena digunakan alat dan cara yang sederhana. Menyenangkan karena…. oooo its fun. Kami semua tertawa dan bercanda ketika melakukannya. Yah.. tanpa kehilangan nilai mendidiknya.  Contohnya.. Permainan melempar bola. (kelas permainan dan olahraga)  Para peserta diminta untuk saling melempar bola (bola yang dipakai boleh apa saja.. bahkan dengan kaos kaki yang tergulung!!!) dengan kedua tangan. Dari lemparan rendah.. hingga melempar harus melewati kepala Mr. Adam. Tujuannya.. Pengenalan permainan Volley… Ho ho ho

Atau pada pelajaran menyikat gigi…, anak-anak dipilihkan sikat gigi dengan warna kesukaan (Aini dapat yang pink) handuk kecil yang sewarna (di match..).. membuka tutup pasta gigi dengan putaran 4 x.. dsbnya.. hingga selesai.. Anak-anak ini melakukan dengan muka berbinar-binar.. Subhanallah

Bahkan Aini sangat-sangat menikmati, kelas demi kelas yang ada…

Oya Aini dengan teman-temannya disini, mereka ber 6.  Kemampuan dan usia mereka bervariasi.. dari 4 tahun hingga 15 tahun. Dari yang sudah dapat duduk manis dan mampu mengontrol diri hingga yang masih.. sangat sulit. Mudah-mudah mereka akan melewati hingga akhir pendidikan ya… (please Pray for them.. Jazakumullahu kh kn) Yah.. 5,5 hari yang direncanakan ini bagaikan sebuah perjuangan marathon.. mengingat kemampuan ABK (kita-kita para peserta yang berumur saja pasti lelah… apalagi mereka…)

Ok… Tuntas hari ini…Sampai besok yah…. di Hari ke 3 Training

Related Posts with Thumbnails

Comments

22 Responses to “Hari ke 2 Training”
  1. pretty useful stuff, overall I think this is worth a bookmark, thank you

  2. hey,Awesome blog post dude! i am just Tired of using RSS feeds and do you use twitter?so i can follow you there:D.
    PS:Do you considered putting video to the blog posts to keep the readers more enjoyed?I think it works.Yours, Venessa Taucher

  3. iCollegeInfo says:

    Hi there could I reference some of the insight found in this blog if I reference you with a link back to your site?

  4. Hello,just identified your Blog when i google something and wonder what web hosting do you use for your wordpress,the speed is more faster than my website, i really want to know it.will back to check it out,many thanks!

  5. Thank you for the information, going to bookmark the site!

  6. Thanks for posting. Good to see that not everyone is using RSS feeds to build their blogs ;)

  7. Hey there, This page is rather educational and fun to read. I am a huge follower of the things blogged about. I also love reading the comments, but it seems like a great deal of readers need to stay on topic to try and add something to the original topic. I would also encourage all of you to bookmark this page to your most used service to help get the word out. Thanks

  8. Elliot Abaja says:

    Took me time to read all the comments, but I really enjoyed the article. It proved to be Very helpful to me and I am sure to all the commenters here It’s always nice when you can not only be informed, but also entertained I’m sure you had fun writing this article.

  9. Nancie Ashe says:

    Thankyou very much, I have found this extremely useful!

  10. Raymundo Noy says:

    This post makes a lot of sense !

  11. What is the a good option? I need to get rid of the European Currency.

  12. Post your – Hari ke 2 Training « cahayamuslimah.com informatively written, but do not agree with some points

  13. What comes next, the € slipped presently below :-o

  14. I must eliminate the Euro. What is the a option?

  15. I have to stay away from the European Currency. Is there a replacement?

  16. Spitze Design hat dieser Blog. Woher hast du die Vorlage ? War bestimmt sehr teuer.

  17. Daily File says:

    Thanks for this good read. I really preferred it and I have bookmarked you to take a look at the recent stuff you post.

Leave a Reply