Alhamdulillah,… sampai juga hari ke 3, Training, (melanjutkan posting hari ke 2 Training)
Semalam.. Aini tidur malam.. (kebiasaan di keluarga kami, jam 8 malam sudah persiapan untuk tidur.. dan sudah “berlayar ke “pulau kapuk” sekitar jam 21.30 an. Kecuali untuk yang masih punya tugas esok hari.. (ulangan atau pekerjaan rumah untuk putri sulung dan sang abang, he he he.. saya dan Imam dengan dunia internet + pekerjaan rumahan..)) Ditambah dengan perubahan jadwal aktifitas.. (biasanya sempat tidur sejenak diantara perjalanan sekolah dan tempat terapi) dua hari ini, setelah Aini mengikuti tata tertib Training… Saya memberinya kesempatan untuk sedikit lebih lama tidur… jam 6.30 baru saya bangunkan.. Alhamdulillah semangat.. mandi semangat.. sholat subuh semangat (atau sholat dhuha ya nak?.. ha ha ha). Sarapan.. agak sedikit kecewa dengan menu nasi uduk (padahal uenak looo) kurang semangat.. Alhamdulillah.. di Kantin Wisma Amarilis.. bertemu sayur bening bayam… Hmmm semangat… satu piring nasi putih, semangkok sayur bening bayam, satu telur mata sapi, segelas teh hangat… Yummmmiiiii (mungkin Aini merasa jenuh dengan “menu dewasa” ya….) Sebenarnya (teorinya) saya gak boleh kasih Aini, kenikmatan memilih makanan.. (kata Mr Adam.. “Let’s the children eat all the food, never give the reason to make a request”.. sebagai bagian dari pendisplinan dan rasa syukur atas apa yang direjekikan ) Ahhh… maaf Mr Adam.. sekali ini saya melakukan pelanggaran… Lagian.. uuuhhh sayur bening bayam… sueger… dan bergizi… siapa sihhh yang berani menolak????
Perut kenyang… dengan gagah.. Aini masuk ruangan Aula, tempat kami belajar.
Periode pertama… Morning Journal + Exercises…
Mr Adam membuat sebuah pengumuman… “Hari ini ABK tidak boleh didampingi orang tuanya.. mereka akan didampingi oleh peserta lain.. sebagai latihan dari pelajaran yang sudah didapat kemarin”.. OK.. saya sihh setuju-setuju aja… Dan.. (taaa-araaaaaa) disebutkan nama IBU A.. yang akan mendampingi Aini.. (OOOO oo) This Lady.. dari hari pertama sudah membuat langkah-langkah pendekatan pada ABK, termasuk Aini.. Sayangnya.. caranya ia melakukan pendekatan ini.. Hmmm terlalu “berlebihan”… (Maaf ya.. ini penilaian saya terhadap reaksi Aini, yang selalu terkaget dan lari ketika Ibu A menyapa) Ah ya.. bagus sih.. sebelum ibu A mendekati Aini, beliau minta saya menerangkan pada Aini.. apa yang akan dia hadapi. Tapi sekali lagi.. sangat sayang.. tidak menanti reaksi positif dari Aini…, saat Aini masih menatap saya dengan mata terbelalak.. dan mulutnya berkata tidak-tidak.. Ibu A telah menarik Aini dalam “lingkarannya”..!!!! Uppsssss….
Uhhhh…. Hatiku teriris dalaaaammmm…
Apa yang ada didepan mataku.. membuat saya ingin ikut melakukan perlawanan.. sama seperti apa yang Aini lakukan pada ibu A yang kebetulan tubuhnya cukup besar… memaksa Aini untuk mau melakukan gerakan-gerakan Morning Journal plus Olahraga, ditingkah dengan kalimat-kalimatdalam nada tinggi dan dingin, meluncur dari mulutnya.. menyuruh Aini tak lagi menangis serta mau mengikutinya (Jujur, detik itu saya tidak mau peduli apa kata orang.. saya hanya melihat anakku tercinta merasa dalam situasi yang tak nyaman.., dan secara fisik.. , walaupun tubuh kecil itu sudah berusaha sekuat tenaga, tak cukup mampu melepaskannya… dan suaranya yang tak jelas apa tujuannya berteriak-teriak) Tapi.. Kepalaku.. masih membisikkan.. “Sabar.. biarkan Aini belajar mengalami “dunia sesungguhnya”.. So.. saya berdiri menjauh.. meneteskan airmataku… Sambil terus melantunkan doa agar.. sesegera mungkin Aini dapat beradaptasi… Ibu Lia.. peserta yang terdekat denganku memelukku dan membisikkan semangat untuk tidak menyerah.. Terima kasih ibu.. simpati ini sangat saya perlukan saat itu. (Jujur.. sayapun bukan “JENIS IBU PENYABAR”.. tapi disini saya merasa “Its too much”.. karena memang jujur.. walaupun saya juga banyak melakukan kesalahan dalam mendidik anak-anakku (termasuk sikap marah berlebihan).. tapi saya adalah seorang ibu.. yang jujur.. tidak pernah tahu apa itu kasih ibu.. saya mendidik anak-anak saya awalnya berdasarkan metode pendidikan seorang pembantu (duuuhhh kasihan ya… ayo ibu-ibu berkaca pada pengalamanku, plase…jangan serahkan anak-anak kita pada pembantu…)karena saya produk didikan pembantu.. tapi saya belajar dan terus belajar untuk makin baik.. sedangkan ibu A.. beliau seorang pendidik (sempat disampaikan pada saya dalam sebuah perbincangan santai antar peserta) seorang terapis pula.. bagian dari kelompok seharusnya mensupport ABK,. ini tidak seharusnya dilakukan oleh ibu A.
Ah… pada akhirnya saya tak lagi dapat menahan rasa hati.. ketika saya melihat Aini.. dengan terseret-seret.. menuju kamar mandi dengan ibu A.. Suara teriakannya di kamar mandi.. membuatku bergetar hebat..
Segera saya datangi Mrs Ching.. Saya katakan.. bahwa saya sangat tidak dapat menerima perlakuan ibu A di kamar mandi.. saya katakan ini sudah tergolong “Abuse”.. OOO.. rupanya karena terjadi “Atraksi” yang cukup heboh tadi.. semua orang menjadi “terpukul”.. Ditambah dengan perintah dari Mr Adam.. “Not Pay Attention to Aini and Mrs A”.. Hampir tidak ada yang menyadari Aini telah berpindah lokasi… Berdasarkan permintaan sayalah maka Mrs Ching dan Pak Johan.. segera menuju kamar mandi.. mengeluarkan Aini dari sana..
Ingiiinnnn sekali saya segera berlari… memeluk Aini… Tapi sekali lagi.. saya tidak mau melakukan hal-hal yang lebih memperburuk keadaan.. saya menyadari saya berada dalam sebuah pelatihan. Ada pelatih (Mr Adam dan Mrs Ching) ada Panitia Penyelenggara… saya ingin situasi ini mereka yang selesaikan. Berat.. hati ini.. luka dihati sudah makin tersayat.. tapi saya harus kuat.. demi Aini.. demi berhasilnya Training ini.. demi… demi.. kewajiban saya sebagai hamba Allah.. untuk bersikap tabah dalam menghadapi perjuangan.. Apa yang saya lakukan tadi sudah cukup (menurutku) untuk mengembalikan situasi terkendali.
Lanjut…. Kami para peserta diminta kembali ke tempat duduk masing-masing, lanjut ke materi berikutnya.. para ABK.. diajak untuk “break”.. bermain diluar gedung… oleh pak Johan
Uhhh… hati dan pikiranku sudah tak lagi dapat diajak kompromi… saya tidak mampu konsentrasi pada apa yang diucapkan oleh para trainer… hingga..saat para ABK kembali ke ruang Aula… Ah… I see my Aini.. with her shiny face.. Ahhh… saya lega.. dan bersyukur…
Kembali para ABK diminta duduk ditempat semula… saya melihat.. para orang tua kembali mendampingi para ABK.. (kebijaksanaan dirubah?.. tapi saya tidak mendengarnya.. atau karena saya sibuk termangu-mangu memikirkan Aini.. sehingga tak mampu mendengar instruksi itu???) OOOHHH saya tidak tahu mesti berbuat apa…bimbang.. maju menemani Aini.. ataukah tidak. Bertanya pada ibu Ages.. (salah satu team penyelenggara) beliau menyarankan untuk sebisa mungkin memberi ruang pada Aini.. jika ia tidak membutuhkan.. Ok.. saya terima saran itu.. dan jadilah Aini seorang yang tanpa pendamping dari ke 6 anak ABK, yang mengikuti pelatihan hari ini. Mereka berada di depan, dalam deretan para pemain.. sedang saya dalam deretan penonton.. duduk mengelilingi para ABK dan pendamping.. Kami kembali masuk dalam kelanjutan Training. Sesekali Aini melihat kepadaku.. saya acungkan kedua jempol untuk memberi semangat… Uhhh bahagia saya melihat wajahnya tersenyum…Sampai… masuk ke permainan.. dibagikan secarik kertas dengan tulisan pada setiap orang, isi tulisannya nama hewan + suaranya. Mrs Ching bertanya.. pada Aini, mana pendampingmu? Apakah kau sudah bisa membaca? Bagaimana caramu mengikuti permainan ini? Aini hanya diam.. dengan tangan tetap terulur meminta bagian kertasnya.. Dan Oma (kami memanggilnya demikian.. seorang ibu yang menjadi “penterjemah” selama kegiatan ini berlangsung) memintaku … “mama Aini.. majulah..”. OOOOO bahagianya.. bagaikan ingin terbang saya lari kesamping Aini…
Ah.. ya.. ada sebuah situasi yang memperburuk keadaan (menurutku) adalah.. ketika para ABK ini.. berlarian kesana kemari, terutama pada sikembar.. (dua dari ABK yang hadir adalah anak kembar, usianya sekitar 4 tahun), beberapa saat setelah mereka kembali dari “break” bersama pak Johan. Mr Adam…mengeluarkan “statement” bahwa… yang perlu didisplinkan adalah para orangtua, bukan ABK. Terbukti ketika ABK melakukan “break” saat cooling down disituasi Morning Journal.. ke 6 anak ABK ini dapat di kontrol hanya oleh Pak Johan sendiri.. (mereka mampu diarahkan) dan.. secepat mereka kembali ke Aula.. secepat itu para ABK kembali tak terkendali…” (OOOO ALLAH… ALLAH).
Jujur.. saya mau bilang statement itu memang ada benarnya.. (banyak orang tua ABK yang tidak memberikan kesempatan ABK mandiri bahkan cenderung memperburuk keadaan) tapi… disituasi Aini… Saya gak tahu.. apakah saya masih masuk dalam “kriteria” orang tua demikian????.. Ah.. anggap saja saya tidak pernah mendengar statement itu.. (Mode Cuek.. di On kan…)
Berlanjut….
Hal yang terasa pada Aini.. setelah saya kembali duduk disebelahnya dia tak mau lagi saya “lepas”.. berkali-kali ia meminta “mama jangan pergi”.. dijaganya saya selalu dalam radius pandangan mata. (Ahhh yaa… malam ini beberapa kali ia terbangun dari lelapnya, terduduk, menangis dan. mengatakan.. ibu jangan pergi, takut pada ibu A, mana Bapak (sebutkan bagi pak Johan dari Aini)… Oooo) Nak.. ibu tahu ini sulit bagimu.. tapi ibu juga tahu.. Aini akan sanggup melaluinya.. ah.. bahkan mungkin akan dapat menjalin persahabatan dengan ibu semodel ibu A.. Memberikan pengertian pada mereka.. bahwa engkau, Aini.. putri cantikku.. punya cara santun untuk berdisiplin.. sebagaimana Nabi Muhammad mencotohkan dalam mendidik generasi muda. Please… My princess please… I know You Can..
Saat Break Snack.. ibu A mendekatiku meminta maaf, bersimpati dan mendoakan agar Aini segera dapat mandiri… hatiku pun menjadi sedikit luluh (duuhhh.. saya sebenarnya masih.. sengggiiitttt) lalu…beliau menjelaskan saat Mrs Ching masuk kedalam kamar mandi sebenarnya.. Aini sudah hampir dalam kontrolnya dan mereka ke kamar mandi, karena Ainii mau BAK… bukan untuk “penanganan khusus” seperti yang saya “duga”
Wahhh… “darah kembali naik ke kepalaku”…. (menurutku) Pertama.. Ia merasa bangga, bahwa ia punya cara tersendiri untuk “menaklukkan Aini”.. Kedua.. Ahhh saya cukup kenal Aini.., dalam situasi terjepit.. ia akan meminta untuk BAK atau BAB sebagai upayanya untuk melepaskan diri.. Ketiga.. kami baru dijam 8 pagi.. baru saja dari BAK terakhir (Aini mandi jam 6.40 an) butuh waktu 3 atau 4 jam.. umumnya Aini melakukan BAK berikutnya .. Ke-empat.. Pada “kuliah” hari sebelumnya.. kami baru saja membicarakan.. untuk mencoba berbagai macam cara kreatif mengajar ABK.. Laa ini.. Aduuuh kesannya jadi “main gasak” dan pertunjukan “I am the controller.. like or dislike You Must Obey me”… (ahhh.. kedengaran seperti pembelaan diri seorang ibu ya…. ??? Ugh.. Atau bagaimana jika anda, sahabat yang ada diposisi saya???)
Sebagai perbandingan, saya akan memanggil Ibu Yanti, Bu Lia, Bu Sri, Pak Saminto… (mereka guru-guru Aini di TK Al Marjan) mereka telah membuktikan bagaimana “mengarahkan dan mendidik” anak-anak TK Al Marjan dengan cara yang jauuuuhhhh lebih santun dan penuh kasih sayang… “Mampu membuat anak-anak TK yang di hari-hari awal sekolah sangat luar biasa lincah dan tak dapat diarahkan.. menjadi anak-anak yang sangat santun, tahu kewajiban, penuh kasih sayang, penolong.. tahu aturan… ah.. ya.. anak-anak idaman..” Percaya atau tidak.. bahkan ketika mereka melakukan kunjungan keluar sekolah… guru-guru ini selalu dapat membuat situasi terkendali, tanpa bantuan wali murid satupun Subhanallah.. DENGAN TANPA KEKERASAN, PEMAKSAAN, TERIAKAN, BAHKAN PUKULAN Yah.. dalam hal ini kembali saya membuktikan.. AL MARJAN telah mengajarkan saya bahwa apa yang dilakukan ibu A salah besar…. NOL besar…. Itu bukan cara pendisplinan terbaik..
Satu lagi pembuktian.. ABK rentan mengalami “ABUSE”. (Duuuhhh… makin banyak “asap” yang keluar dari ubun-ubun kepalaku…. maaarrrraaaaah!!!!)
Tapi.. kembali saya berfikir.. marah bukan jalan terbaik.. saya kembali bicara dengan ibu A (maaf ya.. kalau masih dengan “nada tinggi”… keeessseeeellllll sih) Saya sampaikan bahwa kita semua disini belajar.. saya belajar bagaimana “menerima” situasi Aini… mendorongnya untuk “terus mampu bertahan”.. mengawasi dengan ketat.. dan segera membuat tindakan jika saya “merasa” Aini tidak lagi di “Safe MODE”.. Saya belajar ini mengendalikan luka dihati, airmata bercucuran.., kekecewaan dan kemarahan dalam dada sebagai sebuah doa yang kuat (Doa ibu adalah Doa yang diijabah Allah… tak ada sangsi lagi) untuk menjadikan Aini muslimah sejati.. someday.. Karena saya tahu.. sepanjang hidup kita semua akan mengalami situasi “UNCONTROLLE”… tidak terkecuali Aini. (OOOHHH..walaupun jujur dalam hati saya selalu berdoa.. agar Aini, Putri sulung dan Abang.. akan menjadi orang yang selalu “terjaga” dari hal-hal yang menyakitkan sedang Allah akan menolong mereka disaat yang tepat)
Sayapun meminta ibu A untuk introspeksi.. apa yang terjadi.. terutama.. mengasah “bahasa tubuh” baik dalam “membaca” lawan bicara maupun “memberikan informasi” kepada lawan bicara.. Tidak lagi memaksakan..
Saya melihatnya.. mengatakan akan berintrospeksi…sooo… kami berjabat tangan dan saling peluk..
Ok.. saya menutup.. lembaran ini.. dan memulai lembaran baru
(Ehmmm… saya letakkan ini dalam postingan.. karena jujur.. saya terlalu sering mendengar tentang ketidak harmonisan orang tua dengan para pendidik (bisa guru, bisa terapis, bisa shadow.. dsbnya).. Lebih banyak karena kecenderungan pada praduga-praduga.. bukan fakta.. dibumbui dengan Miss Comunication…Dan satu lagi Lembaga yang menjadi wadah bagi berlansungnya hubungan yang tidak harmonis tersebut.. tidak melakukan apapun.. untuk “mencairkan” situasi.. Tak jarang dengan berjalannya waktu kekeruhan makin mengental.. hingga meledak menjadi “BOM WAKTU”… Jika sudah demikian.. siapa yang rugi??? Yaaaa semuanya… tanpa terkecuali.. Karena itu tulus saya berharap kita semua dapat belajar dari kejadian yang sangat tidak menyenangkan hari ini.. Terima kasih untuk kesediannya)
AHHH… tentang Materi hari ini…. Maaf ya… menyusul…
Bersambung ke..M ateri hari ke 3 dan hari ke 4 Training






Jazakillah doanya… saya tetap berusaha menulis nih… karena makin hari sepertinya makin baguuusss materinya.. sayang kalau para sahabat tidak sempat dapat manfaat. (insya Allah)