Hidup dengan Kekhususan
May 14, 2009 by: yantiAda banyak istilah untuk sesuatu yang tidak biasa. Diantaranya kata “khusus”.
Hmmm
Dunia selalu penuh dengan hal yang khusus.. yang tidak biasa. Bahkan untuk menampilkan diri, seseorang sangat senang untuk mengkhususkan dirinya.. Agar tampil beda. Agar terlihat menonjol. Agar menjadi seseorang yang istimewa. Alamiah ataupun direkayasa.
Hmmm
Yang sering terlupakan adalah bagaimana menempatkan dirinya dengan hal yang bersifat khusus agar bermanfaat.. Ya.. jangan-jangan malah jadi norak.. atau bermasalah jika tak mampu mengelola kekhususan itu.
Buku “Tumbuh di Tengah Badai” Karya Herniwatty Moechiam sebuah cerita nyata yang mengangkat bagaimana sebuah kekhususan itu dapat menjadi berkah. Jendela kebahagiaan dunia, jendela bahagia akhirat dan.. jendela untuk sesama.
Buku ini cukup lugas, hari demi hari yang penuh dengan “badai”, dituangkan tanpa ada tedeng aling-aling. Ibu, sosok yang selama ini “didaulat” sebagai satu-satunya sosok yang punya kemampuan membakar semangat anak-anaknya terbukti disini… Ohhh saya salluut luar biasa pada ibunda satu ini. Yupp… Memiliki anak-anak berkebutuhan khusus, sudah mulai “jamak” akhir-akhir ini, karena dari hari ke hari, jumlah anak-anak yang terdeteksi berkategori Anak Berkebutuhan Khusus makin banyak. Tetapi jumlah ABK yang mampu “keluar” dari lingkaran “kekhususan” ini masih sangat sedikit. Nah… Ibu Herniwatty dan Catra, adalah bagian dari kelompok kecil para ABK yang luar biasa itu. Yang cemerlang. Yang bersinar bagai mutu manikam. Yang mampu membuktikan dengan berjuangan keluar dari lingkaran autistik
Bagian yang sangat menarik hatiku dari buku adalah… cerita tentang sang bapak
Kenapa???
Oppps… Saya tidak ingin menampik banyaknya fakta, tentang pernikahan-pernikahan yang hancur, dengan hadirnya buah hati yang termasuk dalam ABK. Dan pada umumnya, bapak adalah sosok yang paling lama ”terjerat” secara mental, ketika mengetahui keadaan anaknya. Mungkin karena (kata para psikolog) laki-laki punya kecenderungan, tidak mampu mengekspresikan dengan baik, apa yang ia rasakan ,ditambah sifat ego para bapak yang lebih tinggi dari para perempuan.. . (Beda dengan kaum perempuan, salah satu caranya berkomunikasi adalah berbicara panjaaaanng leeebbbaaaar. Bahkan kadang kala ditambah dengan pengulangan yang berulang-ulang (ha ha ha… ini karena saking senangnya bicara dan menggosip)), wajar jika para bapak ini menjadi pribadi yang tak tersentuh dan terkurung. Sebagian dari para bapak ini akan meluapkan perasaan tak nyaman memiliki putra/i ABK dalam kemarahan sebagian lagi dalam ketidak acuhan sebagian lagi dengan mencari “dunia lain” sebagai tempat melarikan diri. (maksudnya… istri lain gitu loooo) Yah.. syukur alhamdulillah jika ada yang meluapkan rasanya dalam ke”BESARAN ALLAH swt”.. ini yang terbaik menurutku…
(Oooo nanti dulu…, saya mendengar dan setuju jika ada yang bicara.. “Alaaah kaum ibu juga banyak yang melakukan hal yang sama… Betul. Tetapi sekali lagi karena beberap kodrat illahi,.. Perempuan gampaaang nangis, gampang.. curhat (*Upsss kadang kelewatan semuaaa urusan dicurhatin*) dan punya hati yang lebih dekat pada anak-anak (kan sudah diasah dengan 9 bulan 10 hari berduaan dengan sang anak) mereka lebih banyak yang cepat “recovery”.. ini hasil survey looooo)
Kembali pada buku “Tumbuh di tengah Badai”, bukan sebuah kebetulan, jika Allah memilihkan skenarion untuk sang ayahanda Catra..,dalam melampiaskannya “ala” luapan emosi.. sedemikian hingga sangat temperamental. (Sang Ibupun.. walaupun tak secara lugas diangkat.., bersikap tempermental juga). Berat memang hidup mereka…(Catra, ibunda dan 2 orang kakaknya).. Tapi dengan tidak menyerah, walaupun beberapa kali harus terpuruk, dan hampir mengakhiri hidupnya.. perjuangan ini membuahkan hasil. Tepat sekali, seperti yang Ibunda Catra tuliskan dalam buku itu
“Allah tidak mungkin salah atau keliru dalam meletakkan setiap orang di posisinya”.
”Allah sangat tahu apa yang terbaik bagi semua orang”
”Hanya orang-orang tertentulah yang akan IA berikan peranan yang istimewa, karena memang mereka orang-orang istimewa dan mempunyai kemampuan istimewa untuk mengatasi masalah”
”Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak mau merubah dirinya sendiri”
Jadi untukku buku ini cukup menyadarkanku.. untuk tidak banyak meratap.. tidak banyak menunggu uluran tangan orang lain.. mau makin keras berjuang.. Dan menghargai diriku sendiri.. sebagaimana Allah telah sangat menghargai dan meletakkanku diposisi istimewa.. berjajar dalam deretan mereka-mereka yang terpilih untuk melewati saat-saat istimewa. Memupuk tinggi rasa percaya diri.., bahwa dengan hanya bergantung kepada Allah, tak ada kata yang tak mungkin. Ah.. satu lagi (hi hi.. selalu saja ada yang tertinggal, dan baru teringat kemudian) Catra mampu membuktikan dari “anak yang tidak diperhitungkan”.. dapat menjadi anak yang akan menentukan… Ya.. dengan diagnosa dokter diumur belianya, bahwa Catra tidak akan mampu dalam dunia akademik dapat di”lawannya” dengan pembuktian nyata ia mampu diterima di 3 universitas kenamaan Indonesia, (dua diantaranya UI dan Gama) (Mudah-mudahan Allah juga akan memberi kesempatan yang sama bagi Aini.. menjadi muslimah yang punya kiprah berarti bagi sesama makhluk Allah Amin…)



















































Amin ya.. Rabbil Alamin..
Jazakallahu untuk supportmu sahabat….
Salam
Subhanalloh, saya selau terkagum-kagum dengan sosok-sosok orangtua yang diberi cobaan atau mungkin anugerah, namun sabar, tegar dan kuat dengan kesabaran, itu layaknya ladang pahala. bener ga Bun..
Hmmm… betul.. Allah sangat pengasih dan penyayang.. ujian hidup pun, dirancang berbeda untuk setiap hambaNYA… Subhanallah.. Alhamdulillah ya Allah (bukan type UASBN yah….) ha ha ha.. artinya kemungkinan “lulus” besar yah??? Artinya.. kita harus tetap semangat… (insya Allah)
)
Salam kembali.. kakak cantik… Hmmm sependapat… (Haaalllooo Catra.. kami “mengagumimu” looo teramat sangat)
Subhanallah.. demikian adanya Allah Sang Maha Mengetahui dan Maha Pengatur..