Kasih Ataukah kuasa?

May 3, 2009 by: yanti

Saya sering berada dalam ragu (astaghfirullah, kata ustadz, ini pekerjaan syaitan) dalam mendidik anak-anakku, keraguanku terbesar adalah mencoba memahami dan berusaha untuk jujur, pada  setiap tindakanku. Apakah saya telah melakukannya karena kasihku pada mereka? Ataukah lebih pada sikap berkuasa? Kuasakan hak orang tua pada anak.

Ehmm kok tepat sekali, sedang gamang begini, saya mendapat buku bacaan  berjudul “My Sister’a Keeper” keluaran dari Gramedia dan buah tangan dari Jodi Picoult.buku12 Saya diingatkan bahwa “ Setiap anak adalah individu yang mandiri ” Hal yang cukup sulit untuk dipahami apalagi diterapkan  bagi orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus. Jujur. Kami cenderung untuk lebih berat pada anak-anak special ini.

Dalam buku ini, Jodi sang pengarang dengan cukup piawai menceritakan kasus keluarga yang memiliki anak penderita Leukimia (kate) . Bagaimana perasaan ingin bertanggung jawab kepada sang anak yang sakit, sang ibu bertindak  seolah-olah  mengorbankan kepentingan anak-anak yang lain, (sang abang Jesse dan sang adik Anna).

Hmm Jodi Picoult juga menghadirkan sosok sang adik (anna), yang dengan kemajuan teknologi, dipersiapkan oleh orang tuanya sejak sebelum ia ada,  semata-mata hanya untuk membantu kesembuhan kakaknya. Cerita yang semula meningkat tajam, karena Anna melakukan tindakan dramatis, menyewa pengacara untuk melakukan penolakan pada rencana-rencana orang tua (yang sudah terjadi sebagian) mengambil bagian-bagian dari tubuhnya untuk di transplantasikan pada sang kakak, akhirnya justru berbalik pada titik haru. Haru biru menyadari bahwa sisi kasih Anna sebenarnya sangatlah besar pada sang kakak (Kate) ia benar-benar menjiwai peranannya sebagai satu-satunya penolong bagi sang kakak. Perjalanan persidangannya, turut mengupas kalimat-kalimat yang sebagian besar juga mempertanyakan kebijaksanaan sang ayah (brain) dan sang ibu (sara) yang banyak mengambil keputusan hanya berdasarkan satu titik, kesembuhan kate. Bagaimana situasi keluarga yang memiliki ABK pun dipaparkan dengan baik, ketegangan sang ibu, ketegangan sang kakak, ketengangan sang ayah, juga ketegangan dari Anna, sebagai tokoh utama. Termasuk juga jalan yang masing-masing pilih untuk melepaskan ketegangan itu.

Ugh.. bagus-bagus.

Endingnya pun sangat elegan. Tetap meletakkan Anna sebagai seorang anak perempuan istimewa, menyelamatkan dan memberikan kesempatan hidup bagi sang kakak.

Ungkapan hati setelah membaca buku ini  : Buku ini juga membuatku kembali tersadar.. bahwa hidup dengan 3 anak, dimana yang seorang ABK sangatlah tidak mudah. Bukan hanya soal biaya, soal perasaan, soal waktu, soal kasih-sayang dsbnya.. harus sangat teliti dan hati-hati saya bagikan pada mereka bertiga. Kusadari juga, pasti  sulit untuk putri sulung dan putraku, jika mereka terus menerus melihat Aini lebih mendapat banyak kemudahan dibandingkan mereka berdua. Ini pernah tercetus, sang putri sulung mengungkapkan padaku.  Saat itu kira-kira Aini belum lagi genap setahun, hari-harinya dilakoni Aini dengan melakukan banyak program penyembuhan . Dari fisoterapi, terapi wicara, terapi okupasi, konsultasi dokter anak, konsultasi ke psikolog, dan… termasuk diantaranya kunjungan ke “orang pintar”. (“kalap”  mode sedang on). Putri sulung masih SD kelas 3 an. Sedangkan sang putra masih TK. Hari-hariku berputar dari satu tempat ke tempat lain membawa Aini. Putri sulung dan putraku lebih banyak ada dirumah. Alhamdulillah saat itu ada pembantu dirumah yang  menemani. Suatu hari, putri sulung bertanya padaku, “Ibu kapan sih adik sembuh?”. Aduuh saat itu saya tersadar.. SHE NEEDS ME, ADA UNGKAPAN KECEMBURUAN DAN PENGHARAPAN DISANA. Saya beruasaha memahami bahwa  saat itu  ia, dengan bahasa kanak-kanaknya mencoba menyampaikan jika ia  juga mulai merasa jenuh, karena banyak permintaannya yang saya tolak dengan kalimat “sabar ya nak, ibu bapak saat ini sedang mengobati adikmu, doakan segera sembuh ya, insya Allah tidak lama lagi” . Dan mestinya ia juga merindukan kehadiran saya sebagai seorang ibu didekatnya.

Lucunya.. (atau lebih tepat bodohnya saya) saat itu karena yang ada (menurutku) hanyalah Aini belum bisa “bergerak”, saya mempunyai pemikiran, masalah Aini hanyalah tidak bisa berjalan, jika ini terselesaikan, maka persoalan tak ada lagi, kami akan “hidup normal” kembali. Sehingga saya melakukan program jangka pendek (Yang terbukti sebagai pemikiran yang tidak tepat) Tapi, sungguh saya bersyukur, putri sulung dengan kalimatnya saat itu, yang membuat saya dan sang bapak, akhirnya membuat sebuah keputusan baru. Bahwa tidak hanya Aini yang berhak akan masa depan yang mandiri. Kedua anakku yang lain juga punya hak yang sama.

Nah.. satu lagi.

Memutuskan masa depan anak agar menjadi pribadi yang dewasa serta mandiri… Saya punya standrat untuk tersendiri tentang apa itu arti dewasa dan apa itu arti mandiri. Nilai yang saya pegang dan gunakan, saya pastikan tidak sama dengan nilai pada umumnya. Misalnya saja. Saya jadi ibu sangat kekeh, untuk tidak mengijinkan anak-anakku mengunakan kendaraan bermotor, jika belum sampai batas usia yang ditetapkan, atau paling tidak H-1 dari umur diijinkannya memiliki SIM. Alhasil.. ini seringkali jadi perdebatan sengit.. (Aduuuh) Ehmm jika melihat anak-anak tetangga yang hilir mudik dengan motor mereka dari kelas 3 atau 4 SD, sekali lagi saya kembali bertanya, sudah tepatkah keputusan ini untuk mereka? Apakah karena kasih saya ingin melindungi mereka dari kejadian buruk dengan kendaraan bermotor? Ataukah saya hanya melakukan sebuah pertunjukkan kekuasaan? (aduuuhhhhhh…..) Tidak kah ini juga akan mengakibatkan beban psikologis, terutama untuk sang putra? (bukankah anak laki-laki identik dengan sikap coba-coba dan nekat?) Dapatkah ini mematikan karakter kelaki-lakiannya??? Sahabat-sahabat.. apa pendapatmu?? Ahhh ya.. ini lah mereka yang selalu kulimpahi dengan kasih (atau tertekan dengan kekuasaan ku ??? Duhhh)

 
happy dsc00478 100_3754

Related Posts with Thumbnails

Comments

4 Responses to “Kasih Ataukah kuasa?”
  1. logo creator says:

    Hmmm that was weird, my comment got eaten. Anyway I wanted to say that it’s nice to know that someone else also mentioned this as I had trouble finding the same info elsewhere. This was the first place that told me the answer. Thanks.

  2. Hi webmaster – This is by far the best looking site I’ve seen. It was completely easy to navigate and it was easy to look for the information I needed. Fantastic layout and great content! Every site should have that. Awesome job

  3. I can’t belive that you made all the operate to share this! Awesome. Devoid of Bloggers like you, we would never get so good information’s!

Leave a Reply