Dari Oprah show
Hari ini Oprah temanya tentang cinta dalam keluarga
Hmmm
Saya terbuka mata….
Pernikahan adalah hal yang sulit dan perlu kerja keras…
Ketika saya kecil, saya suka membaca cerita tentang putri-putri-an. Putri Salju, Litlle Mermaid… dsbnya… dimana diakhir cerita… ada kalimat.. “Akhirnya sang putri dan pangeran hidup forever and ever happly forever” hmmmm
Sungguh saya yakin bukan hanya saya saja satu-satunya “putri” yang akhirnya punya gembaran… bahwa dengan menikah, kebahagiaan adalah pasti, tidak ada lagi sedih, kecewa, aniaya dsbnya… karena sudah ada seorang “pangeran” yang akan selalu melindungiku.
Disisi lain… seringkali para anak laki-laki, di”manjakan” dengan kelak akan menikah dan akan ada seorang istri yang akan mengurusnya, mendampinginya, merawatnya dsb-dsbnya…
Ha ha ha ha… kebayang? ketika dua insan berbeda jenis ini menikah? mereka (yang tidak bisa lepas dari bayangan khayalnya) akan menjadi manusia-manusia yang saling egois satu sama lain. Karena berfikiran pasangan hidup yang dinikahinya adalah orang-orang yang “bertugas” untuk membuatnya “nyaman”
Padahal… siapapun (yang sudah pernah menikah) akan bilang bahwa pernikahan adalah sesuatu yang harus “diperjuangkan” dengan kerja keras., bukan minta dilayani. Bahkan disalah satu acara syukuran peringatan ulang tahun perkawinan seorang sahabat, seorang Ustadz sempat berkata : “Suami-istri adalah 2 orang pemberani yang mengarungi samudra luas.. dengan alat-alat apa adanya dan dengan kapal yang sangat tradisional. Sungguh tanpa ijin dan bantuanNYA kedua orang itu tidak akan pernah sanggup melayarkan perahunya”. Subhanallah….
Dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, dalam sulit dan mudah, dalam ada ataupun tiada… komitmen untuk tetap teguh menjadi bagian dari kapal itu harus dijaga.
Saya terharu… menyaksikan… diacara Oprah tersebut ada 3 pasang suami-istri, ada yang 50 tahun sudah ada yang 8 tahun dan ada yang 3 tahun, tetap teguh.. istiqomah.
Dan betul…, merekapun bercerita bagaimana dalam perkawinan mereka tidak selamanya pernikahan itu manis, seringkali pahit dan getir… (ketika ada yang sakit parah dan tak berdaya) tidak selamanya ada canda dan tawa, kadang kala kebencian dan ketidak sukaan juga mengumpal-gumpal (ketika ada rasa curiga dan menuduh sang pasangan tidak punya hati saat putra tercinta berpulang) Tapi selalu ada cara untuk melalui semuanya…, bagaimanapun juga kesabaran dan syukur adalah yang utama.
(Ada yang terbiasa menyelesaikan persoalan rumah tangga dengan membuat surat, SMS, e-mail, ada yang dengan selalu berusaha mengingat hal-hal manis yang tidak dimiliki oleh orang lain, walaupun hal yang manis itu seringkali sangat remeh, seperti selalu menyambut kedatangan pasangan dengan senyuman.)
Jika saya ingat… lagi… perkawinankupun bukan hal yang mudah… terutama ketika (hmmm sudah berkali-kali saya sampaikan ya…) neraca keuangan keluarga sampai titik minus yang terendah, sedangkan Aini dan 2 anak yang lain tidak dapat dihentikan kebutuhannya. Ketika itu… saya merasa dunia seolah siap untuk kiamat. Hmmm …. sekarang saya bisa bilang “Sungguh hanya Allah yang tahu apa yang DIA persiapkan dibalik semua “skenario hidupku”. Saya beruntung dengan komitmen yang tinggi, kesabaran yang sangat-sangat tak terbatas dari imamku… semua hal-hal itu dapat kulalui. saya sekarang sangat-sangat bersyukur atas apa yang telah kami lewati bersama.”
Ini juga yang akan saya jadikan pelajaran berharga dalam mendidik anak-anakku kelak.. bagaimana mengarahkan mereka agar selalu menjaga komitmen… teruitama komitmen kepada Allah. Pemilik Alam semesta, Pengatur segala sesuatunya, Pemberi ijin atas segala kejadian alam semesta. Tidak berhenti untuk selalu memberi pada pasangan hidup dan mengurangi sikap untuk bergantung ataupun mengandalkan pasangan dalam kesulitan rumah tangga. Sungguh hanya kepada Allahlah kita seharusnya mengantungkan segala harapan.
Dan tidak pernah lupa untuk IKHLAS… Suatu hari saya terbangun…, dengan pemikiran… bahwa Allah memang telah memilhku untuk menempati posisiku sekarang, sebagai ibu, sebagai istri dan sebagai muslimah. Saya berdoa dan berharap saya dapat melalui semua ini dengan penuh keikhlasan dan cinta kasih… sehingga kelak… Allahpun akan sudi membalas apa yang saya lakukan terhadap anak-anakku dan suamiku ini dengan cinta, keikhlasan dan keridhoanNYA yang sama besar padaku… (Tears….. tears… fall in my face)
Mudah-mudahan semua sahabatku… juga akan selalu teguh dalam komitmen rumah tangga… , kita saling mengingatkan… saat segalanya tidak mudah.. dan saling mendukung ketika kita semua ingin mengembangkan kemampuan kita sebagai muslimin dan muslimah. Amin
Doaku untuk semua sahabat….
NB:… Untuk yang masih “sendiri”… pls… jangan pernah putus asa untuk selalu yakin bahwa Allah pasti akan memberikan kesempatan itu suatu saat nanti…, sebagai bagian dari keluarga… meraih ridho Allah.., bagaikan menjalankan 1/3 bagian dari Al-Qur’an… Amin Insya Allah… Doaku untuk kalian semua… Insya Allah






Subhanallah… tulisan saya makin lengkap dengan penambahan dari anda…
Jazakallahu khairan katsiran
Kenapa???? belum berkeluarga ya… akhi???
Gak masalah kok, kan ada keluarga besar tentunya.. ayah, ibu, saudara, tetangga, teman, sahabat dsb-dsbnya… makin banyak “ladang amal” kita insya Allah makin banyak Allah memberikan kemudahan. Insya Allah. Amin
Ukhtiii saya sangat prihatin dengan komentar ini… Heh… saya sungguh bisa sangat memahami situasi yang harus ukhti hadapi… semoga Allah senantiasa memberimu kekuatan untuk menemukan dan menjaga cahaya hati… Jika ukhti berkenan baca postingan saya tentang “Nikah????”
Barakallahu….
Sama-sama…
Em… blog anda semangat juga ya..
apa yang mba alami sama persis dengan yang aku alami.rasanya aku ingin meninggaklkan ini semua tapi cahaya hati dan rasa cinta yng ikhlas yang menguatkanku