Kemuliaan

April 29, 2010 by: yanti

bima-saktiHidup memang penuh dengan romantika. Bahagia dan duka silih berganti..

Hanya sesaat.. seolah ada di puncak.. dengan kekaguman sesama.. dengan keirian sesama dengan pujian dan tepukan membahana. Saat yang lain.. bisa saja kita masih menikmatinya.. tapi bisa saja kita telah terbanting masuk dalam jurang ketak adaan.. berada dalam sejuta kenistaan, cibiran, tudingan bahkan perlakuan tak sewajarnya.

Saya jadi berpikiran,  Pastilah Orang-orang hebat.. adalah orang-orang telah berkali-kali mengalami pergantian romantika.. tempaan demi tempaan. Dan Pastilah mereka adalah orang-orang yang telah memenangkan pertarungan itu. Demikian hebatnya kemenangan itu, sehingga ketika bahagia menggunung kembali tiba.. mereka tak pernah silau olehnya. Dan ketika saat nestapa menyelimuti kembali merekapun tak pernah merasakan sedih berkepanjangan.

Sebagaimana  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah  bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apa bila ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah  yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulahyang terbaik untuknya.” (shahih muslim no. 7500 hal. 1295).

Padahal, kenyataannyaan. ketika goncangan itu datang… bertubi-tubi memukul hingga ke dasar hati yang dalam.. Hati ini pun terluka.. Luka yang sulit disembuhkan… kalaupun sembuh bekasnya masih terlihat jelas.

Sebagian dari kita menerima luka ataupun bekas luka ini, dengan perasaan tertekan. Dan segera bereraksi negatif ketika bagian yang terluka itu tersinggung. Sebagian lagi bersikap seolah-olah luka itu tak pernah ada, dengan menunjukkan sikap berlawanan..

Sayang sebenarnya yaaa… Seandainya saja,  mereka-mereka mau. Mereka-mereka yang telah pernah terluka, sebenarnya memiliki potensi untuk membantu sesama. Memberikan rambu jika ada yang mendekati area berbahaya. Membantu memulihkan jika ada sesama yang terluka. Atau hanya sekedar mensosialisikan.. jenis luka yang ia derita.

Oooo.. tentunya ada syaratnya, agar tugas mulia ini dapat mengenai sasaran… dalam berbagi dan  membantu sesama.. sebaiknya juga diiringi dengan akhalq yang baik. Yang membuat sesama akan mendekatinya, mempercayainya, mau menyerahkan dirinya untuk diobati. Coba saja.. jika kita ke rumah sakit. Suster, Dokter dan Pegawai-pegawai disana menerima dan memperlakukan kita dengan galak… yakin.. kabur semua pasiennya, kecuali yang sudah tak punya pilihan hidup (he he he he)

(Saya jadi yakin, Itu sebabnya yaaa… kenapa wajah baginda Rasullullah saw selalu digambarkan bagaikan beningnya air sumber yang ada di gurun gersang. Bagaimana lembutnya sikap beliau ketika ada sahabat yang mencurahkan isi hatinya. Setiap orang yang bertemu dengannya, selalu merasakan sebagai satu-satunya orang penting dalam hidup rasul, karena sangat pandainya beliau memperlakukan sahabat tersebut. Subhanallah… Beliau bukan orang yang tanpa kesedihan. Yaa…belum lagi hirup udara dunia, ayahanda telah tiada.)

Saya sendiri memang masih harus banyak belajar.. bagaimana mengolah hati.. melakukan banyak evaluasi.. untuk bisa menjadi pribadi yang mampu jadi penerang.  Mudah bersikap negatif, ketika luka hati tersinggung. Mudah merasa tersudut, tersakiti, mencari-cari kesalahan orang lain, mencari-cari alasan pembenaran dsbnya seperti yang terjadi pada diriku beberapa hari yang lalu.. (Astaghfirullaah). Ya.. kemuliaan.. dan berharap dapat keluar sebagai pemenang.. untuk menjadi hambaNYA yang lapang dada..serta siap jadi bagian dari semangat berbagi terhadap sesama memang harus terus dan terus di”tempa”…. ALLAH adalah Maha Hebat.. yang selalu tahu kapan saya harus mengalami tempaan lagi… dan bagaimana tempaan itu tiba… DIA yang  akan terus dan terus memberi tempaan yang sejenis hingga saya lulus dan siap dengan tempaan berikutnya.. Alhamdulillaah ya Allah

(Jazakumullah kh kn.. untuk sahabat-sahabatku yang selalu mau mengingatkan dan memberiku semangat, terutama untuk “Mandiga Girls”)

Related Posts with Thumbnails

Comments

2 Responses to “Kemuliaan”
  1. fanny says:

    ya mba, aku setuju, akupun termasuk manusia yang mudah sekali tersulut. seperti api, gampang sekali tersulut, jika ada bensin. aku gampang terpancing emosi, ketika orang lain bermimpi akan memiliki ini itu, akupun terpancing untuk melakukan hal yang sama untuk mimpi seperti itu, ketika orang lain menyudutkanku hingga terpojok, akupun tersulut untuk balik memojokkan, ketika orang lain tidak mau memperlakukanku dengan adil, akupun melakukan yang sama kepada orang tersebut. semua kubalas dengan hal yang sama, entahlah aku merasa puas jika orang bisa merasakan apa yang aku rasa, dan merasa puas jika bisa ikut merasakan yang mereka rasa khususnya dalam mengejar dunia. aku juga tidak tahu, meski aku mengerti dan menyadari setiap orang tidak sama jalannnya, akupun mencari pembenaran dengan apa yang aku lakukan bahwa setiap orang punya hak yang sama untuk berjuang mencari nafkah, yang penting aku berusaha secara sehat, kenapa tidak boleh?, aku juga mencari pembenaran jikalau aku kurang bisa bersikap lapang dada ya dengan cara membalas hal yang sama, mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa…, hm… sulit untk bisa menjadi manusia yang ikhlas memang…

    • yanti says:

      Hidup akan berproses… pada saatnya nanti ketika kita sudah banyak melakukan “latihan” kita akan dapat memahami, kapan sebaiknya “marah”, kapan sebaiknya “let it go”, kapan sebaiknya “forget it” dan juga kapan sebaiknya “I don’t care”…
      Selama kita terus berusaha menyadari.. hanya Allahlah Pemilik Semuanya… Yang Mengatur Apapun yang terjadi, Yang selalu penuh Kasih sayang… DIA YANG MAHA..

Trackbacks

Leave a Reply