Komunikasi tak tersambung

June 1, 2009 by: yanti

(Assalammua’alaykum warrahmatullaahi wabarakaatuh, Selamat datang para sahabat)

Banyak hal yang jadi kacau karena komunikasi yang tak tersambung….. (ha laaaah… kayak modem yang lemooot ya.. he he he)

Dalam dunia kependidikan ABK.. ini yang sering bikin para pendidik dan orang tua jadi.. gak harmonis.. (Ya.. sayapun mengalami hal ini… )masalahnya… bisa bermacam-macam..

1. “Alat komunikasi” di masing-masing tempat bermasalah… Bisa karena emang ada masalah dengan alat pendengaran.. (maaf) , dalam hal ini yang berkaitan dengan indera pendengaran.. daun telinga, gendang telingan dkk (yang berhubungan dengan indera pendengaran) atau ada masalah di pengolahan datanya.. (maaf) ini berkaitan dengan kemampuan kita menangkap informasi yang masuk, mengolahnya dalam otak dan menterjemahkan dalam tindakan.. bisa saja saat itu kita tidak sedang konsentrasi pada percakapan..

2. Ada gangguan untuk menghantarkan “berita”.. misalnya saja.. kabel antar alat komukasi mengalami gangguan.. Ah.. kalau manusia.. mungkin bisa diartikan sebagai.. berada di tempat yang terlalu ramai.. atau… antar pembicara berada dalam situasi yang sulit.. misalnya jarak terlalu jauh.. sulit untuk mendengar atau melihat gerakan bibirnya ketika berbicara.. simbol gerakan dapat saja… menimbulkan penafsiran berbeda dari yang dimaksudkan oleh sang pembicara.

3. Atau kendala lain.. bahasa yang digunakan tidak sama.. Biarpun jelas.. bicaranya (dapat didengar dengan baik).. tidak ada gangguan…, disampaikan dengan kalimat-kalimat yang sangat mudah.. tetapi.. pembicara berbicara dengan bahasa planet… Huuuuuu… gak tersembung pastinya..

Yup.. ini yang terjadi.. ketika seorang terapis mengajarkan ABK untuk bermain-main dengan pasir.., beras.., batuan.. dsbnya… Banyak orang tua yang proootesss berat.. bahkan gak jarang ada yang berucap.. “Dihh.. terapi kok seperti itu.. mengerjakan hal yang gak berguna.. kalau cuman gitu aja sih.. saya bisa lakempat bukan sendiri dirumah.. Gak perlu ke terapi.. mahal.. jauh.. ngabisin uang, waktu dan tenaga saja…. (heh?????) ” Para orang tua tidak memahami.. bahwa semua tahapan terapi diatas.. yang kelihatannya hanya sebagai “main-main” dan buang waktu adalah bagian dan proses panjang hanya agar supaya sang anak, dapat menggunakan tangannya dengan baik ketika ia melakukan kegiatan menulis… Ehmm celakanya.. sang terapis juga ada yang tidak mau menerangkan ini kepada para orang tua. (Disamping.. ada juga.. looo orang tua yang sudah diajak bicara berkali-kali tapi… tetaaaap aja.. gak mau memahami.. * jadi yang Autis siapa ya??? he he he*)
Dan… ketika saya mencoba mencari tahu.. (ehmmm… ) ada beberapa hal yang saya dengar dari para terapis..
1. Merekapun sendiri kurang paham.. akan makna dan tujuan dari tindakan terapis yang diterapkan ke muridnya.. (waduuuhhhhh)
2. Ada orang tua yang sangat antipati dengan percakapan.. (iihhhh mode “sibuk” diaktifkan ya???) maunya yang praktis-praktis aja… cepet lihat anak ABKnya.. pintar…(waduuhhh… “pesanan instan”)
3. Ada juga.. dari terapis yang berharapan… ortu mencari tahu sendiri.. karena mereka sudah kewalahan untuk menterapi anak.. masak iya.. mau “buang waktu” ngurusin orang tua???
Ah.. memang ketiga alasan diatas.. terlalu nyinyir kedengarannya (walaupun jujur.. ini yang ada di lapangan).. Buat saya.. itu bukanlah.. hal yang pantas untuk disampaikan.. Kenapa??
Karena kita yang sudah kadung terjun dalam dunia kependidikan ABK ini… mau tidak mau.. suka tidak suka.. harus menjalani hari demi hari.. terus.. dan terus… maju… terus… (mode untuk “kembali ke masa lalu”.. tombol pengaktifannya .. gak ada.. looo) apapun yang ada di depan harus terus dihadapi… meskipun dengan tangisan airmata dan darah… (hiiiii seraaaam ya….)
Jadi.. kembali ke komunikasi yang tak tersambung… ini bukan masalah yang harus diperdebatkan… kita semua harus berusaha untuk membuat komunikasi kembali lancar.. atau paling tidak meminimalkan.. hambatan yang ada. Yah.. saya benar-benar menghimbau.. kepada para terapis.. kepada para praktisi pendidikan.. untuk melapangkan dada.. menyadari.. bahwa tugas mulia ini.. tidak hanya berhenti pada “bagaimana mendidik ABK” tetapi juga harus sampai “bagaimana membangkitkan para orang tua untuk ikut andil dalam mendidik para ABKnya dalam langkah-langkah yang nyata”.. He he he.. jujur.. lebih susah “mendidik” para orang tua dari para ABKnya….
Kenapa demikian???
Para Terapis atau para praktisi pendidikan hanya punya waktu sedikit.. paling banyak 8 jam sehari.. bersama para ABK.. orang tua?? sisanya!!! ya.. 16 jam.. dalam sehari… Jadi kalau.. apa yang sudah diajarkan dalam pertemuan dengan para terapis.. tidak ditindak lanjuti oleh para orang tua???? Hmmmm……. (please.. think about it…) Yah.. sangat penting ada hubungan harmonis antara orang tua dan terapis… saling lapang dada.. jangan punya prasangka menyelesaikan masalah dengan terbuka… sekali-kali.. beda pendapat boleh… sekali-kali tidak merasa cocok..boleh.. tapi tetap harus dikembalikan pada kepentingan utama.. mengajarkan para ABK. Jangan sampai para ABK menjadi korban dari “kekisruhan” ini… mereka tidak mendapatkan “pelayanan pendidikan” yang sangat mereka butuhkan…
Hmmmm… (saya belajar banyak tentang hal ini… banyak kerugian.. dan sedikit manfaat.. saya berharap.. tidak akan ada yang mengalami hal ini lagi)
Terakhir… tetap semangat ya……
Related Posts with Thumbnails

Comments

4 Responses to “Komunikasi tak tersambung”
  1. achoey says:

    Bu,banyak yang mendapat manfaat dengan blog ini
    Terutama ibu2 dengan kondisi seperti ibu

    Semangat!

    Alhamdulillah… Semoga Allah ridho pada kita semua..

  2. mahardhika says:

    yah pastinya susah bangt kalo komunikasi putus,,,, terkadang bisa mis undestand.. hehehe….. sungguh pekerjaan yg mulia… nice blog….

    mahardhika´s last blog post..Allah Cemburu

    he he he… iyah… jadi.. “tu-la-lit… tu-la-lit..”

  3. agfa says:

    terima kasih infonya. smg tak hentinya mberi ilmu.
    Kelak Allah akan membalasnya

Trackbacks

Leave a Reply