Ma Yan
April 27, 2009 by: yantiBuku bersampul kuning, dengan gambar seorang anak perempuan mengenakan kerudung, sedang menulis
menarik perhatianku. Ketika kubaca ringkasan kisahnya dibelakang, saya terpesona.
PsstĀ intermezzo ya, sebenarnya rencanaku hari ini ke toko buku, untuk mencari buku, sebagai hadiah ulang tahun mertuaku. (kami memang keluarga yang sangat maniak buku, dari Aini hingga mertuaku yang usianya hampir mendekati usia 70 an). Awal bulan kemarin, ketika beliau berkunjung ke rumah (hmm senangnya masih diberi rejeki, dikunjungi mertua yang sehat dan penyayang) dipenghujung hari, setelah sholat tahajud, beliau duduk di meja komputer dan mulai membaca. Pilihan beliau yang pertama adalah “Three Cup Off Tea”, berikutnya “Kite Runner”, pulang ke Surabayapun, beliau masih “berangan-angan” dengan beberapa buku yang lain. Hebatnya setelah itu, beliau akan menceritakan kembali kepada suamiku, anak-anaknya, cucu-cucunya apa pendapatnya tentang buku yang dibaca. Hmm Saya kagum dengan semangatnya untuk membaca.
Hah.. begitu mataku terpaut dengan “MA YAN”, saya jadi luluh, masuklah dia dalam tas belanja. (Aduhh memang saya kurang dapat mengendalikan rayuan buku.. Ampuni saya ya Allah)
Ahh ternyata apa yang kupilih dapat ku pertanggungjawabkan, Isi buku ini subhanallah.. Bagus luar biasa. Cerita tentang betapa bersemangatnya Ma Yan (gadis kecil dipedalaman Cina) dengan sang Ibu untuk meraih asa. Tidak peduli lelah, lapar, sakit, sang ibu mati-matian berjuang demi pendidikan sang putri. Menariknya, peran sang Ayah, yang digambarkan kurang berhasil, tetap saja tidak menyurutkan langkah mereka. Bahkan dalam ketak berdayaannya sebagai kepala rumah tangga, ia tetap memberikan dorongan untuk berjuang.
Masa sulit datang juga, (ini yang bikin saya merasa di dorong untuk menyalakan semangatku lagi) mereka harus menyodorkan permintaan bagi Ma Yang berhenti sekolah, dan memberi kesempatan pada 2 orang adiknya, hanya karena alasan gender. Ini yang membuat Ma Yang dalam bahasa kanak-kanaknya berani mengetuk hati orangtua (terutama ibunya) untuk tidak menyerah pada batasan materi dalam meraih pendidikan.
Hikmah untukku adalah..
1. Sebagai ibu, totalitas berjuang sebagai fasilitator masa depan anak haruslah dilakukan.
2. Setiap anak punya cita-cita dan harapan masing-masing.
3. Tidak ada batasan gender atas hak anak pada orang tua.
4. Anak akan ikut ambil dalam perjuangan mencapai asa, jika mereka mampu memahami dan merasakan dalam langkahnya.\
5. Kasih yang tulus, doa tulus, kesinambungan antara ibu dan anak akan menjadi rantai penghubung terkuat yang menjadi pijakkan disaat lemah
6. Ma Yang tetaplah anak, Anak yang punya berjuta impian. (Dunia akan diraih jika kita punya impian… “laskar pelangi”)
7. Dibalik segalanya Allahlah tempat berpaling.. (Ma Yang adalah muslimah kecil yang berusaha tetap menjalankan syariat apapun kondisinya.) DIA akan membukakan jalan pada hal yang tak mungkin bagi manusia. DIA yang tahu, apa yang kita kerjakan merupakan ungkapan perjuangan meraih predikat tertinggi “Insan Khamil”
Diakhir membaca buku sayapun menyadari : “jika dulu saya “merasa” ada dideretan ibu-ibu yang bersemangat dalam menjadi penyandang amanah Allah, menjadi ibu bagi anak-anakku, kini saya menjadi malu, apa yang kulakukan masihlah belum seberapa, saya harus berjuang lebih dan lebih lagi, Yah…jika ibunda Ma Yan mampu, mestinya sayapun dapat” Insya Allah
Semangat.
Jika mau beli… dapat hubungi “KUTUKUTUBUKU”



















































Iya… Wah.. alhamdulillah kalau sudah tahu…