Mak Erot

February 20, 2010 by: yanti

boys“Bu, Mak Erot itu apa sih?”

Aduuuhhh…

Persiapan, anak menjadi remaja sudah kulakukan. Tapi tetap saja ketika saat itu tiba, saya sempat terkaget-kaget. Dijalan.. sedang jemput pulang les.. lagi nyetir.. kalimat itu lewat dengan lancarnya. he he he he..
Bikin saya sempat merasa kaget sekaligus geli…

Rupanya.. anakku, yang sekarang lebih banyak berangkat dan pulang sekolah sendiri. “Menikmati” perjalanannya, melihat segala “pemandangan” yang ada. Juga pemandangan berbagai macam iklan. Iklan yang di tempel di pohon, iklan yang ditempel di dalam angkot yang ditumpanginya. ya.. di negara kita ini, memang sangat mudah memasang iklan.

Tidak peduli, apakah iklan itu telah terpasang di tempat yang tepat, yang akan memancing konsumen usia pemakai.. atau malah usia yang lain yang tertarik. Hugh…

Ya.. tapi sisi lain, saya bersyukur, anakku datang kepadaku, ibunya untuk menanyakan hal itu. Saya jadi leluasa untuk menjelaskan..Pembicaraan kami pun lebih terbuka, saya dapat menjelaskan hal yang benar, yang sesuai dengan ilmu kesehatan. Bukan rumor dan hal-hal yang mungkin menyesatkan. Yang bisa saja, dia dapatkan dari temannya atau orang-orang lain.

Ini selengkapnya, pembicaraan kami

“Bu, Mak Erot itu apa?”

“Oooo itu nama klinik, yang diambil dari nama seorang ibu, yang didatangi laki-laki dewasa untuk berobat”

“Berobat apa bu?? kok tambah panjang?”

“Sebagian laki-laki merasa tidak puas dengan alat kelamin yang dimilikinya, ia merasa miliknya, tak sesuai dengan ukuran pada umumnya. Katanya disana alat kelaminnya akan diobati agar tambah panjang”

“Trus.. di apa-in?, sakit nggak? ”

“Wah.. ya.. ibu kurang tahu.. tapi yang terang mendapat pengobatan”

“Emang bisa ya bu?”

“Semua itu kuasa Allah.. apa yang sudah ditakdirkan Allah tak dapat dirubah oleh manusia”

“Yang jelas nak.. selalulah bersyukur pada apa yang Allah berikan. Setiap apa yang diberikan Allah selalu ada tujuannya. Tiap manusia diberikan hal yang berbeda. Karena Allah Maha Tahu, itu yang sanggup kita terima. Diberi lebih, belum tentu kita akan dapat mempertanggungjawabkan dihadapanNYA. Nanti”

“Sudah banyak cerita tetang manusia-manusia yang tak bersyukur, akhirnya malah mendapatkan musibah. Ingat kan Micheal Jackson yang sibuk dengan kulit, hidup, bibir dsbnya.. akhirnya menderita berkepanjangan, untuk nafas aja sulit, karena tulang hidungnya gak cukup besar untuk bernafas”

“Kecuali jika melakukan pengobatan karena sakit, itu mah wajib, Harus. Berupaya agar dapat keluar dari kesulitan. Misalnya.. ada yang tertutup saluran air seninya, ya harus diobati agar lancar.. kalau buang air kecil”

“Ke Mak Erot juga ya bu?”

“Sebaiknya, ke orang-orang yang punya keahlian. Keahliannya diperoleh dari lembaga yang jelas. Misalnya dokter.”

“Emang kalau Mak Erot, dapat ilmu dari mana?”

“setahu ibu sih.. turun temurun yaaa nak, dari bapaknya atau ibunya atau neneknya dsb”

“Apa bedanya? kan ilmu juga?”

“Tentu saja beda, jika ilmu tersebut didapat bukan dari lembaga yang dapat dipertanggungjawabkan, ketika ada masalah timbul, kita sebagai pasien tidak akan mendapat kekuatan hukum untuk mencari keadilan. Contohnya.. sunat.. jika kita sunatnya di dokter atau perawat, kalau infeksi atau apa saja, dapat ditangani kembali ditempat yang sama. atau di”kirim” ke orang yang memiliki tingkat keahlian lebih tinggi. Kalau ke dukun sunat.. ya.. susah.. bisa-bisa malah dimarahi pak dokter kalau kita datang ke dokter setelah ada masalah di sunatnya”

Diammm… si abang.. (mikir kali yaaa)

“Abang sudah jelas?? kalau belum nanti sampai rumah tanya bapak yaaa???”

“Haaa??? Emang bapak pernah ya bu?” (hua ha ha ha… dah gak tahan rasanya saya ingin meledak, tawa sekeras-kerasnya.. tapi.. masih harus jaim nih.. tetap pasang muka serius…)

“Setahu ibu siii tidak,.. Maksud ibu, kan sesama laki-laki, jadi mungkin ada hal-hal yang ingin abang ketahui, bisa bapak kasih tahu lebih banyak. Yaaa.. dunia ibu kan dunia perempuan, gak tahu banyak”

“Ya deh bu…”

Pas lampu merah, saya segera sms sang bapak, untuk bersiap-siap tentang “Mak-Erot”.. hua ha ha haaaa…

Waktu putri sulungku beranjak remaja, saya lebih mudah melakukan pendekatan dan bercerita panjang lebar. (Hal yang sama mulai saya lakukan pada Aini, putri bungsuku). Saat ini masalahnya jadi agak berbeda. si Abang akan jadi laki-laki dewasa. Ada hal-hal dalam dunia laki-laki yag saya tidak tahu.. Jadi.. kuserahkan saja pada sang bapak.. let them talk about MAN…

Related Posts with Thumbnails

Trackbacks

Leave a Reply