“Mandiga”

September 5, 2009 by: yanti

Wah.. rupanya ada juga yaaa… Sekolah untuk anak Autistik.

Walaupun menurut ibu-ibu yang mengasuhnya… (ibu dyah Puspita & Ibu Ary Ginanjar) keberadaan Sekolah Autistik ini.. masih belum diakui secara resmi dan pengakuan dari Diknas. (duuuhhh…)

Saya jadi tertarik untuk mengangkat disini.. Bagaimana Sekolah ini memberikan kemanfaatan bagi anak-anak penderita Autis

Kelas di Mandiga ada 2 sesi, Sesi pertama berlangsung dari jam 8.00 hingga 12.00. Sedang kelas kedua berlangsung dari jam 13.00 s/d 16.00. Kegiatan tiap hari, seperti layaknya sekolah-sekolah lainnya. Hanya bedanya, dalam pemilihan kurikulum, anak-anak menggunakan kurikulum berdasarkan IEP (Individual Education Plan) dengan menyediakan fasilitas yang bermanfaat bagi anak-anak Autistik. Diantaranya adalah ‘ruang tenang’. Hmmm Apa ya itu? Ini adalah nama sebuah ruangan, dengan ukuran 2 x 3 m yang hanya berisi sebuah bantal. Ruangan ini tempat anak mengekspresikan kemarahannya tanpa mengganggu orang lain. ”Dia boleh teriak-teriak, memukul bantal semaunya,” kata bu Ita. Yah.. anak-anak autstik yang seringkali tak mampu mengendalikan perilakunya, diajarkan untuk lebih tahu akan diri sendiri.. dan berusaha mengatasi situasi-situasi sulit yang timbul ketika mereka mulai tak mampu mengendalikan diri. (biasanya ini ada pemicunya.., mereka bertemu dengan hal-hal yang tidak membuat mereka nyaman, misalnya ada perubahan situasi keseharian, ada suara yang cukup tinggi frekwensinya, ada makanan/ minuman tertentu yang bersifat alergan bagi dirinya, termakan dsbnya)

Kegiatan yang lain, yang lebih diutamakan disini adalah.. kemampuan bina diri. Anak-anak ini diajarkan untuk dapat bersikap sebagaimana layaknya orang lain. Misalnya mandi, makan, mencuci baju, mengepel, mensetrika, membungkus kado, pekerjaan ketrampilan/ prakarya dsbnya.. yang diberikan bertahap sesuai peningkatan kemampuan dan pemahaman anak. Disamping tetap mendapatkan pelajaran berhitung, menulis dan membaca. Bedanya pelajaran akademis ini, lebih di arahkan pada kebutuhan yang praktis, misalnya membaca nama, nama jalan, berbelanja, menelpon, mencatat pesan yang disampaikan melalui telpon dsbnya) Dan yang paling penting anak-anak diajarkan untuk selalu memanfaatkan tiap waktu yang ada, jadi tak ada waktu luang yang akan tersia-sia. Ya.. mereka diajarkan, jika sudah menyelesaikan seluruh aktifitas keseharian, mereka boleh bermain.. kartu kwartet.

Sebuah gambaran bagaimana pelajaran disini berlangsung adalah sbb :
Di pertengahan jam sekolah, saat istirahat, bel berbunyi. Anak-anak keluar kelas, langsung menuju dapur. Mereka mengambil baki berisi kotak bekal masing-masing, meletakkannya di meja yang berada di teras dalam. Setelah bergantian mencuci tangan, mereka kembali ke meja, menuangkan air ke gelas masing-masing. Tanpa banyak polah, anak-anak itu menuangkan makanan dari kotak bekal. Menyendok makanan masing-masing dengan bantuan garpu di tangan kiri. Dengan terampilnya anak-anak itu menghabiskan bekalnya menggunakan sendok dan garpu. Kegiatan ini, seperti telah saya tuliskan diatas, memang menjadi bagian dari pendidikan disini. Jadi anak-anak ini untuk pelajaran makan, akan diajarkan dari hal yang paling sederhana dan mendasar.. yaitu makan tertib, menggunakan peralatan makan sebagaimana mestinya. Sedang pada anak-anak yang telah mampu, pendidikan makan akan meningkat menjadi merapikan dan membersihkan meja makan, plus mencuci serta menyimpan peralatan makan kembali… HHHmmmm…. ini sesuatu yang mungkin untuk anak-anak normal hal yang sangat mudah yaaa…

Memang menurut Ibu Dyah Puspita. Psi dan Ibu Adriana Ginanjar Psi, yang mendirikan Mandiga di tahun 2000, sekolah ini di khususkan untuk anak-anak Autistik yang sulit bersekolah disekolah umum. (Seperti Aini yaaa) Yang pada umumnya tidak hanya menyadang autistm saja, tapi juga kekurangan yang lain.

Mandiga sengaja memilih rumah sebagai pilihan tempat belajar, secara psikologis, rumah akan mendatangkan perasaan nyaman dan santai pada anak-anak ini, seolah-olah mereka berada dalam rumah sendiri. Hal ini karena mempertimbangkan anak-anak autistik yang sangat sensitif terhadap perubahan situasi. Kebetulan juga, sekolah yang berlokasi di Jalan Mulawarman No 3, Jakarta Selatan, ini cukup luas. Di halamannya trampolin dan ayunan. Di dalam gedung sekolah juga diatur agar terasa lapang.

Kelas-kelas yang digunakan untuk belajar, juga diatur dengan situasi yang relatif cukup luas (dibandingkan dengan beberapa tempat terapi yang sempat diikuti Aini). Anak-anak dikelompokkan dengan teman yang sebaya.. dengan mempertimbangan kesamaan kemampuan. Satu guru.. untuk anak-anak yang sudah lebih matang.., melayani 2 anak. Sedang untuk anak-anak yang belum siap.. mereka akan mendapatkan satu guru/ anak.

Ah yaaa… hal-hal yang cukup membuatku terkesan adalah… 1. Kamar Mandinya lumayan besar… ada bath-tub, wastafel, toilet dan kaca yang cukup besar. Di dalam kamar mandi ini, anak-anak belajar bagaimana mencuci muka, menggosok gigi di depan cermin, membersihkan diri dari BAB dan BAK dan aktifitas-aktifitas lain yang berkaitan dengan menjaga kebersihan diri .

Sayangnya… Agak sulit untuk dapat diterima bersekolah disini. Mandiga.. Pertama karena memang mereka. tak memiliki tenaga pengajar yang banyak (rata-rata pengajar disini, berlatar belakang, Sarjana Psikolog). Kedua Peminatnya cukup banyak. Iya…awalnya Aini pun ada dalam antri-an waiting list. Alhamdulillah.. sekali lagi ini semua adalah karena kasih sayang Allah.., tidak lama.. dari berdiri diantrian, Aini diminta mengikuti kelas observasi… 2 minggu (he he he lama observasinya yaaa… maklum laaa… anak-anak begini memang pendekatannya kan beda yaaaaa). Dan yang Ketiga, memang Mandiga selektif untuk menerima anak-anak dalam kelas, mereka mencari anak-anak yang benar-benar telah siap untuk “bersekolah”. Anak-anak yang ternyata tak mampu memenuhi kriteria.. disarankan untuk mengikuti terapi. Jadwal terapi dimandiga, dimulai dari jam 13.00 hingga jam 14.00

Dalam satu bulan sekali, Mandiga mengajak anak-anak ini keluar dari lingkungan. Ini bisa hanya duduk-duduk di pertokoan.. ataupun juga mengunjungi tempat-tempat lain, misalnya Museum, Rumah Sakit, Tempat Rekreasi dsbnya.. untuk melatih kebisaan anak-anak ditempat umum. Mereka diajarkan, jika merasa tak nyaman, karena lelah.. ya mencari tempat duduk, bukan tantrum. Mereka di ajarkan untuk terbiasa dengan benda-benda yang biasanya mereka hindari (misalnya.. es-krim) ada disekeliling mereka, dan menerima ini sebagai hal biasa.., bukannya marah dan berteriak-teriak meminta. Atau.. misalnya mereka berada dalam suasana yang sangat gaduh.. , bagaimana mengendalikan dirinya. Jadi anak-anak ini diajarkan untuk menerima dunia nyata sebagai bagian dari dunia mereka, tanpa harus menjadikan mereka frustasi.

Rata-rata anak-anak yang telah bersekolah dalam jangka waktu tertentu.. mulai menampakkan hasilnya, ada yang telah mampu membaca dan menulis. Jika anak-anak ini mengalami non verbal, biasanya mereka dikenalkan dengan bahasa Compic (menggunakan bantuan gambar/ logo) atau dengan menggunakan organisir (semacam Hp yang berbasis QWERTY). Dengan demikian mereka dapat mengungkapkan isi hatinya… dan akan lebih di pahami oleh sekitarnya. Yang.. paling penting adalah anak-anak ini mampu membawa dirinya ketika harus berinteraksi dengan dunia nyata. Tidak harus selalu bergantung pada orang-orang disekelilingnya.. yang bisa saja.. tak akan selamanya mereka dapat (yaaa.. namanya juga manusia, seorang ibu, bapak bahkan saudara-saudara punya keterbatasan usia, tenaga, waktu juga dana)

Hmmm… tapi saya juga menyadari dengan sungguh-sungguh.. sekolah Mandiga, yang saat ini Aini coba jalani.. tetap tak akan dapat memenuhi kebutuhan Aini secara menyeluruh. Misalnya saja.. “Nafas Islami”nya.. yang selama ini alhamdulillah.. telah banyak memberikan goresan dalam dirinya.. terutama ketika ia bersekolah di Al-MarJan… Bagaimana penerimaan “lingkungan normal” yang kondusif, yang telah ia nikmati lebih dari satu tahun disana… ini pun pasti tak Aini dapatkan lagi.Hmmm… Sepertinya harus ada alternatif lain.. agar jika nantinya setelah melewati 2 minggu masa observasi, Aini dapat bersekolah di Mandiga, Aini masih tetap mendapatkan “nafas Islaminya”. Ah ya.. bicara tentang hal ini… selama beberapa hari, saya mondar-mandir.. mencari sekolahan, Aini yang bersama saya, menikmati alunan surat-surat pendek dari Juz 30 Al-Qur’an dari Audio dalam mobil. Satu surat.. saya putar berulang-ulang kali…. Alhamdulillah.. saya cukup bersyukur.. Aini cepat memahami dan menghapalkan, dan mau saya betulkan ketika ia mengucapkan kurang tepat. Mungkin ini dapat disetarakan dengan kesenangannya mendengarkan dan menyanyikan lagu anak-anak yaaa…. Ya Allah Mudah-mudahan ini salah satu alternatif yang dapat saya lakukan ya. dalam berikhtiar tetap memberikan pendidikan dunia dan akhirat bagi putri cantikku, Aini. Amin

Note : Hari ini, 4 juli 2010, Saya mendapatkan koreksi dari ibu Ita, (terima kasih bu untuk koreksinya) bahwa, Mandiga tidak menggunakan kurikulum SLB-C tetapi kurikulum yang mendasarkan pada IEP (Individual Education Plan) yaitu program pengajaran dan pendidikan yang mengacu pada masing-masing individu. Dengan demikian tiap-tiap murid yang bersekolah di Mandiga, mendapatkan program yang berbeda.

Untuk itu, saya memohon maaf telah menuliskan hal yang tidak tepat tentang sekolah Mandiga. Dan saya telah menghilangkan serta merubah semua tulisan saya (diatas) yang menggunakan kata-kata tersebut. Mudah-mudahan dapat dipahami oleh semua sahabat yang membaca disini. Dan untuk kedepannya, mudah-mudahan akan banyak kemajuan yang dapat diraih Mandiga. Amin

Related Posts with Thumbnails

Comments

7 Responses to ““Mandiga””
  1. Hamster Copo says:

    tampaknya aku juga butuh ruang tenang itu deeh,,biar bisa menenangkan emosi aku yang tak terkendali ini karena cinta yang aku derita

    aku lihat sepi sepi saja niih blognya,,emang ada apa niih??
    .-= Hamster Copo´s last blog ..Rasa Ini… =-.

    • yanti says:

      waaaa….. antrian pakai ruang tenang tambah panjang…

      Sepi yaa??
      Sibuk mikirin gempa, atau lagi pada belanja lebaran.. atau lagi “tancap gas”.. mencari sisa-sisa bonus yang bisa didapat di bulan Ramdhan… (ikut yuk,.. jangan ketinggalan…)

  2. dyah s says:

    anakku 3 th,lelaki, dinyatakan pddnos/msdd.skrg terapi di rumah autis.Dulu s4 terapi di klinik,tp ga tahan sm tarifnya.pernah trial(3 sklh) utk masuk playgroup,yg pertama di tolak,yg kedua dan terakhir kyknya ga bs.harapan sih,semoga zharfan termasuk yg 30% anak yg bs masuk kehidupan normal.sy br tau mandiga baru2 ini,setelah ntn acara farhan.mungkin sy jg akan daftar kesana.gpp kalo waitinglist,ke dr.melly aja nunggu 6bln.apapun akses yg bermanfaat,sy lakukan utk zharfan

  3. eko prayitno says:

    apa pun yg terbaik untuk anakku ryant,,,,,ayah sangat mendukung kamu….untuk lbh maju dari pada ayah dan ibu….autis harus kt lawan semangat ryant…..ayah ibu sayang kamu nak….semangat….!!!!!

  4. Krisfiarti D says:

    anakku (Rino) udah 6 thn. aku udah denger ttg mandiga dari 3 thn yg lalu. pengeenn… bgt nyekolahin Rino di Mandiga. tp aku udah ketakutan dgn biayanya. berapa ya uang sekolah perbulannya di Mandiga? belum lg ongkos transport ke Mandiga, aku musti itung juga… bisa discount gak sih Mbak Ita?

  5. wita says:

    anakku dah usia 7 thn pengena sekali bisa sekolah di Mandiga. Tp jarak Mulawarman ke Depok terlalu jauh….apakah ada cabang Mandiga di Depok ?

    • yanti says:

      setahu saya tak ada cabang mandiga bu. Kami para murid mandiga, juga datang dari segala penjuru. Ada ananda clave yang rumahnya di serang, banten. saya dengan aini dari bekasi barat, ada ananda ansela dari karawaci. ada ananda ivan dari tangerang. ada ananda pascal dari Bumi serpong damai, ada ananda Tisha dari cibubur.. dan masih banyak lagi… selama itu memang akan menjadikan putra/i kita.. kenapa ragu-ragu…

Trackbacks

Leave a Reply