Manohara’s Mom
June 10, 2009 by: yantiIbu yang baik, Ibu Desi, Ibunda Manohara,
Assalammu’alaykum warrahmatullaahi wabarakaatuh. Ibu, jika engkau tidak keberatan, boleh saya bertanya beberapa hal kepadamu? Oya pertanyaan ini saya ajukan kepadamu bukan kepada Manohara, (juga pada “ibu Manohara-ibu Manohara”) yang lain, karena usia Mano yang masih terbilang terlalu amat sangat muda, ketika pernikahan terjadi. Dalam dunia psikolog, anak-anak yang dibawah umur, (pada umumnya) tidak punya kemampuan untuk bersikap bijaksana dalam menentukan arah hidupnya. Termasuk memutuskan akan menikah atau tidak. Menurut yang saya baca, orang-orang dewasa yang ada disekelilingnyalah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas segala hal yang terjadi ketika ada kasus dalam kehidupan pernikahan anak-anak ini. Mohon maaf sebelumnya jika ini membuatmu tak nyaman.
1. Bagaimana caramu membesarkan Mano?
Mengingat, diusianya yang dini, Mano telah banyak berkecimpung di dunia selebritis. Ini terkait juga dengan (Maaf) jika tidak salah dalam sebuah wawancara, Mano mengatakan “Setelah semua kejadian ini, Mano ingin memperbaiki diri, paling tidak, tidak lagi kelewatan dalam mengerjakan sholat lima waktunya”
2. Saat Mano, makan malam dan mendapat tindakan pelecehan seksualnya yang pertama, dimanakah engkau ibu?
Berapa usia Mano saat itu? 14 tahun atau 15 tahun? Tidakkah ia menceritakan padamu? Atau tidakkah engkau melihat ada sikap/ pakaian atau yang berubah ketika ia kembali ke rumah? Dan bagaimana mungkin kau dapat mengangkat cerita ini ke “public”, dengan mempertontonkan surat Mano? Tidakkah ini akan menyakiti hati Mano teramat sangat dalam?
3. Apakah hal biasa bagimu, ketika keluarga Kelantan, mengundangmu ke Malaysia? Sehingga engkau rela pergi kesana tanpa ada seorang wali/ pelindungpun?
Saya tidak tahu bagaimana kebiasaan dalam keseharianmu (mungkin karena engkau sudah terbiasa dalam pergaulan internasional) tetapi dalam adat timur, ada tahapan-tahapan untuk sampai kunjungan antar 2 keluarga besar. Setahuku, orang tua calon mempelai putri tak mudah datang ke keluarga calon mempelai putra, sebelum keluarga mempelai putra datang mengujungi/ berkenalan dengan keluarga mempelai putri
4. Bolehkah saya tahu, seberapa jauh pendidikan sex yang telah kau sampaikan pada putrimu?
Maaf jika saya tanyakan hal ini. Saya merasa ada bagian yang tak cocok, karena bagaimana mungkin pernikahan dapat bertahan beberapa bulan? Mestinya sejak pertama bercinta, harga diri dan kehormatannya telah berontak, jika diperlakukan seperti itu.
5. Jika mendengar ceritamu, Tengku Fakhri tidak menunjukkan sikap yang tidak engkau sukai, sehingga engkau rela menikahkan Manohara dengannya. Sikap apa ya.. yang menurutmu baik itu?
.
6. Apakah Mano atau engkau sendiri ibu, tidak berkeinginan untuk memberi kesempatan baginya mencari ilmu? Ilmu yang sesungguhnya, bekal untuk masa depan Mano. Mano tak akan selamanya cantik. Mano tak akan selamanya populer. Mano tak akan selamanya punya kesempatan didunia selebriti. Saya lihat Mano cukup pintar untuk belajar keilmuan
Maaf sebenarnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang berputar di kepalaku. Tapi saya pikir cukuplah 6 pertanyaan tersebut. Saya berharap.. kami semua dapat belajar darimu, bagaimana menghindari situasi yang membahayakan bagi putri-putri kami. Yah.. memilih seorang pemuda untuk menjadi menantu memang bukan pekerjaan mudah, banyak orang tua yang tak mampu melewati dengan baik. OOOhh padahal salah satu kewajiban kita terhadap anak, adalah mencarikan pasangan hidup yang baik.
Maaf sekali lagi ibu yang baik, jika pertanyaan-pertanyaanku tadi membuatmu tak nyaman.
Semoga perjuangan ini akan membuahkan hasil. Bagi Manohara. Juga Bagi bangsa Indonesia yang merantau ke negeri orang. Para Pejabat kita seharusnya menyadari, bahwa kita semua adalah bagian dari negara Indonesia, yang punya hak untuk dilindungi. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Yang Mulia Abu Bakar, dijaman pemerintahannya, jangankan manusia, seekor unta yang terperosok di sebuah jalan kecil dipedalaman cukup menjadikan beliau meminta jalan kecil di daerah pedalaman tersebut segera diperbaiki. Subhanallah..
Wassalammu’alaykum warrahmatullaahi wabarakaatuh.



















































“hmmmm.. saya lebih memilih sangka baik dan menunggu jawaban beliau…” gitu ya mas…? kita tunggu deh klarifikasinya
Hmm menurutku, bukan 18 ++nya yang jadi pertimbangan. Tetapi kemampuan dari para walinya, untuk menanggung amanah, “mencarikan pasangan hidup” yang lebih harus dibenahi. Salah satunya karena kriteria, para wali dalam tentang menantu idaman, yang makin dipertanyakan. aduuuhhh benar gak sih???
pertanyaan-pertanyaan yang sangat menarik …
tetapi saya bukan bu Desi, ibunya Manohara yg artis itu …
apalagi Manoharanya … saya laki-laki asli bin tulen … hehehe
jadi gak bisa jawab macam-macam atas pertanyaan di atas …
/* omong-omong, ambil saja semua yang ada di sekitar kita sebagai sebuah pelajaran … ambil intisarinya … perdalam maknanya … karena semua jelas bukan pajangan dan hiasan semata … baik itu yang dapat dipegang, didengar, dilihat atau dirasakan */
aku nyimak aja ya Bunda.
kisah drama reality show itu terlalu berlebihan, sense dan empatiku terbakar gara2 sosok wanita yg dicintai Mano.
@ummi
hmm… betapa berat tugas seorang ummahat
ia telah rela
memberikan nafasnya
pada tarikan demi tarikan
ketika sang anak
akan menatap dunia
untuk pertama
ia telah rela
memberikan waktu dan pikirnya
pada tiap tingkah polah
kenakalan
kami
ia telah rela
untuk memberikan semuanya
tapi
terkadang juga lupa
bahwa bukan hanya putranya
yang musti ia tahu
bahwa Tuhan
dengan segenap ilmu
perlu disampaikan
untuk menunjukan
kecintaan yang lebih sempurna
semoga senantiasa
kakinya menjadi langit
bagi surga
wahai ummahat… sebab surga
dibawah telapak kakimu
@nomercy
kita yang tak pernah tahu mengapa… hmmm pahit betul rasanya ya…
Miris jadinya Bu
Saya malah tak ikut2an mengikuti secara seksama kasusnya
Jaga dan didik anak kita!
Kunjungi:
http://miejanda.com
What a drama. Dulu wali nikahnya sp ya?
Menikahi pangeran gk berakhir bahagia, kecuali di negeri dongeng ya bu.
bunda, tulisan bunda adalah cermin hati
dari para wanita yang tergerak hatinya untuk mendapatkan pelajaranterbaik dari kasus manohara
..
ilyasafsoh
hehehe.. binguuung aaah.. cape deeeeh..
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
ikutan ya Bun, segala sesuatu berawal dari niat…bila diawali dengan niat baik dalam mendidik anak, baik itu cantik ato sekedar cantik, yang didapat Insya Allah juga baik..tapi kalo niatnya dari awal ada’sesuatu’ karena punya anak yang cantik…??:P
You, sir, are a great writer and this is a great post. Thanks a bunch!