Memberi Dan Diberi
February 8, 2010 by: yanti
Ustdz Yusuf Mansyur.. tampil penuh dengan tantangan, ketika beliau memperkenalkan “bersodaqoh” sebagai salah satu jalan melapangkan rizki…
Seringkali orang menafsirkan bersodaqoh, hanyalah dengan uang atau benda. Memberi dan diberi baru afdol ketika ada lembaran mata uang beralih tangan.
Hmmmm…
Setahuku.. Islam dengan keindahan dan keleluasaannya… membukakan banyak cara untuk bershodaqoh.. dengan meringankan barang bawaan seseorang, dengan menyingkirkan batu yang ada dijalan, dengan meluangkan waktu, menemani teman yang bersedih…bahkan tersenyum sudah merupakan shodaqoh… (asal jangan senyum-senyum sendiri yaaa…. bukan shodaqoh jadinya.. tapi……. he he he) Dan shodaqoh yang nikmat.. adalah ketika bershodaqoh diterima dengan penuh rasa syukur.. Syukur karena apa yang di shodaqohkan memang sesuai dengan apa yang diharapkan…
Teori ini sangat sederhana.. tapi begitu diterapkan.. seringkali tak ada “singkronisasi”…
Pada saat memberi.. kita sering merasa “lebih”….
Pada saat menerima.. sulit bagi seseorang merasa untuk senang ataupun bersyukur pada pemberian orang lain.. yaah namanya juga manusia, tidak pernah merasa puas.
Mungkin.. jika bisa kita kembalikan.. (entah diposisi manapun kita… yang diberi atau yang memberi…) pada rasa ke tak berdaya-an kita sebagai manusia.. Perasaan “lebih” ataupun tidak puas.. dapat di eliminasi… Hati terdalam akan berbicara.. efeknya.. kata “Erbe Sentanu”.. ada sebuah keikhlasan… Insya Allah keikhlasan yang tercipta antara 2 makhluk inilah.. yang akan “meng-klik-kan”… pintu keridho-an Allah..
Dan menurutku juga.. ketika kita berbicara Memberi dan Diberi.. segala batasan menjadi kabur.. Batasan antar negara, suku, agama, ras dsbnya.. seolah mengecil… larut dalam indahnya… Yang ada hanyalah kekompakan bersama pada “Simphoni”.. yang terciptanya karena ada singkronisasi.. Subhanallah…(Symphoni…sbg musik yang indah, merupakan gabungan dari berbagai macam alat musik.. ada sebuah symphoni yang tercipta begitu saja.. karena bakat pencipta dan orang-orang yang terlibat didalamnya.. tapi ada symphoni yang harus dilatih.. diasah.. terus menerus… hingga tepat gesekan ataupun ketukan masing-masing alat musik) Jadi itulah sebabnya kita semua harus rajin bershodaqoh… untuk melatih.. rasa dalam jiwa
Semakin sering dan banyak jumlah.. yang kita berikan (bisa benda, uang atau perbuatan).. semakin mudah kita mengontrol rasa lebih.. jika kita ditakdirkan sebagai pemberi.. Tetapi juga akan melatih rasa kepuasan.. (tidak selamanya apa yang diberikan oleh orang lain.. sesuai dengan harapan kiita, bukan?) untuk yang diberi.. ketika.. tiba-tiba pertolongan itu datang.. disaat sudah diambang ke-putus asa-an…
Seorang sahabat pernah bercerita padaku.. bagaimana “tersungkurnya” dia. Saat itu.. disaat tak ada lagi rupiah dikantong.. perut masih menuntut untuk dipenuhi kebutuhannya. Dia mencoba bertahan pada keyakinan.. “Hanya Allah-lah satu-satunya penolong”…detik demi detik.. jam demi jam ia lalui dengan penuh kesabaran… Pada sebuah titik, diujung larutnya malam, ketika rasa lapar yang luar biasa telah menyerang.. ketika anggota tubuh mulai bergetar.. menahan……………… sepiring nasi goreng datang, diantar teman sekostnya. Subhanallah… Sulit mungkin ia dapat bersyukur sedalam itu.. jika nasi goreng itu datang.. disaat ia belum benar-benar lapar.. belum benar-benar “tersungkur”. Rasa Syukur.. tak terhingga dari seorang yang diberi.
Memberi dan diberi.. menjadi sangat indah….
Memberi tepat sesuai yang seharusnya dibutuhkan oleh yag meminta. Menerima penuh denga rasa syukur.. melihat sang pemberi sebagai perpanjangan “kehendak Allah”
Symphoni mengalun… membawa.. keridhoan Allah…Insya Allah.




