Memberi…dengan bening hati

April 17, 2009 by: yanti

Kemarin… dalam sebuah kajian… saya mendengarkan wejangan dari sang ustadz… tentang bagaimana Rasullullah saw tidak pernah menolak pemintaan yang datang padanya… Ya… beliau sangat mudah memberi…

Digambarkan… bagaimana beliau sampai-sampai meminta Fatimah azzahra.. melepaskan kalung ia beliau kenakan… untuk diberikan pada seorang pendatang. Padahal.. sebagian orang mengatakan pendatang ini, yang meminta bantuan materi, adalah orang yang kaya raya…. berkecukupan secara materi…

Hmmmm saya cukup terkesan dengan isi kajian ini…

Menurutku… (dengan rasa yakinku… bahwa Rasulllah adalah seorang manusia pilihan yang pasti setiap tindakannya tak ada yang ceroboh…. dan telah-telah sangat mendapat “approval” dari Allah) Setiap manusia yang datang untuk meminta pertolongan memang sebaiknya (jika mampu) segera dibantu…

Seorang kaya raya… apakah tidak punya kemungkinan menjadi orang tak berpunya????
Hmmm menurutku… mungkin… saya pernah mengalami… bagaimana danaku… yang lumayan besar… berputar-putar…. (nun jauuuhhhh disana…. dalam perdagangan palawija dan dalam bentukan barang yang tak mungkin segera diuangkan….) sedangkan.. didepan mataku.. aku menghadapi setumpuk tagihan…. dan tak lagi mau bertenggang waktu
Hiiihhhh… seeediiih benar saat itu…, karena hampir-hampir tak ada yang mengulurkan tangan menolongku… maklum lah… pedagang kecil-kecilan… sulit berbicara dan meyakinkan orang…
(Walaaahhh… jadi curhat….)

Disisi lain… tak selamanya… si miskin… sangatlah… papa.. karena masalah yang seringkali membelenggu kaum dhuafa.. lebih pada masalah mentalitas…

Saya jadi ingat.. pada seorang entrepreuner di pesantren maya… beliau bercerita tentang… bagaimana.. hukum sebuah bolpoint.. jatuh…
Kata beliau “Balpoint secara hukumnya… secara sunnahnya.., jika dilepaskan… pasti akan jatuh… tidak ada satupun yang akan mengatakan tidak… ” demikian juga dengan kesuksesan… Sukses.. secara hukum dan sunnah adalah milik setiap manusia.., tidak peduli apakah ia beriman ataukah tidak.., tidak peduli apakah ia berpendidikan atau tidak berpendidikan,… tidak peduli pada sebab-sebab lain….
Masalahnya adalah… apakah kita sebagai manusia punya kemampuan untuk “tega” melepaskan balpoint itu agar jatuh… dan mau bersabar menunggu serta mau melihat sang balpoint hingga menyentuh lantai….
Sama dengan apakah kita mau melakukan tindakan untuk meraih kesuksesan.. dan bersabar.. menanti serta membiarkan kesuksesan ini datang.

Banyak kaun dhuafa… yang karena keadaannya cenderung sangat ingin jalan pintas… hanya dengan meminta… ia mendapatkan apa yang ia mau…, tidak mau bekerja… atau jika telah bekerja cukup keras.. sering kali ia melakukan hal-hal yang memutuskan kesempatan untuk mencapai sukses… misalnya… segera membeli TV berserta antena parabola… begitu memiliki sedikit uang…

Atau… bahkan ini karena pola pikirnya yang memang hanya sebatas merasa cukup dengan hanya sedikit yang telah ia raih??? (waallahu alam)

Itulah sebabnya… saya kurang sependapat jika seseorang yang meminta bantuan.. (apapun itu… baik uang, tenaga, nasehat dsbnya) akhirnya… menjadikan sang penolong sebagai gantungan hidupnya… membuat ia terkotak.. pada hanya menunggu bantuan…

Sebuah kalimat yang selalu didengungkan ayahanda tercinta adalah… pesan…untuk membantu sesama… sedemikian hingga yang dibantu dapat menerima arit/ pacul dari tangan kita sebagai modal hidup… bukan membantu dengan sejumlah uang setiap saat…

Hmmm… ini memang bukan perkara gampang… memebri sesuai apa yang dibutuhkan…karena sebagai manusia kita punya nafsu.., punya kepentingan… punya rasa… sehingga membuat (tidak jarang) saat kita membantu… lebih pada pemuasan diri sendiri… entah karena tidak ingin repot.., entah karena ingin pujian….. entah karena sebab.. sebab yang lain… (astaghfirullah)..

cara terjitu sebenarnya… kita memberi… dengan bening hati…

Hati jang bening, akan membantu kita menganalisa.. secara tepat.. apa yang sebenarnya dibutuhkan… Sehingga sasaran menolong tepat… mengena

Hati yang bening.., akan membantu kita… mempermudah komunikasi diantara pemberi dan penerima.. agar terbuka dan saling ikhlas…

Hati yang bening… akan menghapuskan rasa curiga.. yang mungkin saja timbul.. karena ketidak puasan yang diberi ataupun yang memberi….

Hati yang Bening akan menjaga lisan ini dari saling membeberkan… transaksi.. tolong menolong pada yang lain.. sehingga meninmbulkan rasa tak nyaman, malu dan direndahkan…

Hati yang Bening ini.. akan menjadi kunci pembuka pintu-pintu surgaNYA… yang wangi saja dapat menembus ribuan tahun dan jarak yang tak terukur…

Semoga kita semua tetap berusaha memiliki hati yang bening…

Semoga ada yang mau menegurku.. ketika saya keluar jalur dari perjalanan menuju hati yang bening..

Jazakumullahu khairan katsiran

Related Posts with Thumbnails

Comments

One Response to “Memberi…dengan bening hati”
  1. Azha Nabil says:

    Salam silaturrahmi,
    Artikel anda bagus sekali.. setiap orang mempunyai pengalaman yang unik dan menarik. apalagi kalau ditulis dan di posting.
    Kunjungi wesite kami http://www.thohiriyyah.com
    terima kasih
    azha nabil
    .-= Azha Nabil´s last blog ..Abuya KH. Mohammad Thoha ‘Alawy Al-Hafidz =-.

Trackbacks

Leave a Reply