Oleh-Oleh Seminar Mandiga
May 9, 2009 by: yantiSahabat-sahabat tercinta.. Alhamdulillah, jadi juga saya dan putri sulungku hadir di acara “Seminar Mandiga”. (He he he.. dengan “kecepatan tinggi”, dan deg-deg an, saya ternyata tidak terlambat.. Alhamdulilah) Pass duduk.. Pas banget dengan dibukanya seminar… Alhamdulillah..
Ahh yaaa saya gak lupa kok.. ini oleh-olehnya, untuk sahabatku yang tak dapat hadir disana hari ini.. silahkan menikmati..
Sesi pertama..
sang primadona Ibu Dyah Puspita.
Topik yang diangkat beliau adalah tentang “Sekolah Yang Tepat Untuk Individu Austistik“. Lembar-lembar pertama berkisah seputar pengenalan lebih mendalam dari individu austistik ini. Dari apa itu ASD (Autistic Spectrum Disorder) hingga persoalan yang dihadapi oleh sang individu autistik. Baik itu persoalan yang timbul dari dalam diri (gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi, gangguan perilaku terbatas dengan pola minat, perilaku aktifitas berulang dan gangguan penyerta) maupun yang timbulnya dari luar, semisal aturan tentang kependidikan di Indonesia.Untuk persoalan dari dalam.., beliau lebih menitik beratkan pada kesadaran dari orang-orang yang
bertanggungjawab(misalnya orang tua) terhadap anak autistic ini untuk membantu. Misalnya memberikan fasilitas terapi, memberikan dukungan pelayanan pendidikan dari rumah, memperhatikan perkembangannya, dan..yang terpenting dari semua itu (menurut beliau) adalah membuat sang anak bahagia dan mandiri. Oya, menarik loo, ketika ibu Ita, mengajak peserta seminar untuk memperhatikan piramida perkembangan disebelah ini. Ini penting. Karena beliau mengingatkan untuk memantau perkembangan anak dalam bidang kemampuan bina diri, penguasaan diri dan berkomunikasi sebelum menginjak ke aspek akademis plus aspek sosial.
Menginjak ke persoalan yang datangnya dari luar, beliau memberi tugas bagi para peserta (he he he.. dikumpulkan kapan ya bu?) untuk merancang “tujuan pendidikan” bagi anak-anak autistik ini.
Baru setelah itu, beliau mulai mengarah ke “dunia nyata”. “Menerawang dunia pendidikan”.
I. Menganjurkan untuk memilih sekolah dengan melihat kondisi anak.
Gambaran secara umum, anak-anak autistik akan melihat dunia dengnean urutan : visual thinking, processing problem, sensory sensitivities, commucation frustration, Sosial & emotional isue, dan terakhir problem of control, tolerance and connection. Hal ini jika tidak mendapat akomodasi dan fasilitas yang memadai disekolah yang dipilih, dapat menimbulkan masalah neurobiologis pada anak. Dampaknya adalah “ Belajar akan dipandang sebagai tugas berat” anak tak lagi dapat menjadi pribadi bahagia.
Berikut ini, adalah sebuah ringkasan dari apa-apa yang dapat membantu dan menghambat anak
A. Ciri yang Membantu
1. Daya ingat baik
2. Mudah paham dan ingat
3. Dapat ditingkatkan pemahamannya. Sebagian besar malah tidak terganggu proses kognisinya
4. Dapat diarahkan, dapat dibantu untuk aktualisasi potensi
B. Ciri yang menghambat
1. Sulit dipahami instruksi verbal (apalagi jika menggunakan rangkaian instruksi)
2. Sulit lakukan 2 hal sekaligus
3. Proses Visual lebih lambat daripada berpikir auditori.
4. Ketakutan berlebihan (irrasional akan sesuatu)
5. Fiksasi akan sesuatu (berpikiran baku)
6. Sulit Persepsi Irama (ritme)
7. Sulit berkomunikasi / berdialog
8. Sulit pahami aturan sosial.
II. Jeli untuk menganalisa “Tawaran” yang ada saat ini di dunia nyata, untuk situasi di Indonesia, jalur pendidikan umum, jalur pendidikan khusus atau belajar di luar jalur dan juga mungkin tidak di ketiga jalur tersebut.
Jalur pendidikan umum, mencakup 3 hal. Yang pertama inklusi penuh, yang kedua 1/2 inklusi, dan yang terakhir sosial mainstream. Hah.. ternyata inilah masalahnya.., (menurut beliau) Indonesia belumlah dapat mentansfer “kalimat-kalimat cantik” dari definisi inklusi yang ada di undang-undang no 20/2003, pasal 5. Tetapi kenyataan di “dunia nyata”. Situasi sekolah, peralatan yang ada disekolah hingga orang-orang yang terlibat didalamnya (guru, kepala sekolah, dsb) belum dapat dimaksimalkan. Akibatnya benturan-benturan dan pemuasan ego dari masing-masing bagian dari sistim ini (guru, sekolah, sistim pendidikan, kurikulum Diknas, orang tua, teman-teman anak, orang tua dari teman-teman anak dsbnya) dapat merugikan sang anak. Misalnya saja, sang anak dikeluarkan dari sekolah atau sang anak akan tinggal kelas.
Jalur pendidikan khusus. 2 pilihan yang ada yaitu, SLB C yang mengandalkan kurikulum Diknas dan SLB Khusus Autis.
Untuk pilihan berikutnya, Belajar diluar jalur. Maksud bu Ita (panggilan untuk ibu Dyah puspita) sistim pembelajaran dengan menggunakan Homeschooling.Artinya menggunakan sebuah metoda pembelajaran yang menggunakan dasar rumahan (walaupun kegiatannya bisa jadi tidak berpusat di rumah.
Masing-masing cara pendidikan diatas punya sisi baik dan sisi yang memberatkan.
1. Untuk sekolah dengan jalur pendidikan umum. (Yang dianjurkan adalah pembelajaran dengan sistim reguler.) Sisi yang memberatkan adalah, cara belajar anak-anak autistik ini, seringkali tak mampu mengimbangi pola belajar kelas (pada umunmnya mereka yang sulit untuk berfokus, sulit mengendalikan diri, sulit berinteraksi dengan masyarakat, sulit memhami perintah dsb). Ini dikaitkan dengan belum jelasnya definisi inklusi bagi dunia pendidikan Indonesia. Sisi baiknya, anak selalu berada dalam situasi yang mau “tidak mau dipaksa” untuk segera beradaptasi dengan situasi umum, secara konsisten, dalam kurun waktu 4 hingga 8 jam (tergantung jenis sekolah yang dipilihnya). Hal lain yang bisa juga dianggap sisi baik adalah, ada legalitas. Ya, sang anak akan mendapatkan ijasah dari proses belajar melalui sistim umum ini. Diakui bahwa cara belajar ini dapat terbukti berhasil pada beberapa anak. misalnya Rubben. Sang Mama (dari ananda Rubben) hari ini hadir, beliau berbagi pengalaman ketika putranya muuslai memilih sekolah hingga sekarang bersekolah di High Scope Jakarta.
2. Jalur Pendidikan Khusus. Menurut Ibu Ita, sekolah SLB C, dengan kurikulum Diknasnya (masih punya legalitas dong), tidak mampu mengakomodir anak-anak yang memiliki IQ rata-rata ke atas. Karena memang SLB C di sediakan bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan intelektual.(wah.. harus test IQ dulu ya…). Berbeda dengan SLB Khusus Autis. Pada dasarnya memang di rancang untuk anak-anak autistik. Sayangnya SLB Khusus Autis tidak punya kurikulum dari DepDiknas, (tidak ada legalitasnya). Sisi yang memberatkan untuk SLB (baik itu SLB C ataupun SLB khusus Autis) adalah Tidak belajar dalam kelas reguler.
3. Home Schooling. Untuk Jalur pendidikan ini, jika ditinjau dari sisi kebutuhan anak akan “belajar”, lebih dapat mengakomodir cara belajar anak. Juga sangat mendukung keaneka ragaman variasi spektrum dan derajat ke-autis-an sang anak. Nah.. yang menjadi sisi beratnya adalah, kedisplinan, ketekunan, semangat juang, program pendidikan dsb-dsbnya sangatlah rentan. Tanpa ada komitmen tinggi dari orang tua, sistim HS dapat menemui kegagalan. Memang tidak harus orang tua yang menjadi guru juga bagi anak-anak autistiknya, bisa dengan memanggil guru (seperti yang dilakukan Ikhsan, putra ibu Ita) atau mengirimkannya pada kursus/ kegiatan yang menunjang proses belajar ini. Misalnya Komputer. (bu/pak.., para sahabat semua, yang perlu diingat adalah kursus komputer atau memanggil guru privat ke rumah adalah bagian dari pelaksanaan kurikulum yang ditetapkan sebagai bagian dari HS sang anak) Untuk orang tua yang membutuhkan standrat legalitas, dapat mengikutkan putra/ putrinya di ujian paket A, paket B ataupun paket C. Home schoolingpun tidak monoton hanya memperlajari pelajaran akademis, kemampuan untuk bertahan hidup sudah dapat pula dimasukkan dalam katagordiri “belajar”. IbundaTisha, berumur 14 tahun, yang juga hadir hari ini, menceritakan bagaimana dalam keseharian, sang bunda lebih banyak mengarahkan sang anak untuk mampu mandiri, seutuhnya. Ya Tisha sudah dapat memasak makanan sederhana untuk diri sendiri, membuat kerajinan tangan, berbagi dalam lingkungannya dsbnya. Jujur harus diakui ini adalah sebuah prestasi sendiri, masih banyak anak-anak normal yang belum mampu melakukan hal yang telah Tisha lakukan di usia yang sama.
4. Nahhh… diluar ketiga jalur pendidikan yang telah dipaparkan oleh beliau, masih ada jalur ke empat. ( ini yang paling berbahaya..) Anak autistik tidak dapat kesempatan belajar dimana-mana. Bahkan dirumah sendiripun tidak. Dengan sangat tegas beliau mengingatkan bahwa pilihan ke empat ini akan menjadikan sang anak lebih dalam “terperangkap” , ketika sang penanggungjawab (ayah, ibu, kakek, nenek, om, tante dsbnya) tak lagi mampu melaksanakan tugasnya, mendampingi sang anak.
Ya.. sebagaimana telah dipaparkan panjang lebar, kesimpulan dari pembicaraan ini, bu Ita mencoba mengangkat ” Bahwa disetiap JALUR PENDIDIKAN ada konsekwensi yang harus dipikul dan ada juga harapan atas keberhasilan perkembangan pendidikan anak” . (ooooo jadi harus sangat hati-hati yaaaa bu)
OOO alaa satu sesi aja sudah lumayan panjang ya… Ya maaf, padat si isinya…. bersambung aja ya untuk sesi berikutnya… mau bertugas jadi ibu RTdulu nihhhh… (ibu RT = ibu rumah tangga. Itu looo nyapu, ngepel, masak dsbnya he he he) Mohon bersabar…



















































