Pamungkas Dari Debat Capres..
July 3, 2009 by: yantiAkhirnya.. sampai juga diperjumpaan terakhir dari “Debat Capres”
Saya luangkan waktuku untuk ini. Sambung menyambung, pembukaan di media kaca, dan sisanya di radio, dalam mobil. (yah.. maklum masih punya tugas untuk antar jemput anandaku menimba ilmu)
Awalnya.. saya sangat puas, dengan apa yang saya dengar. Ketiga capres ini, subhanallah menunjukkan sikap dan sifat terbaiknya malam kemarin. Jawaban-jawaban mereka, ditambah dengan memori, perdebatan sebelumnya.. cukup membuatku banyak menarik kesimpulan, bagaimana karakter, visi dan misi mereka kelak jika diberi tanggungjawab sebagai pemimpin Indonesia.
Selesai mendengar, saya sempat sambungkan “perdebatan”ini dengan acara analisa perdebatan di layar kaca. (Sudah dirumah lagi.. jadi teruss nih..) Wah… saya jadi kecewa dan marah.
Acara di “Balai Sarbini” yang demikian apik. Para kandidat memunculkan permainan terbaiknya. Diskusi dengan baik, saling memberi komentar dengan memasukkan unsur penghargaan kepada lawan bicara, menyampaikan visi misinya dengan sejelas yang mereka maksimal mampu berikan. Oleh para presenter dan peserta analisa di stasiun TV tersebut, di ubah menjadi acara sekelas infotainment.
Apa yang kelihatannya biasa, komentar dan saling jawab yang baik, diubah menjadi sebuah upaya politis yang tajam dan menjatuhkan. Belum lagi.. pembelaan dan saling tuduh dari para pendukung.. Aduuh… Kok ya tidak juga mau pada belajar ya… dari pengalaman yang lalu .. bagaimana sikap tak simpati ini dapat menimbulkan reaksi luar biasa. Ada antipati pada kepemimpinan yang diaplikasikan di kegiatan agresif dan merusak. Baik itu demonstarsi ataupun kerusuhan. Kasian banget.. deh ketiga capres tersebut.. “kerja kerasnya” dijungkir balikkan.
Kalau saya boleh bilang ini juga sebenarnya jadi protype.. bagaimana sesungguhnya pola masyarakat Indonesia, berada dalam kepolitikan. (Idiih.. jauh ya..) Coba lihat.. sejak kejatuhan Rezim Pak Suharto.. sudah beberapa kali kita berganti kepemimpinan. Setiap pemimpin yang baru, disambut dengan sejuta harapan. Tapi kita tidak pernah memberikan harapan baru dan peluang bagi kepemimpian baru tersebut dalam hati kita, dalam sikap kita dalam keseharian kita. Yang Pemimpin.. tetap saja diatas.. kita dibawah tetap menjadi kita-kita yang sama.. (aku masih.. seperti yang duluuuu). Lalu bagaimana perubahan itu dapat terjadi???
Pemimpin yang baru… akan datang dengan sejuta ide baru, peraturan dan tata cara yang berkaitan dengan pengembangan dan pelaksanaan ide-ide baru tersebut. Kebawahnya ya.. kita yang melaksanakan.. Contohnya saja.. ketika instruksi tentang sekolah gratis di turunkan. Rapi.. di buat peraturan, arahan dan kebijaksanaan untuk mendukung. Begitu instruksi ini dilaksanakan…Lah.. coba saja, makin kebawah.. makin amburadul.. Level terbawah, guru dan sekolah yang melaksanakannya.. sibuk melakukan modifikasi agar.. seolah-olah.. sekolah gratis.. tetapi nyatanya tetap saja ada banyak tagihan yang menunjukkan biaya sekolah tak terjangkau.
Masalah yang timbul karena sikap tak simpati dari lapisan bawah, diartikan sebagai sikap pemimpin. Ah ya.. memang salah pemimpin yang mampu gak mengantur anak buahnya. Tapi jika semua sikap anak buah.. dinyatakan sebagai kesalahan pemimpin.. wah ya.. gak fair.. (Walaupun jika seorang pemimpin yang baik, pasti akan serta merta menjadi penanggung jawab, diminta atau tidak.. murni dari hati)
Yuk.. nyadar yuk…
Perubahan adalah tanggung jawab kita bersama dibawah sebuah kepemimpinan. Bukan beban sang pemimpin semata.
Hmmm… Hari contrengan makin dekat….
Siapapun yang terpilih.. semoga Allah akan menunjukkan dialah yang terbaik dari ketiga calon..



















































Berapa ya pak??? Mungkin harusnya 60 : 40 ya…??? 60 untuk pemimpin.. dan 40 untuk rakyat kebanyakan.. setuju???
Gak kok pak.. saya malah tersenyum… senang.. ada orang yang kritis dan humoris seperti bapak datang berkunjung kesini..
Pacar???.. biar aja lah.. saya gak butuh pacar.. (dduuuuuhhhh…) karena bersama saya ada seorang suami yang luar biasa.. Iman bagiku dan keluarga… ha ha ha….
tugas pemimpin itu mendelegasikan dan mengarahkan kebijakannya. sayangnya, level eselon departemen ke bawah yg masih amburadul. selain SDM yang msh byk di bawah standar (maklum, ada bbrp masuk jd abdi negara dng cara nyogok
), dan sistem multipartai yg membuat kepala daerah lbh tunduk pd partainya drpd kebijakan pemerintah.
presiden akan baik menjalankan tugas2nya klo didukung full oleh bawahannya dan kontrol legislatif yg profesional, bukan yg cari2 kesalahan. lagi2 gara2 beda partai..
.-= guskar´s last blog ..Saya dan Presiden SBY, SBY-JK, SBY vs JK =-.
Saya sendiri kurang setuju dengan yang namanya “debat”. Saya lebih setuju cara-cara “mufakat”, saling mendukung, saling melengkapi, dan saling koreksi, bukan saling menjatuhkan.
.-= rismaka´s last blog ..Optimasi JavaScript (1) : Pendahuluan =-.
kalau saya perhatikan selama ini calon-calon memang sudah cukup bagus walau tidak begitu maksimal, mungkin dikarenakan keterbatasan waktu … tetapi mungkin yang membuat antipati terhadap salah satunya lebih dikarenakan ulah dari tim suksesnya sendiri yang terkadang terlalu berlebihan, jadinya seperti menjual barang dagangan murahan saja … sifat yang khusyuk malah jadi busuk gara-gara mereka …