Pendidikan Masa Depan

February 28, 2010 by: yanti

100_0618Jika saya boleh meminta kepada Mentri Pendidikan, jika saya boleh mengusulkan saya berharap ada sebuah trobosan baru dalam dunia pendidikan.

Menurutku, anak-anak, generasi muda yang sedang mendapat pendidikan untuk meraih masa depan, kekurangan satu bagian penting dalam rangkaian pendidikan mereka. Kesempatan untuk lebih mengenal diri, mematut apa yang telah didapat, mengadaptasi dan kemudian kesempatan untuk menjalankan keilmuan yang diperolehnya sesuai dengan jati diri. Proses pembelajaran adalah proses panjang yang terbentuk dalam rangkaian sbb :
1. Membaca di awal
2. Mendengarkan guru/ pengajar dalam menyampaikan ilmunya (saat itu sang murid berusaha meng-link apa yang telah dibaca dengan apa yang didengar)
3. Mengulangi pelajaran dan berusaha mengembangkan dengan jati dirinya.

Sayangnya, rangkaian tersebut sudah jarang, dapat dilakoni secara utuh.

Pagi-pagi.. sekali, anak-anak ini sudah bergegas menuju tempat menimba ilmu, kadangkala.. sarapan di kendaraan (atau malah belum sempat sarapan ya? dan sarapannya jajan di istirahat pertama, kurang lebih jam 9an.. ), mata belum terbuka, degan  masih terkantuk-kantuk dalam perjalanan menuju sekolah.. (di Jakarta, sekolah mulai jam 6.30 pagi) apalagi mau baca-baca buku,… sepertinya jadi hal yang mustahil.

Disekolah.. dengan jumlah murid yang banyak dalam satu kelas (kadang kala mencapai 40 anak dengan 1 guru) Standrat materi juga sangat tinggi.. Dalam kondisi tak ideal tersebut, jika boleh, saya berharap paling tidak anak-anak masih punya kesempatan sebesar 50% efektif menyerap ilmu. (bisa kah?)

Sekolah, rata-rata berakhir diatas jam 2 siang.. untuk sekolah khusus bisa diatas jam 16.30. Kontrol makan siang?…tidak semua sekolah menyediakan makanan sehat apalagi katering.. bawa dari rumah??? sebuah tantangan lagi untuk para ibu juga murid-murid yang bersangkutan.

Pulang sekolah..

Sebagian ada yang sudah langsung K.O.. sebagian lagi masih bersemangat untuk mengikuti pelajaran tambahan. Yang jelas.. Pekerjaan Rumah dan bahan-bahan ulangan juga sudah menanti…. (PR sekarang banyak yang mengandalkan search engine. Yang penting “copy”, “paste” lalu “print”.. “kumpul”kan pada bapak/ibu guru”. Selesai sudah..tanpa sempat membaca apa yang diserahkan)

Pengenalan materi sebelum belajar.. jelas sudah terlewat… mendengarkan guru.. juga tak maksimal.. mengadaptasi dan menjalankan keilmuan sesuai jati diri… hmmm ini yang sepertinya teramat sangat tak didapat.

Memang anak-anak yang mampu menghadapi situasi tersebut, tercetak dengan luar biasa.. diusia muda, sudah hebat dengan beberapa bahasa.. diusia muda sudah dapat menyelesaikan pelajaran-pelajaran tingkatan kelas jauh diatasnya.. Diusia muda mereka sudah sangat melek teknologi modern.. Prioritas juga menanti mereka manakala akan memasuki jenjang sekolah diatasnya… “Anak-anak istimewa yang punya prestasi luar biasa”…

Pertanyaannya… berapa persen yang mampu???

Sisanya???

Menurutku, setiap anak manusia terlahir dengan “talenta” luar biasa. Ada anak-anak yang sangat pandai menuangkan kreasinya dalam lembaran kertas (menggambar), lantunan nada (pencipta lagu), bentukan tiga dimensi (design benda) atau anak-anak yang memiliki kemampuan untuk berorasi dsbnya.. Sepertinya sistim pendidikan yang kita anut sekarang ini, tidak direncanakan untuk mampu mengembangkan talenta-talenta tersebut. Ataukah kita memang berkeinginan “menyeragamkan” generasi masa depan?

Ah yaaa….Pendidikan dengan berbasis pada berbedaan memang dikembangkan.

Tapi tetap saja.. hanya akan jadi slogan kosong, jika anak-anak ini tak dapat melakukan eksplorasi.. bereksperimen dengan minat dan bakatnya.. Ya.. waktu mereka sudah habis untuk hadir di lembaga-lembaga pendidikan. Padahal, seorang affandipun perlu waktu cukup lama, hingga ia menemukan ciri khas yang mampu ditampilkan dalam setiap lukisannya. Seorang Thomas Alfa Edison juga butuh ratusan kali percobaan sebelum akhirnya bola lampu pertama menyala……

Peran serta keluarga juga menjadi makin kecil. Dirumah mereka tak lebih dari 2 atau 3 jam efektif. Sisanya, lelah, mengantuk atau TV.

Belum lagi.. standart UAN yang benar-benar “mematikan” talenta. Penilaian hanya berdasarkan pada nilai beberapa mata pelajaran. Lengkap sudah. Ah.. saya setuju sebenarnya dengan ide.. untuk lulus harus ada standart tertentu, agar kualitas kelulusan anak bangsa dapat dipertanggungjawabkan. Tapi.. mestinya ya.. kelulusan yang sesuai dengan minat bakat dan kebisaan anak-anak ini.

Bukankah bangsa Indonesia, tak hanya butuh profesor kimia? Harus ada juru masak, cleaning service, montir, tentara, nelayan dsbnya.. mereka-mereka yang terbaik yang menekuni bidangnya. Bukan mereka-mereka yang terpaksa berkarya karena ketidak mampuan mereka ikut dalam aliran pendidikan masa depan.

Jika saya diberi kesempatan, saya akan meminta pada Mentri Pendidikan.. untuk melakukan reset dan perencanaan ulang lagi dalam “Pendidikan Masa Depan”…

Related Posts with Thumbnails

Comments

4 Responses to “Pendidikan Masa Depan”
  1. aly says:

    I LIKE THAT. Pendidikan yang efektif adalah pendidikan yang tepat sasaran. bukan hanya akademis tapi juga non-akademis. Pendidikan bukan masalah nilai,tapi lebih kepada output yang dicetak.

  2. Hi – I would like to say thank you for an interesting post about a subject I have had an interest in for a while now. I have been looking in and reading the comments avidly so just wanted to express my thanks for providing me with some very good reading material. I look forward to more, and taking a more active part in the discussions here, whilst picking up some knowledge too!!

  3. Good share, great article, very usefull for us¡­thanks.

  4. Nice Information.. Thx for sharing this

    information

Trackbacks

Leave a Reply