Pondok Gedheku…
June 4, 2009 by: yantiBiarpun saya bukan yang empunya.. “Pondok Gedhe”… saya tetap ngerasa.. jadi bagian disana.. (hi hi hi sekali kali GR ya.. gak pa pa kan???) Tiap hari minimal 2 x saya lewat daerah itu.. dalam rangka “antar jemput”…
Ho ho.. ada yang unik disana…
Ada sebuah pasar tradisional.. (yang benar-benar pasar.. lengkap dengan ikan, sayur, jeruk,.. sampai.. peralatan untuk orang meninggal… dsbnya… ada) Berseberangan.. ada swalayan besar.. Isinya.. Toko-toko yang punya “patent” ada disana… Ah.. ada lagi disekelilingnya.. masih ada juga toko-toko yang menjual berbagai macam.. dari makanan sampai alat elektronik.. dari bank.., kantor pemerintah.. sampai sekolahan… Huuuu pokoknya.. komplit…
Dilihat di Peta mungkin daerah ini tidak terlalu besar.. tetapi cukup potensial.. oleh karena itu.. arus transportasi yang menuju dan keluar daerah itu.. juga cukup padat…
Nah…. ni dia… ada yang mau saya sampaikan sehubungan dengan transportasi…
Disalah satu percabangan jalan.. yaitu yang menuju ke arah Pekayon…
Jalannya gak terlalu lebar.. yah.. kira-kira 15 meteran… Tapi.. yang berminat memanfaatkan jalan ini.. lumayan banyak (diantaranya saya.. he he he) saking banyaknya..kendaraan bermotor, jalan yang hanya sebesar itu… diujung jalannya.. (yang dari arah Mall Pondok Gedhe..) bertumpuk kendaraan. Ahhh… celaka.. kita tak berbudaya antri…
Dapat dilihat???
Ada 6 antrian bertumpuk dan berjejer disana…
Deretan 1.. Sebuah angkot.. dan tukang makanan..
Deretan 2… angkot
Deretan 3.. ada sebuah “alat berat”.. saya lihat semacam..mobil derek..(berwarna kuning).. nun jauh disana
Deretan 4.. sebuah angkot lagi
Deretan 5.. lagi-lagi angkot.. diikuti dengan truk warna kuning
Deretan 6.. sebuah sedan.. yang berusaha untuk masuk diantara deretan angkot no 4 dan 5
Ke enam deret ini.. berusaha untuk menjadi 1 deret diujung jalan.. agar dapat masuk kedalam jalan yang menuju arah pekayon… (hii disini tidak ada eliminasi.. adanya jalan dengan “leher botol”…cukup nggak cukup harus muat semuanya dijalan itu)
(Dan saya…??? hmmm.. saya termasuk kelompok yang cukup bingung untuk milih deretan mana…biasanya.. tetap saja di deret 2 atau 3… sambil tegang.. dan keringatan)
Ehmmm mungkin ini pemandangan biasa.. (ini hanya satu dari sekian banyak keadaan macet yang kita jumpai sehari-hari bukan?) untuk kita semua pengguna jalan.. terutama di kota-kota besar.. seperti Jakarta..+ Jabodetabeknya, Surabaya.. Bandung, Bogor dsbnya.. apalagi jika jalanan tersebut melewati fasilitas umum.. seperti pasar tradisional, sekolahan, terminal dsb. Sebagian dari kita (mungkin) akan merasa.. tidak ada yang perlu diributkan dengan hal ini… (hmmm saya tidak tahu.. ini perkembangan dari sikap apatis.. cuek.. atau penuh dengan permaafan) Maaf jika ada yang tak berkenan.. menurut saya hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja… perlahan.. kita semua harus mulai menyadari.. ini sangat tidak efisien… dan sangat tidak “bertenggang rasa”.. Terutama sih… “menyebalkan”..
Rasanya mungkin.. lebih nyaman ya.. kalau tetap saja.. jalur ini hanya ada 2.. menggunakan jalur 2 dan 4 .(dengan mengabaikan jalur 1.. karena jalur ini untuk para pedagang dan pejalan kaki) mestinya.. jika ini kita lakukan, kita semua akan lebih cepat tiba ditujuan, polusi udara tak terlalu banyak, ketegangan karena “terjepit” dan harus berebut dapat dikurangi. (streess nya itu loooo) Arah kendaraan yang berlawanan pun.. juga tidak terhambat…
Ah.. ya satu lagi.. karena dekat dengan pasar tradisionil… angkot.. banyak yang tiba-tiba saja berhenti… menaikkan atau menurunkan penumpang.. sungguh-sungguh tidak peduli dengan kendaraan yang bertumpuk-tumpuk.. dan harus me-ngerem mendadak.
Memang sih.. pada pagi hari… kira-kira jam 6.30 hingga 8 an.. sesekali ada petugas yang menertibkan jalanan… (kadang dari petugas kepolisian.. kadang dari pengaman pasar tradisional) selebihnya… hmmm lumayan juga.. perjuangannya.. telat sedikit.. deretan antrian akan diserobot orang.. + resiko kendaraan tergores dan tertabrak..
Saya sungguh prihatin…
Ini bagian dari pertunjukkan.. bagaimana merosotnya moral bangsa.. tak berbudaya antri, tak punya rasa “tepa-slira” pada sesama pengguna jalan.. Ego yang meningkat.. seringkali juga ada “pertunjukkan pemakaian tata bahasa” yang “indah”.. (karena memakai banyak nama binantang)… (Ups.. saya juga bagian dari bangsa Indonesia ini ya… duuuhhhh.. jadi sama dooong.. moralku juga merosot ya??? duuuhhh).
Kemarin saya baru saja membaca selebaran.. yang dikeluarkan oleh “tempat belajar matematika”… tentang seorang anak yang dapat memerankan “peranan orang tua pemarah” dalam sandiwara sekolah, dengan sangat baiknya. Ketika ia mendapat penghargaan dan diminta.. berbagi.. bagaimana caranya hingga ia dapat memerankan “orang tua pemarah” dengan sangat baik.. Sang Anak bercerita.. bahwa a tidak pernah belajar khusus.. tentang hal ini.. ia hanya mengamati dan menirukan sikap-sikap sang ayah yang sangat pemarah.. (OOoooooooo)
Hal ini membuatku cukup terketuk.. (atau di-tonjok kali ya…) bahwa.. begitulah anak-anak akan meniru dan belajar dari kita akan apa-apa yang dikerjakan dimasa dewasanya kelak…
Jadi???
Kembali ke pertunjukkan kemerosotan moral bangsa.. seperti dalam arus kendaraan di Pondok Gedhe??? Bagaimana mereka kelak, dimasa depan??? Siapa yang dapat dimintai pertanggung jawaban untuk hal ini, jika bangsa ini makin tak terarah???




















































1. Hmmm… beda daerah.. beda kebiasaan.. ada hal enak dan hal tak enak.. selalu ada disetiap tempat.. Jakarta juga punya hal yang menjanjikan sebagaimana di desa.. contohnya.. pelayanan kesehatan yang lebih cepat dan terkini.. sebagaimana desa menjanjikan alam yang lebih bersahabat.. Yah.. tergantung apa yang jadi prioritas kita dalam hidup… mana yang akan kita raih lebih dulu… sisanya.. kita harus mengalah pada keadaan..
2. Pemerintah???.. Saya memang berharap ada aparat pemerintah yang akan membaca postingan ini… jika tidak… apa salahnya.. kita mulai bersama-sama (saya berharap.. kita semua terketuk hati untuk bersikap lebih baik setelah membaca postingan ini) Bukankah dengan bersama-sama.. kita akan dapat melakukan perubahan lebih cepat?? Jika tidak juga… (dengan sedih) Allah tidak akan tidur.. IA selalu tahu.. apa yang terbaik untukku.. jadi.. pantang menyerah.. pantang mundur.. jalani kehidupan dengan berusaha selalu menjadi yang terbaik.. Insya Allah
Yahh… benar-benar keras ya kehidupan kota besar ini
Aduh.. yang lagi nostalgia….
(Ada guyonan diantara kami (sepersahabatan) ketika masa SMA.. “gak ketemu orangnya, tapi kalau sudah bisa lihat atap rumahnya saja sudah ayem…” ha ha ha…ngelihat.. foto dengan angkot bertaburan.. juga sama ya.. teringat pada si dia??? ha ha ha)
Ya ampun… bener juga… untung gak ada “mie janda”nya.. bisa-bisa tambah ngetop tuh.. he he he