Rapat Pansus dari Kacamataku
March 2, 2010 by: yantiSaya ini rakyat kebanyakan. Saya belum pernah mempelajari ilmu keuangan yang “melip”.. Jadi ketika ada kasus Bank Century.. yang pembahasannya sampai berhari-hari.. saya susah untuk paham. (padahal ya sudah.. “ndeprok” depan media-media yang meliputnya) Apalagi setiap ada liputannya,.. waaaduuuhhh.. kalimat-kalimat yang ber”sliweran” disana.. penuh dengan sisipan istilah asing.
Coba dengarkan ada “ball-out” ada “sistemik”.. ada “pemaksulan”…dsbnya.. waaaa…..ora mudheng aku…
Yah.. walaupun rapat-rapat itu “terbuka” dan bisa disaksikan lewat berbagaimacam media.. tetap saja… saya dak ngerti.. (cek deh… dari sekian ratus juta rakyat Indonesia, berapa persen yang punya pemahaman 100% benar)
Sebagai rakyat awam.. saya cuman tahu.. ada beberapa orang yang kecewa.. marah bahkan ada yang streess dan bunuh diri, karena uangnya sendiri yang ada diBank Century.. tidak bisa diambil lagi. Gitu.. . Nah.. ada beberapa orang yang ditugaskan untuk menyelidiki.. bergabung dalam “Pansus”..
Laaa…Hasil penyelidikan Pansus akan diserahkan pada DPR, biar bisa dicarikan jalan keluarnya…
Laaa benar to.. sederhana.
Kok ya.. kemudian jadi berbelit lagi ya..? ketika hari ini saya melihat.. “looo katanya bapak-bapak itu mau nolongin, mencarikan jalan keluar”…laaaa… kok malah berantem, jorok-jorokan (dorong-dorongan), sepatu naik ke atas.. kepala.. ada lagi yang (halaaah iseng banget yaaa… berkomentar dengan suara “huuuu”nya, tiap kali terdengar suara yang pemimpin rapat).. Kalau sudah begini Siapa yang mau membela.. siapa yang dibela..?? Dengar ndak.. kok ada juga yang komentar, Katanya ini hanya dinamika sidang… Looo pak sidang yang mana???
Jika saya boleh bandingkan, sehari-hari, Anak murid Mandiga aja.(sekolah untuk anak-anak autism). diajari banyak sopan-santun. Tidak menyela ketika ada yang bicara. Tidak marah ketika menyampaikan keinginan. Berusaha dengan cara santun supaya “suara hatinya” dipahami dan didengarkan oleh lawan bicara. Ketika emosi tak terkendali.. masuk ruang tenang.. cooling down dulu.., baru coba berkomunikasi lagi. Belajar antrian.. Tidak main pukul.. dsbnya… Dan… tidak ada penambahan materi pelajaran kalau tidak ko-operatif.
Ck ck ck…. para anggota DPR yang terhormat adalah orang-orang dewasa.. bukan yang berkebutuhan khusus.. terpelajar lagi (kata pak.. Nga.. “kami ini orang sekolahan semua,.. ada S1. S2 , S3).. dan yang terpenting.. mereka semua telah disumpah untuk membawa suara rakyat.. Rakyat yang sebagian besar tak tahu apa itu istilah-istilah asing, atau apa yang sedang “bermain” disana. Rakyat yang hanya berharap hari esok matahari bersinar cerah.. ada masa depan cemerlang.. ada kesempatan meraih rejeki.. ada kesempatan mencari ilmu.. ada jaminan kesehatan dan hari tua.. ada udara segar bebas polusi untuk dihirup.. dsb-dsbnya.
Jadi pak….Mbok ya-o pak.. (saya cuman berdoa dan meminta sungguh-sungguh) jadilah orang-orang yang memang pantas untuk meng-ayomi rakyat… Biar rakyat ayem… Biar gak perlu ada demo.. (yang bikin jalanan makin macet).. biar Indonesia benar-benar jadi negara impian untuk rakyatnya…
Beda banget ama si sama si Khan… (MY Name is Khan)…


















































