Retradasi Mental

September 4, 2009 by: yanti

Retradasi Mental adalah keadaan dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak-anak).  Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama ialah ietelegensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren = jiwa) atau tuna mental. (dari : Artikel kedokteran, blog dan berita)

Hmmm…

Dari uraian diatas… kembali saya seolah diingatkan hari-hari ketika saya mengikuti pelatihan di Bogor Memang sekali lagi Allah .. Maha Kasih… saya merasa telah “dipersiapkan” dengan baik olehNYA.. untuk menghadapi situasi ini.. (memiliki Anak yang “beretradasi Mental”)

Tapi.. Langkah pertama yang harus saya lakukan adalah mencarikan pendidikan yang sesuai untuk Aini. Yah.. buatku ke-ilmu-an sangat penting.. saya berusaha membekali sebanyak mungkin ilmu.. yang anak-anakku minati dan mampu diserap. Tak terkecuali Aini.. apapun kondisinya.

Saran dari Ibu Vivi (psikolog di SD Pantara).. Aini dianjurkan untuk memilih metode pendidikan sbb :

1. SLB-C (sekolah luar biasa, untuk anak-anak Tunagrahita)

2. Homeschooling.

Ups.. buatku saran2 itu tidaklah cukup baik. Karena

1. Belum ada SLB-C yang berbasiskan Islam..

2. Dari hasil.. “perburuan”… yang namanya SLB didaerah Bekasi.. hingga ke beberapa tempat di Jakarta.. saya merasa miris..  Gedung Sekolah.. Fasilitas.. penanganan.. duuuhhh…. (Kapan yaaa… impianku tentang Spesial needs center dapat terlaksana)

Setahuku…,sebenarnya SLB sudah dibagi-bagi menurut katagori yang jelas..

1. SLB – A untuk anak penyandang Tuna netra

2. SLB – B untuk anak penyandang Tuna Wicara

3. SLB – C untuk anak penyandang Tuna Grahita

4. SLB – D untuk anak penyandang Tuna Daksa

5 SLB – E untuk anak – anak “Nakal”

Tapi.. itulah.. ketika saya ada di SLB-C., saya menjumpai.. ada anak yang tuna wicara, ada anak tunagrahita ada anak tuna daksa… bahkan juga Autis dalam satu ruangan kelas yang sama. Kapsitas kelas memang maksimal hanya 8 anak. Tapi.. menurutku dengan 8 anak yang “luar biasa”.. tentunya sang guru akan sulit mengatasinya.. terutama untuk level TK dan SD. Sediiihhh… yaaa… Kalau gurunya sebagian kelihatan sudah menjadi “panggilan hidup” kerja disana.. (walaupun ada juga yang “jutek dan sibuk dengan HP” ketika mengajar).

Dan… Fasilitasnya… huuu huuu huuu… Mestinya.. sekolah demikian lengkap dengan fasilitas maksimal. Ada replika rumah.., untuk belajar aktifitas harian.., ada sudut.. toko.. untuk belajar bertranskasi.. ada sudut menjahit, ada sudut memasak, ada sudut…pertukangan dsb-dsbnya… bukannya… “seepppiiii”

“nyeessss”… banget dihati.. melihat keadaan sekolah ini…
Apakah tempat-tempat ini yang akan dijadikan tempat menimba ilmu… bagi tunas-tunas bangsa???

Untuk homeschoolling… saya sebenarnya sudah mempertimbangkan pilihan ini laaaammaaaa sekali.. sebelum akhirnya Aini bersekolah di sekolah umum. Saya masih melihat ada pertimbangan yang mendasar… Aini alhamdulillah.. sangat baik perkembangan sosialnya.. kemampuan kesehariannya (yang kata psikolog.. ini tak berkaitan langsung dengan kelemahannya dalam “Retradasi Mental” ataupun “IQ yang dibawah rata-rata, tapi lebih pada keberhasilan pembiasaan.. ya.. pendidikan dan aturan tentang hidup yang telah Aini dapat sejak kecil dari semua orang yang ada disekelilingnya selama itu). Sediihhh.. kalau nantinya apa yang telah ia upayakan, ia selalu berusaha untuk berteman.. (walaupun kadang temannya sebel..yaaa., bis kalau udah marah gitu deh… keluar tingkah laku negatifnya).. Dan melihat.. bagaimana teman-teman kecilnya menyambut dengan antusias. Plus satu hal lagi… banyak perkembangan Aini yang menjadi sangat cepat, ketika ia berada dalam “kelompok main”nya… contohnya saja.. caranya berbicara.. Aini sudah mulai “normal” dalam pemilihan kata-kata.. tak lagi menggunakan “bahasa baku”.. sebagaimana anak-anak yang melewati terapi wicara. Jadi kalau pilihan itu jatuhnya ke home scholling… gimana ya.., pasti ia akan kekurangan interaksi dan komunikasi dengan teman sebaya.. (jika ikut komunitas.. pertemuannya tetap tidak tiap hari kan?)

Belum lagi..keAutisannya… (alhamdulillah.. sebagian orang yang saya temui.. suka terheran-heran mendengar Aini “pernah” didiagnosa Autis… yaaa.. pada umumnya mereka menyangsikan. Mudah-mudahan ini.. merupakan sebuah pertanda.. Aini sudah hampir selesai “bertempur” dengan ke-Autisan-nya) ada masa.. ketika ia akan sullliiiittt berkerjasama.. dan “berontak” dengan caranya… Ini akan sulit di handle oleh guru-guru yang tak berlatar belakang.. pendidikan luar biasa…

Waduuh… kayaknya dari tadi saya komplain terus ya.. untuk keberadaan sebuah SLB… (hi hi hi) yah.. gitu deh.. saya masih belum bisa memutuskan mana yang terbaik untuk Aini.. sebagai tempat menimba ilmu.

Related Posts with Thumbnails

Trackbacks

Leave a Reply