Sekolah

March 2, 2009 by: yanti

Berburu… sekolah..

Masih tentang sekitar mencari sekolah…

Ada hal yang bikin saya.. kembali tercenung… ini berkaitan dengan rumor.. yang beredar.. dan paling top saat ini adalah… seputar cara “dapat bersekolah disekolah favorit”..

Pilihannya memang hanya 2 untuk jalur pendidikan formal…

1. sekolah negeri.. yang dibeberapa kota telah diberlakukan bebas pembayaran… Ada yang bebas SPP ada yang bebas uang masuk… ada yang ditanggung sebagian biaya dengan dana BOS… Hanya saja kalo boleh jujur… hanya beberapa sekolah negeri yang punya kemampuan bersaing…  Entah SDM yang kurang memadai… (mudah-mudahan dengan adanya program “sertifikasi guru” ini segera dapat tertolong) Atau fasilitas yang seadanya.. (sekali lagi… jika program dana BOS terus dapat bergulir.. dan ditingkatkan.. baik pemanfaatan dan pengawasannya.. mudah-mudahan ini juga dapat banya membantu).

Sekolah negeri yang hanya sedikit inilah.., yang berkemampuan bersaing,.. jadi tempat impian.. begitu banyak calon murid-murid baru. Bukan rahasia lagi.. jika selalu saja ada segelintir orang yang memanfaatkan kesempatan ini dengan menawarkan.. kesempatan lulus ujian penyaringan.. dengan imbalan tertentu… hmmmm

Jika sudah demikian… cita-cita mendapat pendidikan gratis.. tentunya.. jadi samar…

2. Sekolah swasta… Ada yang bilang…

“Semakin Islami.. sebuah sekolah… semakin mahal harganya”… haaaahhhh????

Sebenarnya sebagai orang tua.. juga seorang muslim… banyak loo orang tua-orang tua yang dengan sadar.. memahami pentingnya arti pendidikan bagi sang anak… Ya.. pendidikan dunia… ya pendidikan akhirat… Tapi kembali lagi… ke masalah yang super klasik… duuuiittt.

Rata-rata untuk sebuah sekolah yang “mengaku” sebagai sekolahan Islami… angka yang harus dibayarkan dapat mencapai 7 hingga 8 digit… ini hanya sebagai uang masuk saja… berikutnya… ratusan ribu perbulan paling tidak harus ada untuk biaya pendidikan setiap bulan…

Sebenarnya.. jika saya boleh mengungkapkan isi hati ku… (walah… walah…)

Memilih sebuah sekolah untuk seorang anak.. sama dengan memilih sebuah potongan puzzle bagi masa depannya..  Yup.. harus sangat hati-hati…  dan sebaiknya tidak memasukkan unsur-unsur yang “berbau”.. memaksakan kehendak.. (walah… kayaknya.. saya makin banyak belajar ya….) jika tidak… puzzel tidak akan pernah.. terbentuk jadi susunan gambar…

Masa depan..  merupakan cerminan dari sebagian rahasia Allah (jodoh, mati dan rejeki)

Tidak ada satupun yang akan mampu menghalangi kehendakNYA.. jika ini sudah menjadi keputusanNYA.

Sebenarnya…anak-anak punya naluri… kemana arah yang mereka tuju…,sebagaimana.. tertulis dalam Takdirnya.. dan sebagaimana diucapkan dalam “perjanjiannya” dengan sang pencipta.. sebelum mereka.. berada didunia fana ini (sama halnya dengan kita semua)

Beberapa orang… seperti :

Andre hirata…, ia  tidak akan pernah menjadi seperti sekarang ini.. jika ia saat itu.. berkutat memikirkan biaya pendidikan yang mesti dipunyainya.. untuk bersekolah hingga ke Osborn.. Perancis.. bagaimanapun juga… dia “hanya” anak kecil disebuah wilayah… kecil dan terpencil dari negara Indonesia yang sangat luas ini…

Seorang Kartini… tidak akan pernah menjadi pendobrak generasinya.. jika ia terus memikirkan.. takdirnya.. sesuai dengan jamannya… takdir,.. tentang bagaimana seorang wanita harus bertingkah laku saat itu… Toh… ia melanggar dan menerima segala resiko atas pilihannya.

Seorang Nabi Ibrahim.. tidak akan pernah menemui siapa sesungguhnya Allah.. jika ia.. terperangkap dalam pemikiran masyarakat umum saat itu.. tentang Tuhan… Dia memilih untuk terus melangkah… mencari… dan melawan segala kebiasaan turun temurun. Keluar dari kungkungan.. adat

Lalu…???

Saya menjadi tercenung… ketika seorang sahabat.. menceritakan.. ia tidak mengijinkan putranya untuk bersekolah  disebuah sekolah Islami karena soal biaya…. (yahhhh… seperti saya tulis tadi… 7 atau 8 digit….. )

Saya kembali terpikir… apa yang diucapkan oleh sang Khalil Gibran… “Anak-anakku… bukan milikmu”..

Kalimat itu benar… dan sangat benar menurut saya.., anak-anak yang saya lahirkan… bukanlah milik saya… mereka hanya kebetulan “lewat” dalam kehidupan saya, menjadi bagian dalam hidup saya dan saya diamanahi oleh sang pemilik, Allah swt, untuk menjaga dan memberi mereka kesempatan selalu berada dijalur “perjanjian” dengan Allah swt.

Bagaimana mungkin.. saya berani berkata tidak.. atau menyuruh.. anak-anak.. mengambil sebuah langkah.. sebelum saya “berkonsultasi” dengan sang pemilik??? Apalagi jika saya melarang mereka karena kekhawatiran saya akan kemampuan saya… menjaga mereka???? Ampuni aku ya Allah…

Selama jalan yang ingin mereka ambil… tetap benar… (sesuai dengan aturan sang pemilik, Allah swt, yaitu Al-Qur’an dan Hadist…) mestinya.. saya harus menepiskan semua ketakutan saya.., kekhawatiran saya.., ketidak mampuan saya.., (apa pendapatmu sahabat???) Keuangan… untuk membayar… Tenaga.. untuk mendampingi.., jarak yang terbentang.. rasa kehilangan… harusnya kuabaikan… Secara utuh.. saya harus berpasrah pada sang pemilik.. untuk mengarahkan dan menjadikan anak-anakku.. sesuai apa yang telah DIA gariskan…. Insya Allah.. semua apa yang memberatkan akan terjawab… Dana akan tersedia… , rasa khawatir akan pupus….

Sang Anakpun.. sebagai pemeran utama dalam cerita ini (karena dia yang akan bersekolah) sudah waktunya… untuk diajak bergabung dalam mencari jawaban.. atas jalan hidup yang akan dipilih.. dengan  sholat Tahajud…, sering berdialog.. dengan yang MAHA… dengan sholat Istikharah.. agar pilihan tidaklah keliru… dengan banyak beramal… agar dibukakan pintu barokah… dengan banyak berbakti… agar doa orang tua memperlancar jalan… hingga detik terakhir… sebelum.. pengumuman.. penerimaan murid dikumandangkan… Terus.. terus… dilakukan… bebarengan dengan upaya belajar giat…

Dan.. dengan tambahan penyisipan… belajar ikhlas.. pada apapun keputusanNYA… ini yang terutama…

Karena… bisa jadi.. apa yang didapat tidak sesuai dengan harapan… Yah.. memang tidak mesti bersekolah, disekolah mahal… (= sangat Islami) merupakan sebuah langkah yang terbaik.., Tidak mesti disekolah negeri… yang gratisan.. merupakan langkah terpaksa…. karena tidak ada pilihan…

Sungguh… hanya DIA.. satu-satunya… yang paling tahu… mana yang terbaik untuk putra/i kita…

Jadi…Tetap terus… berjuang… dan sekaligus… memupuk keikhlasan…  Anak-anak hanya butuh doa dan restu kita sebagai orang tua…, kesungguhan hati orang tua untuk membimbing..  persyaratan yang lain… Sungguh.. jika kita percaya 100% padaNYA…, insya Allah.. DIA sediakan…sooo…Never Stop… Never.. hopeless…. Insya Allah.. putra/i akan jadi muslim yang mumpuni… yang siap membawa tonggak estafet perjuangan…. Amin…

Related Posts with Thumbnails

Leave a Reply

CommentLuv Enabled