Selingkuh
May 9, 2009 by: yanti“Selingkuh” kata yang bagai magnet.
Dari sebuah survey terbuka sebuah radio swasta, cikal bakal perselingkuhan ternyata tidak hanya soal financial ataupun kebutuhan biologis semata (sex). Beberapa orang mengakui kebutuhan sebagai makhluk sosial, untuk disayangi, diperhatikan dan didengarkan adalah penyebab utamanya. Prosesnya pun lewat seringnya berbagi rasa. (Aduuhhh)
Ah ya.., ada seorang trainer (lk) dengan muridnya (pr), ada seorang atasan (pr) dengan supir pribadi (lk), ada seorang wanita dengan sahabat suaminya, ada juga antar teman dalam satu kantor.. Sooo easy.. Maasya Allah.
Ah ya.. ini memang dunia nyata. Dimana segala hal buruk dan baik dapat terjadi. Dimana situasi seringkali lebih banyak berpihak pada kebathilan dari kebaikan. Dimana standrat penilaian yang dipakai sangat semu.
Hmmm.
Selama 2 hari (topik ini diangkat selama 2 hari! ya.. 2 hari sahabat-sahabat..) saya mengikuti dengan sangat antusias. Kenapa? Karena ini sebuah hal yang seringkali sulit disentuh oleh para pendakwah.. Pada umumnya, jika para pendakwah mencoba mengurai dan mengangkat topik ini, para pelaku cenderung segera menutup semua akses kesana. (hmmm)
Yah.. banyak alasan yang akan disampaikan oleh para peselingkuh atas sikap mereka, dan banyak juga argument yang disampaikan oleh para pendakwah. Akibatnya, ini adalah sebuah persoalan yang telah menjadi bagian turun temurun, sejak jaman Nabi Adam saw (kasus Habil dan Khabil)
Hal yang sangat menarik untukku selama 2 hari mengikutinya adalah :
1. Yang terutama adalah kembali membuktikan “kebenaran hukum” dalam Islam. (Kebenaran yang hakiki.. terserah manusia mau bilang atau melakukan apa untuk mematahkan kebenaran itu.. nyatanya tetap saja hanya DIA yang paling benar)
a. Tidak boleh 2 orang yang berlainan jenis berdua-duaan tanpa adanya orang ketiga.
Dalam keseharian, hal ini sudah sulit untuk dihindari. Rekan bisnis. Karyawan. Atasan. Hmm. Begitu banyak situasi yang menyebabkan ada kemungkinan untuk interaksi sangat dekat.b. Ketika batasan jarak dan tempat sudah ditembus. Batasan berikutnya, “Batasan Kostum”pun dilanggar. Aurat Perempuan bukan lagi ditutup tetapi malah sengaja dijadikan sebuah sarana untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi. Untuk menarik perhatian umum pada sebuah merek mobil, promosi pariwisata, dsbnya.
c. Pemahaman, Rumahku Surgaku, (Baiti Jannati) tak lagi di maksimalkan. Ayah, ibu dan anak-anak, masing-masing mempunyai dunia yang tidak saling bersinggungan. Dalam satu rumah yang sama bisa “beda jam tayang”. Anak ada di rumah, bapak dan ibu bekerja. Anak tak lagi ada di rumah (sudah tidur) bapak dan ibu baru beraktifitas dalam rumah.
See “adab-adab pergaulan dalam Islam” dan “Aurat Silang Janita“
2. Pemahaman bahwa pasangan hidup (istri/ suami) adalah sahabat seiring telah luntur. Ah ya.. sekali lagi pasti adalah masa-masa seebeeeel luar biasa dengan pasangan hidup. Tapi tolong diingat, pasti ada masa-masa “mabuk kepayang”. (kalau tidak, mana mungkin dapat menikah??? atau kawin paksa, seperti jaman Siti Nurbaya???) Marah mah lumrah, kecewa ya.. mau apa lagi pasangan hidup bukanlah manusia sempurna. (hi hi pengalaman pribadi ya???) Tapi hidup kan harus terus berlanjut. Pasti akan ada masanya indah itu datang lagi, sebagaimana pasti akan datang juga lagi yang suram-suram.. (Ughhhh)
3. Ini nih yang sampai sekarang masiih saja jadi pertanyaan luar biasa besarnya dalam hatiku. Menurutku, alasan laki-laki berselingkuh/ bercerai yang mengandalkan pada kalimat: “Istri saya tidak melayaniku sebagaimana mestinya, saya terbiasa untuk mandiri di rumah. Tidak ada yang melayani makan, tidak ada yang menyediakan bajuku, tidak ada yang bla bla bla” sangatlah tidak mendasar dan hanya mempertontonkan ketidak dewasaannya. (hiiii kok galak ya….) kenapa?? karena setahuku, Nabi Muhammad saw, contoh manusia mulia, yang paling pantas diladeni (karena beliau punya 9 istri yang “melayani”) tidak pernah bersikap sangat manja.. seperti itu. Ada banyak kisah yang mengangkat betapa Nabi menjahit sendiri sepatunya, tidak menuntut harus ada makanan dimeja (apalagi minta dilayani), membantu istrinya mengangkat jemuran, tidak mau menyusahkan istrinya yang lalai tertidur hingga tak membukakan pintu untuknya dsb-dsbnya.
Kali lain, saya justru berpikiran alasan tentang “melayani” ini kemungkinan diangkat dari tradisi turun temurun dan adat sebuah daerah saja. (Haaaa tambah galak) Atau mungkin.. salah datang ke Ta’lim.. Mestinya Ta’lim untuk kaum ibu, karena disaat itu dikupas tentang “bagaimana menjadi istri shalihah”, sang bapak ini datang.. Jadilah apa yang didengarnya dijadikan sebuah SOP (Standrat operation Procedure) bagi istrinya (yang harus dilaksanakan, karena punya segudang punishment untuk setiap penolakan). Sedang Ta’lim untuk kaum bapak, yang mengupas tentang “sebaik-baik laki-laki adalah yang laki-laki yang paling baik bagi istrinya” di lewatkan… (hua ha ha ha)
4. Kesimpulan paling penting yang kemudian saya dapatkan dari acara ini adalah
a. manusia yang berselingkuh adalah manusia-manusia yang sangat egois, tidak dewasa dan tidak mau menaggungjawabkan perbuatan yang ia lakukan.
b. (kata sang penyiar) Level manusia dengan perilaku selingkuh dengan tujuan utama kebutuhan biologis atau finansial, masihlah setingkat dengan kebutuhan dasar saja. Sama dengan binatang (ufff maaf)
c. Sebagian besar para laki-laki yang berselingkuh, tidak pernah berfikiran untuk meinggalkan istrinya. (uhmm pas benar dengan teori dari Oprah ya.. dalam “Affair dengan the Other Woman”) Jadi sebaiknya para perempuan yang terlibat dengan perselingkuhan, berfikir berkali-kali untuk melanjutkan hubungan ini.
f. Luka yang dialami oleh sang istri, karena sikap sang suami, tidak akan pernah sembuh (ahh… ini disampaikan oleh sang psikiater, ibu Ida). Sehingga sebaiknya, jika sang lelaki berniat untuk “kembali” pada sang istri setelah ketahuan berselingkuh, bersiap-siap untuk “disiksa” seumur-umur oleh sang istri… (ha ha ha..) Kedengarannya kejam ya.., tapi menurut ibu psikolog yang hadir saat itu, sikap penyiksaan ini adalah hal yang lumrah.. Bentuknya.. bisa di”omelin” sepanjang masa, bisa “dicuekin”, bisa “diungkit-ungkit”.. dsbnya.
Uhhh siapa mau????
Dan ini juga memberikan bukti lagi padaku.. bahwa betapa akan jadi mulianya seorang perempuan, jika ia mampu secara tulus ikhlas, lahir batin, Menerima kembali sang suami kepangkuannya.. (artinya dia akan melepaskan kesempatan “masa-masa menyiksa” dengan tulus).. Bukti bahwa betapa mulianya seorang muslimah dimata Allah. (Pertanyaannya… bagi kita semua muslimah, maukah kita melakukan ini? Sanggupkah menukar “kesempatan menyiksa.. sampai leeggaaaa” dengan meraih janji Allah??? Ugh.. sepertinya saya juga harus mereenung daaaalllaaaaam )
Aduuhhh.. mungkin tulisanku kali ini sangat “suci” ya????
Pasti ada yang nanya nih…
1. “coba jika terjadi pada diri sendiri?”..
jawabanku…”laa haula walaa quwata illaa billaah” Ya.. saya juga gak berani berjanji.. (hanya berusaha semaksimal yang kubisa), kan saya juga merenung daaalllaammm (insya Allah.).. dan tetap dengan embel-embel doa.. “Ya Allah.. jika saya masih boleh memohon toolooong ya Allah, jangan beri saya sesuatu yang tak mampu kupikul..Sungguh hanya Engkau yang Maha Kasih dan Maha Sayang, yang tahu apa-apa yang terbaik bagiku Amin..”
2. Ah.. sepertinya apa yang ditulis ini gak sesuai dengan jaman.. mana bisa ada situasi yang tak memungkinkan percampuran laki-laki dan perempuan ataupun hal-hal lain yang tertulis diatas?
Jawabku.. “laa haula walaa quwata illaa billaah” dan hanya semaksimal yang bisa saya lakukan agar terhindar dari jeratan syaitan yang semakin dalam.
Yah…Sekali lagi Hukum Allah tetaplah Hukum Allah.. Tidak ada gunanya berdebat tentang hal ini, yang di pertanyakan adalah mau atau tidak melaksanakan. Itu saja..





Subhanallah… sungguh Allah kasih pada orang sepertimu sahabat.
Saya selalu mendoakan.. agar setiap langkahmu kemudian.. menjadi langkah yang sangat diridhoi Allah.. Insya Allah…
Tetap semangat ya sahabat… keep moving.. kita akan selalu bersama-sama..insya Allah
saya juga salah satunya…cukup sakit..
serasa hidup saya hancur…tapi masih ada anak2 yg membutuhkan saya..
saya hanya percaya sama Allah..tentu Dia punya alasan tersendiri mengapa saya diberi ujian seberat ini.