Alhamdulillah…, sudah selesai tugas rumahan…. mari kita lanjutkan lagi… dari tulisan sebelumnya
SESI KEDUA
Sesi kedua ini, di sampaikan 2 muslimah muda.. Ibu Yulianty dan Ibu Siti Fadhillah.
OOOO rupanya beliau-beliau ini berprofesi sebagai terapis. Dan.. OOOO saya jatuh cinta pada mereka. Suudah laaammaa sekali saya berusaha mencari terapis-terapis yang mau berjuang dari hati seperti mereka.. Ahh jangan tertawakan saya.. coba dengar apa yang mereka sampaikan.. dan saya yakin anda juga akan jatuh cinta.
“Mengajar Kreatif Untuk Siswa Autistik”
Pertama-tama mereka menyampaikan apa yang menjadi latar belakang dari tema pembicaraan kali ini. Hmm dengan kesadaran penuh, mereka memahami bahwa :
1. Anak Autis berhak belajar dan mendapat pengajaran seperti anak-anak pada umumnya.
2. Mengajar anak autis membutuhkan ketrampilan khusus, karena anak yang diajar mempunyai karakteristik khusus.
3. Guru/ Terapis yang kreatif bisa memiliki produktivitas yang jauh lebih baik
4. Guru/ Terapi syang kreatif, bisa memunculkan cara baru dalam mengajr, menyelesaikan permasalahan atau membuat sesuatu yang inovatif.
Nah dengan pemahaman inilah.. sebelum mengajar, para ibu-ibu ini, mencoba memahami karakteristik anak, latar belakang anak dan gaya belajar anak. Pendekatan ini untuk menggali potensi dan kendala yang ada pada seorang murid.
Kemudian.. setelah memahami anak didik, para terapis akan mulai mencari dan mencoba menerapkan metode-metode terapis yang diperkirakan “klop” dengan anak.. semisal anak dengan kemampuan visual cukup tinggi, dapat digunakan metode “Flash Card” (bisa dibaca disini dan disini). Anak dengan kemampuan Audio tinggi dapat dengan menggunakan kaset yang telah direkamkan suara sang terapis, atau aba-aba terapis dari luar kamar mandi ketika anak didik sedang melakukan aktifitas BAB, BAK ataupun mandi.
Metode yang dapat digunakan sangat bervariasi.. tanpa bantuan alat atau dengan bantuan alat.
(mengagumkan.. ketika ibu Ita, yang ikut “nimbrug” menunjukkan hanya dengan sebuah alat peraga., dipilih permainan potong buah, menunjukkan dengan alat yang sama kita dapat menyajikan 20 macam cara pelajaran.. apa saja : mengenal warna, struktur kasar dan halus, bentuk benda, pembagian, penjumlahan, pengurangan, pengelompokan sayur, pengelompokan buah, sifat-sifat sayur, sifat-sifat buah, motorik halus, motorik kasar, imaginasi, ( aduuuh apa lagi ya???? benar-benar pembuktian, saya tidak punya kreatifitas tinggi nih….)) Trial and error sebaiknya digunakan (dengan pencatatan dan evaluasi) sampai akhirnya akan dapat ditemukan metode yang paling “TEK-TOK” (he he he ini istilahnya bu Ita). Ini cukup juga membuktikan, bahwa dalam melakukan terapi, para terapis harus benar-benar mempersiapkan dengan matang. Tidak bisa saat itu juga mengajar dan selesai hingga bertemu lagi di sesi berikutnya minggu depan.
Nah… Ini nih… Contekan yang bisa digunakan untuk “mempermudah” pekerjaan Terapis memberikan Terapi yang Kreatif :
1. Gunakan kesukaan anak atau minat anak sebagai “pintu pembuka”. Misalnya jika sang anak sangat suka makan, maka sebaiknya kata-kata yang diperkenalkan kepadanya saat belajar membaca adalah yang ada kaitannya dengan makanan seperti nama makanan, nama restoran, letak restoran/ makanan tersebut berada.
2. Variasikan tempat, situasi dan instruksi.
3. Gunakan imbalan, timer, token, jadwal dsbnya (ini hanya sebagian dari banyak penunjang yang dapat digunakan dalam membentuk perilaku siswa)
4. Aplikasikan langsung dalam kehidupan sehari-hari
5. Mengikut sertakan orang-orang yang mempunyai kaitan dengan sang anak, untuk menjaga kesinambungan cara belajar dan metode tersebut.
Dan.. ini lagi “contekan” tentang apa-apa yang biasanya menjadi kendala dalam proses belajar ini
1. Cenderung tidak fokus dan mudah beralih
2. Pemahaman instruksi terbatas
3. Tempo Kerja cenderung lambat
4. Mudah menyerah dan putus asa
5. Sulit Kontrol Emosi
6. Hambatan bicara dan komunikasi
7. Kurang bersosialisasi
8. Gangguan motorik halus dan kasar
9. Kecenderungan untuk implusif dan hiperaktif.
Setelah melewati proses-proses diatas.., kembali ibu-ibu terapis ini, mengajak kita semua untuk melakukan instrospeksi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini :
1. Adakah teknik baru yang sudah kita temukan dan terapkan untuk siswa kita?
2. Apakah kita mudah menyerah? Karena hendaknya, jika teknik yang kita gunakan belum berhasil, sebaiknya kita tetap terus berusaha dengan terus mencoba/ mencari teknik-teknik yang lain, hmmm bisa jadi justru ini adalah kunci untuk menemukan jalan terbaik.
3. Sudah ikhlaskah kita? Bagaimangan pun juga segala teknik yang kita terapkan, akan lebih berhasil jika dilakukan dengan hati yang tulus.., penuh keikhlasan..
Hayoooo siapa sekarang yang bisa bilang gak jatuh cinta dengan kedua terapis ini???? Terakhir kali, saya patah hati.. dengan terapis (belum lama looo) ini tentang kartu Flash Cardku. Saya kecewa beeerrraaat.. ketika kartu-kartu yang saya bikin, diabaikan begitu saja oleh sang terapis. Beliau-beliau ditempat terapi ini tetaaap saja mengunakan metode lamaaaa untuk mengajarkan Aini membaca.. Iya.. dengan mengenalkan vokal, konsonan, dstnya… Tidak menggunakan metoda “global” yang telah kuterjemahkan dalam kartu-kartu Flash Card. Dan yang bikin saya makin “berdarah” ternyata Mandiga menggunakan metoda ini untuk belajar membaca… (Padahal dalam kepatah hatianku, saya sempat berpikir.. “Oooo ala.. memang saya ibu yang gak punya ilmu terapi si.. ya tepat saja jika, apa saran dan upaya yang saya lakukan tidak dianggap penting”) Ugggghhhh…
Sayang ya.. Mandiga punya “waiting list” yang paaaannnjjjaaaannng untuk menjadi murid didik disana.. Hu hu.. cintaku bertepuk sebelah tangan. Laa haula Walaa quwata illaa billah
Okkk…. Mohon amat sangat diijinkan saya untuk stop lagi … panggilan untuk jadi ibu RT…. (mau masak untuk makan malam…. Bantuin yukkk… Ha ha ha.. )
(Bersambung…….)







Alhamdulillah
tetap semangat ya Bu.
Menurut saya ortu tetap yang paling tahu dengan baik tentang anaknya
thanks for the ideas , i’d love to stick to your weblog as generally as i can.have a great day~~