Seminar Mandiga 3

May 12, 2009 by: yanti

Alhamdulillah akhirnya tibalah kita semua disesi berikutnya, setelah melewati sesi pertama, dengan ibu Dyah Puspita dan sesi kedua dengan 2 ibu, ibu Yuli dan ibu Siti

Sesi Ketiga

Kerjasama Effektif Orang tua-Sekolah

oleh Ibu Adriana S Ginanjar

Ah ya… Sesi ketiga.. (Aduuh maaf.., sudah lewat 3 hari, sudah tidak “fresh” lagi ya?t.. Saya sedang bagi waktu untuk konsentrasi mendampingi putra tengah menghadapi UASBN nih.. Yah.. bagi-bagi waktu.. mohon dimaklumi)

Tema ini memang kurang lebih sejalan dengan pemikiran saya,  sudah sejak lama (setelah mengalami “jatuh bangun” dalam bergaul dengan dunia pendidikan) saya sadari apapun usaha saya tetap saja tidak akan mencapai hasil yang maksimal  jika setiap bagian (guru, murid, dan orang tua) dari proses pembelajaran ini, tidak bekerjasam dengan baik. Seperti halnya hubungan-hubungan lainnya. Harus ada dasar kepercayaan, saling menghormati, saling menghargai, saling terbuka, jujur, tidak ada sikap saling.. saling lainnya.

Dan pada umumnya memang hubungan antara orang tua dan guru tidak teramat sangat mesra. (sediih ya..)  Ada  banyak faktor yang menjadi akar permasalahan.  Yuup kita kupas ya..

I Peranan Orang Tua Anak

1. Sebagai orang-orang yang lebih dulu mengenal anak-anak autistik, seyogjanya, orang tua sangat mengenal kebiasaan anak. Ini menarik.., karena jujur saja, sebagai orang tua kita seringkali mengabaikan fakta ini. Kita tidak memiliki data-data (tertulis) yang rinci tentang anak kita sendiri. Untuk mengingat-ngingat kapan anak ini imunisasi, sakit yang pernah diderita, kapan mulai tertawa dsb.. perlu waktu yang sangaaat lamaaaa. (Ahhhh kena “tonjok” nih.. tepat di ulu hati.. Ughh)

Ini yang sebaiknya kita perbaiki. Karena jika kita ingin pihak sekolah dapat mengenal anak-anak kita dengan baik, secara lengkap, sebaiknya orang tua membuat sebuah biografi singkat, tentang :

a. Diagnosis

b. Kekurangan dan Kelebihan

c. Kondisi sensorik

d. Situasi belajar yang cocok.

Lebih baik lagi jika biografi ini dibuat singkat dan jelas. Jika perlu disertai foto anak dibagian depan.

2. Sifat-sifat orang tua. (he he he… nih dia yang juga cukup keras “menohok” ku.. ). Ada beberapa tipe-tipe orang tua yang umum dijumpai

A. Tipe “Pencemas”

Ciri-cirinya adalah :

* Sangat takut jika anak tampak aneh, mengamuk di depan umum, merepotkan guru-guru.

* Sangat sering memikirkan masa depan anak, terutama bila orang tua meninggal.

* Seringkali merasa putus asa, depresi, lelah sepanjang hari, emosi dan pikiran berubah-ubah.

* Kecemasannya membuat seisi rumah ikut stres.

* Mencoba banyak terapi dan selalu ingin hasil yang cepat.

B. Tipe “Pengkritik”

Ciri-cirinya adalah :

* Sangat ahli dalam menemukan kesalahan orang lain dan kemudian memberikan kririk pedas.

* Sering mengkritik anak dan punya harapan yang tinggi terhadap kemampuan anak.

* Selalu tidak puas dengan layanan ditempat terapi atau sekolah, menuntut perbaikan terus menerus.

* dijauhi sesama orang tua karena senang memberikan nasehat dan petunjuk untuk anak sesuai dengan pengalaman pribadinya.

C. Tipe ” Ambisius”

Ciri-cirinya :

* Memberikan penanganan super intensif bagi anak setiap hari, termasuk hari libur.

* Mempelajari berbagai cara mutakhir untuk membuat anak menjadi “normal”

* Berusaha keras meningkatkan kemampuan akademik anak agar bisa masuk sekolah umum.

* Bersedia mengeluarkan banyak baiaya demi anak special dan meminta anggota kealahluarga lain untuk mengalah

D. Tipe “Infotainment”

Ciri-cirinya :

* Hobi menyebarkan informsai tentang cara penanganan, tempat terapi, dokter, psikolog, lengkap dengan ulasan bernuansa gosip.

* Membicarakan keberhasilan anak, tetapi menyembunyikan kekurangannya.

* Rajin mencari informasi dari orang tua lain untuk kemudian dikemas menjadi berita infotainment

* Memberikan info-info terkini tentang autisme, yang belum tentu sudah dibaca lebih dahulu.

E. Tipe “Acuh Beybeh”

Ciri-cirinya :

* Lebih suka mengurus hal-hal lain (pekerjaan, perawatan tubuh, suami dsbnya yang tak berkaitan langsung dengan situasi anak autistiknya) daripada menangani masalah anak.

* Menganggap gangguan pada anak tidak berat dan nantinya akan membaik dengan sendirinya.

* Sangat percaya pada kebijaksanaan sekolah dan penangana di tempat terapi, tidak ingin tahu kegiatan dan kemajuan anak.

* Biasanya punya orang keprcayaan yang akan mengurus semua keperluan anak.

Haaaa… Mari kita semua instropseksi… tipe yang mana ya diri ini??? (aduuuh… malluuu ya…)

OOOO… Nanti dulu.. jangan sembunyi karena malu..

Karena ibu Adrian, mengatakan justru tipe orang tua yang mendekati sempurna adalah justru gabungan dari kesemuanya.. dengan catatan telah dikelola dengan baik. Iya.. jika kita mampu menyampaikan informasi (tipe infotainment) dengan tepat dan tidak bertujuan menghasut, akan membantu dan saling mengisi diantara orang tua anak-anak autistik
(Alhamdulillah…. )

Dengan demikian bagian dari kerjasama ini, yang dapat dilakukan orang tua adalah

* Memberikan informasi tentang setting belajar yang cocok untuk anak.

* Mau aktif berdiskusi tentang cara-cara menangani tingkah laku anak yang menimbulkan masalah

*Orang tua perlu paham dan menguasai metode belajar bagi anak agar dapat melakukan pengulangan prose pembelajaran ini dirumah dan (atau) mengajarkannya (metode belajar dari sekolah)  pada terapis yang mendampingi anak diluar sekolah.

* Mendampingi anak saat mengerjakan PR

* Rutin melakukan komunikasi dengan guru, baik itu melalui buku penghubung maupun tidak.

* Tetap terlibat dalam proses belajar disekolah. (Bisa dengan sesekali aktif “mendengarkan dan ambil bagian” dalam proses pembelajaran, atau dapat juga dengan menggunakan alat bantu teknologi, “Camcoder” misalnya) Dengan demikian orang tua dapat tetap terlibat dalam lingkungan belajar anak. (Orang tua akan tahu siapa teman terdekat, siapa teman yang paling tidak disukai, pelajaran yang menarik, pelhajaran yang membosankan, kesulitan + sikap sikap yang dilakukan anak ketika mengalami kesulitan atau juga dalam saat yang menyenangkan baginya)

* Terbuka pada hal-hal yang tidak menyenangkan (dikritik)  dan mau berkompromi untuk mencari jalan keluar.

* Melakukan pertemuan berkala, antara guru kelas, terapis diluar sekolah, psikolog dan orang tua.

* Melakukan komunikasi yang intens diantara orang tua dan guru, baik ketika sedang menemui masalah ataupun tidak.

* Mengingat jumlah waktu pertemuan yang lebih banyak antara orang tua dan anak, dibandingkan antara anak dengan sekolah, sebaiknya orang tua bertindak sebagai manager anak. Menjadi penghubung dan penyampai “berita” dari sekolah ke tempat terapi, atau dari sekolah ke psikolog, atau dari psikolog ke tempat terapi dan sebaliknya. Dengan demikian setiap bagian dari kerjasama ini, akan selalu memantau perkembangan terakhir dari sang anak.

* Berusaha mencari sisi-sisi positif dari sekolah, dan mengembangkan dalam bekerjasama.

II Peranan Sekolah


Yang Kebetulan tidak dibahas disini adalah Tentang Pemilihan Tempat  Sekolah dan peranannya.  Mungkin sudah dianggap oleh beliau ini, kita semua sudah paham. Atau mengikuti pendapat umum mungkin ya?? Bahwa Sekolah memiliki peranan mendidik anak-anak sesuai dengan kurikulum yang telah ditentuankan.. (hmm coba ya.. kalau saya sempat bertemu ibu adrian, saya akan coba untuk mencari tahu lebih lanjut).

Ah ya.. saya mendengar ada pertanyaan dari salah seorang peserta, mungkin bisa memberikan sedikit gambaran tentang itu. Silahkan simak :

Pertanyaan.. “Rata-rata kita semua mengalami masa-masa, dimana anak kita berpindah-pindah dari satu tempat terapi ke tempat terapi yang lain, Apakah ini dapat disebutkan sebagai ungkapan tipe “pengkritik?”  “Dan Bagaimana kita dapat menentukan tempat terapi ini baik untuk anak kita?”

Jawaban dari ibu Adrian adalah “Pada awalnya memang wajar jika kita para orang tua yang baru saja menerima diagnosa keautistikan anaknya dengan sikap “tidak dapat memilih” tempat terapi. Kita datang ke tempat terapi, hanya karena menuruti nasehat dokter saja. Atau hanya berdasarkan informasi dari seorang kenalan kita. Hmm dengan berjalannya waktu, sikap seperti ini harus ditinggalkan dan memilih tempat-tempat terapi/sekolah (ini dapat diterapkan pada pemilihan sekolah) yang memiliki ciri-ciri sbb

1. Sejak awal telah dapat mendiskusikan dengan baik rencana-rencana terapi/ proses belajar dengan orang tua.

2. Tidak tertutup 100%, tidak memberikan kesempatan sama sekali bagi orang tua untuk melihat proses belajar disana. (Ada masa dimana anak sedang bad mood, butuh dampingan orang tua, ada masa dimana orang tua perlu juga melihat untuk mengetahui metoda dan cara pembelajaran yang digunakan, sehingga dapat melakukan pengulangan yang sama dirumah)

3. Penyampaian laporan yang tersendat-sendat atau tidak ramah

4. Tidak terbuka pada kritik dan saran.

5. Tidak melakukan terapi berdasarkan kebutuhan anak,  cenderung hanya 1 pola terapi pada semua anak didik.

Ehmm Ehmmm mari kita evaluasi lagi…

Brekaca dari cerita ibunda Ruben (ibu Ani). (Ruben telah bersekolah di sekolah dasar “High Scope”) Ibu Ani menceritakan bagaimana peranan sekolah hingga saat ini bagi Ruben putranya.

“Sejauh ini, disekolah “High Scope”  Rubben cukup mendapat penanganan yang memadai. Pihak sekolah sangat terlibat pada hal-hal yang berkaitan dengan perkembangannya. Sebagai contoh, Rubben memiliki sifat “sangat ramah”. Ia akan menyapa sebagian besar  individu yang ada disekolah. Tidak memilih, apakah ia guru, teman, kakak kelas, hingga petugas kebersihan dihari-hari awal sekolahnya. Ah… ditambah pula dengan cara berbicara dan sikapnya yang polos.., ia akan terus terang pada tampilan fisik yang dilihatnya. Misalnya jika a bertemu dengan seseorang yang punya masalah dikulit muka (berjerawat). Spontan ia akan menyapa plus membelai wajah orang tersebut, dan menanyakan apa yang terjadi dengan wajahnya. (hiii hiii hiii tipikal autis) Awalnya ini akan menjadi hal yang lucu.. tetapi berkat kerjasama yang baik (percaya tidak bu Ani mengatakan untuk hal ini sekolah bersedia melakukan rapat yang melibatkan seluruh bagian sekolah, hanya agar semuanya dapat terlibat dan melakukan satu kata untuk menanggulanginya) dicapai kesepakatan, setiap hari Rubben hanya boleh menyapa 3 orang dan menyampaikan komentarnya dengan bahasa yang santun + suara berbisik.

OOOOO…. nice.. menyentuhku hingga kelubuk hati…

Demikian juga dengan hal-hal yang lain.. Ibu Ani dengan guru-guru Rubben sangat dekat hubungannya. Ya.. mereka kompak dalam satu team. Sama-sama mau berjuang untuk menjadi bagian dari perkembangan Rubben.

Ok.. Jika diperkenankan.. saya ingin menyimpulkan bahwa Peranan Sekolah pada anak-anak Autistik, selain mempunyai kewajiban sebagai tempat mendidik, juga sebaiknya memfasilitasi situasi sekolah menjadi tempat yang nyaman dan hangat dengan melibatkan semua bagian dari sekolah. (Tidak ada anak yang mengejeknya, karena sang guru dapat memberikan pemahaman tentang sangat berbedanya masing-masing indvidu, dimana perbedaan itu bukanlah untuk diejek, tetapi disyukuri dan diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, Guru tidak memperlakukan anak dengan diskriminasi, Menghargai anak sebagai invidu utuh dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dsb)

Dari Kerjasama ini, sekolah dapat mengambil bagian dalam :

* Melakukan pertemuan berkala, antara guru kelas, terapis diluar sekolah, psikolog dan orang tua.

* Melakukan komunikasi yang intens diantara orang tua dan guru, baik ketika sedang menemui masalah ataupun tidak.

* Menjadi pengganti orang tua ketika anak sedang berada disekolah. Memperlakukan anak sama dengan anak-anak yang lain.  Tidak akan ada diskriminasi pada anak.

* Berusaha menyamakan cara-cara penanganan tingkah laku bermasalah di sekolah dengan cara penanganan di rumah.

* Mengembangkan minat dan hobi agar anak memiliki kegiatan yang menyenangkan.

* Lebih banyak menggunakan pendekatan positif daripada pemberian hukuman

* Membantu memberikan transisi yang jelas antara satu tugas atau mata pelajaran dengan tugas atau mata pelajaran yang selanjutnya.

* Berusaha melakukan pendekatan invididu. Baik oleh guru kelas maupun guru pendamping.

* Dalam pembahasan-pembahasannya, dalam pertemuan berkala, sebaiknya dilakukan keseimbangan ketika membicarakan masalah dan kemajuan yang dicapai.

* Berusaha menerima informasi orang tua tentang anak, misalnya tentang setting belajar.  (misalnya sifatnya anak yang bereaksi negatif dengan anak-anak yang bercirikan tertentu, sebaiknya dijadikan acuan dalam memilih teman sebangku)

* Bersedia menerima kritikan dan mau melakukan adaptasi untuk mencapai ke. majuan bagi sang anak.

* Berusaha mencari sisi-sisi postif dari orang tua, untuk dikembangkan dalam kerjasama ini.

Jika point-point diatas dapat dikompromikan dengan baik.. Mudah-mudahan akan dapat dilakukan kerjasama yang baik antara orang tua dan sekolah, Dicapai kemajuan yang memadai (atau bahkan dapat pesat yaaa) dari sang anak yang autistik.

Ohhh yaaa.. yang paling penting dan teramat penting adalah.. “setelah melakukan maksimal, sebaiknya orang tua ataupun sekolah melakukan banyak introspeksi dan mau menahan diri ketika menanti hasil dari sebuah kerjasama ini, Semaksimal mungkin hingga sampai pada

Related Posts with Thumbnails

Comments

4 Responses to “Seminar Mandiga 3”
  1. achoey says:

    Saya turut belajar Bunda

    Alhamdulillah.. semoga bermanfaat…

  2. achoey says:

    Bunda, ada klasifikasi blogger di blogku tuh :)

    Ho ho… iya.. saya juga udah mencoba memilih tipeku… jazakallahu ya…

  3. widyaharningtyas says:

    makasih infonya bunda

    Kembali kasih… barakallahu

  4. motercalo says:

    Have you got more news like that ?

Trackbacks

Leave a Reply