Surat Untuk Anak-anakku

March 29, 2008 by: yanti

“Anak-anakku… Cahaya orang tua…”

Pagi tadi, ketika kita semua duduk dan sarapan (minus ayah, suami tercinta yang sedang bertugas…. ) Ibu “baru melihat”… You are grown up. Si Sulung…, sudah demikian dewasa, dengan jilbab putih, engkau tampak ayu dan “bermartabat” sebagai muslimah. Abang… mulai nampak “gurat ketegasan” diwajahmu. Sikecil aini… juga sudah mandiri dengan dapat mengungkapkan apa yang ingin kau makan, dan rapih… makan sendiri.

Ada haru…, kalian sudah mulai “menapak” hidup kalian masing-masing. ibu jadi “sadar”… akan ada masanya kalian akan “lepas” dan “bertanggung jawab” sendiri tidak lagi bergantung pada kami, ibu dan bapakmu.

Sayangku… ibu minta maaf, ibu merasa ibu masih kurang dapat mendidikmu dengan baik, seharusnya kalian bisa mendapatkan lebih baik dari apa yang sudah ibu berikan pada kalian selama ini.

Ibu tidak punya pendidikan agama yang cukup, ibu tidak punya kepekaan yang tinggi sebagi ibu, ibu tidak punya cukup tenaga untuk selalu melindungimu dari dampak negatif derasnya “globalisasi”. Ibu banyak melarangmu melakukan hal-hal yang “lumrah” untuk anak-anak seusiamu.. (misalnya main PS tiap hari, ngobrol ngalor-ngidul berjam-jam, dsb), Ibu banyak “memaksamu” misalnya… kursus bahasa Inggris, mengaji… dsbnya yang tidak begitu menarik bagimu. Seringkali dihujan yang sangat deras…, ibu tetap memaksamu, mengantarmu naik motor ketempat les. (sungguh saat itu, ibu juga “nelangsa” karena ibu tahu kita semua diatas motor kedinginan) , membangunkanmu dan mengajakmu sholat tahajud diwaktu malam, padahal saat itu engkau pasti ngantuk berat…. Maafkan sayang- maafkan ibumu ini.

Ibu berharap engkau ikhlas,… dan memaafkan ibu.. Ibu berharap dan berdoa apa-apa yang telah engkau lalui dengan keterpaksaan itu, akan menjadi pintu kebaikan dimasa depan, duniamu dan akhiratmu.

Anak-anakku sayang… ibu juga memohon pada Allah agar kalian akan terus melangkah… men”jadikan perjuangan dan penderitaan” sebagai bagian dari upaya kita meraih “Insan Kamil”. Jangan pernah menyerah pada apapun anakku. Allah tidak akan pernah lengah walau sepermilyard detik, mengawasi hamba-hambaNYA. Dan Allah akan melihat setiap proses dari perjuangan kita, tidak hanya hasil akhirnya {(kata para ustadz) apa-apa yang diperjuangkan dengan susah payah dan istiqomah punya “nilai lebih”}

Siang malam ibu mendoakan kebaikan kalian. Ya… sayang… Maafkan ibu….

Related Posts with Thumbnails
Filed under: Curhat
Tags:

Comments

7 Responses to “Surat Untuk Anak-anakku”
  1. syahbal says:

    assalamualaikum,wr,wb..
    wallahi ibu adalah sosok yg paling saya cintai..
    salam kenal.. salam jg untk keluarga..

  2. asa says:

    Subhanallah… Anda benar2 Ibu yang baik…
    Jadi terharu membaca tulisan ini.. teringat akan bapak dan ibu saya di rumah dan InsyaAllah makin meningkatkan semangat diri untuk memberikan yan terbaik begi mereka

    Hoya.. terimakasih telah singgah di blog saya,,
    Salam kenal :)

  3. yanti says:

    Alhamdulillah… Sungguh yang baik hanya milik Allah semata…
    Pada saat jauh…, manis yang terlihat
    saat dekat… sebel melulu…

    Saya berharap suatu saat nanti anak-anakkupun akan seperti ananda… mengerti kenapa ibunya begitu.. “maksa”

    Iya… mari kita jaga silhaturahmi ini… ya…
    pasti nikmat bila… ada teman seperjalanan…
    apalagi kalau muda seperti anda.., bisa “nuntun” yang uzur seperti saya… ha ha ha ha

    Lain kali mampir lagi ya…..

  4. asa says:

    Hmm.. sepertinya kebalik,, justru saya yang harus banyak belajar dari Anda.. hhehe

    Bolehkah Blog Bunda saya add link di blog saya,, nampaknya saya perlu rutin baca blog Anda..(ckckck) inspiratif dan juga banyak gambaran yg didapatkan.. sebagai bekal untuk suatu saat nanti bila saya sudah berkeluarga..

    Alhamdulillah… terima kasih… saya juga lagi nyoba untuk naruh link2 di blogroll… (kayaknya masih ada perbaikan ya… jadi wiget yang satu itu… gak mau ditulisin lagi….) Eh… tapi saya titip pesannya, yang “keluar jalur” jangan diikutin ya….. dan pls ingatkan saya…

  5. yudhistira31 says:

    mbak..aku link juga web-nya..terima kasih

    Alhamdulillah… Jazakallahu kh kn..
    Aduh saya jadi ngerasa bersalah ni… gak bisa gantian nge-link…
    Tolong dong.. pak WP…

  6. yudhistira31 says:

    mbak, bagi cerita tentang anak-anak yang lain, bagaimana mbak menyikapinya…karna aku pernah nonton di oprah, lebih susah anak yang punya saudara autis, drpd jadi ibu anak autis

    Hmmm masalahnya di”penerima-an” kali ya…
    saya biasakan sejak kecil anak-anak memahami konteks… Mereka bertiga adalah bersaudara.. sehingga sebagai saudara.. punya tanggungjawab terhadap saudara yang lain.. baik itu untuk “berbagi” dalam hal apapun juga… untuk saling menjaga, dan tolong menolong.. (dengan tidak membedakan usia dan status kakak atau adik… semampunya masing-masing)

    Ya.. namanya juga anak-anak… ada masanya… mereka kecewa, menuntut perhatian lebih besar untuk dirinya… gak mau ngalah… gak mau dimintai tolong… dsbnya.. Tapi ada masanya… mereka seperti malaikat-malaikat yang hanya diciptakan Allah untuk saling mencintai…

    Nanti ya… saya bikin-in postingan untuk itu… Insya Allah

    So far so good. Semakin mereka besar… mereka makin tahu arti saudara.

  7. desmeli says:

    Bunda saya memang belum menikah dan punya anak…tapi saya senang membaca bacaan tentang ibu dan anak…dimana saya dapat belajar dari pengalaman orang lain yang mudah-mudahan berguna buat saya kelak :D

    bunda beberapa waktu yang lalu saya mendengar ceramah yang disampaikan oleh Ibu Hj. Neno Warisman, beliau bilang buatlah anak terlibat dan terikat, maksudnya terlibat tubuhnya dan terikat hatinya..kesimpulannya yang saya dapat adalah jika kita menyuruh anak melakukan sesuatu buatlah ia senang terlebih dahulu kepada apa yang akan dikerjakannya…jadi Insya Allah lain waktu tanpa di suruhpun ia akan mengerjakannya.

Trackbacks

Leave a Reply